ARASVARA.ID - Pasar komoditas global diwarnai oleh tekanan berat yang menghantam dua produk andalan ekspor Indonesia, yakni minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan batu bara.
Adapun, kondisi lesunya harga pasar internasional ini langsung memicu perhatian para pelaku industri serta investor domestik yang memantau pergerakan bursa komoditas. Berbagai faktor eksternal mulai dari pelemahan minyak nabati pesaing hingga dinamika permintaan dari negara importir utama menjadi pemicu utama koreksi tersebut.
Lantas, berikut menguraikan rincian kejatuhan harga CPO, kemerosotan batu bara Newcastle, perubahan regulasi ekspor nasional, hingga proyeksi pergerakan pasar untuk pekan depan.
Kejatuhan Harga CPO Malaysia Catat Penurunan Terdalam Mingguan
Komoditas minyak kelapa sawit mentah (CPO) mengalami tekanan bertubi-tubi sepanjang pekan tanpa mencatatkan satu hari pun di zona hijau. Harga kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Januari 2027 di Bursa Malaysia Derivatives ditutup melemah ke level 4.258 ringgit per ton pada Jumat (6/11/2026).
Angka tersebut menunjukkan anjlok sebesar 423 ringgit atau merosot 9,04 persen dibandingkan penutupan pekan sebelumnya yang berada di posisi 4.681 ringgit per ton. Menurut catatan pasar, persentase koreksi mingguan ini merupakan penurunan terdalam yang dialami CPO dalam kurun waktu hampir dua tahun terakhir.
Pelemahan harga secara beruntun ini membawa posisi penutupan CPO ke level terendahnya sejak awal bulan Maret 2026, sekaligus menandai penurunan mingguan yang terjadi selama dua kali berturut-turut.
Sentimen Negatif Minyak Kedelai Dan Minyak Mentah Global
Tekanan berat pada pasar CPO terutama dipicu oleh penurunan harga minyak nabati pesaing utama di bursa internasional, yaitu minyak kedelai. Kontrak minyak kedelai di Bursa Dalian China dilaporkan melemah 1,41 persen, sementara minyak sawit Dalian terkoreksi 2,41 persen.
Selain itu, pelemahan harga minyak mentah dunia akibat meredanya ketegangan geopolitik turut mengurangi daya tarik CPO sebagai bahan baku alternatif untuk produk biodiesel. Sentimen negatif dari produk substitusi ini mempercepat aksi jual di kalangan para pelaku pasar global.
Meskipun nilai tukar ringgit Malaysia sempat melemah 0,3 persen terhadap dolar AS yang biasanya menguntungkan pembeli asing, insentif tersebut belum cukup kuat untuk menahan gelombang tekanan jual.
Rincian Pergerakan Harian CPO Sepanjang Pekan Perdagangan
Awal pekan perdagangan pada Senin (2/11/2026) langsung dibuka dengan pelemahan harga CPO sebesar 0,68 persen ke posisi 4.649 ringgit per ton. Tren negatif berlanjut tajam ketika harga terperosok 2,11 persen menjadi 4.551 ringgit pada keesokan harinya.
Memasuki pertengahan pekan, tekanan jual belum mereda dengan koreksi lanjutan sebesar 1,21 persen ke level 4.496 ringgit pada Rabu, kemudian ambruk lagi 2,65 persen menjadi 4.377 ringgit pada hari Kamis. Puncak pelemahan terjadi pada Jumat dengan kejatuhan 2,72 persen.
