ARASVARA.ID - Pada hari Kamis, 29 Oktober 2026, lantai bursa saham nasional kembali dikejutkan oleh gelombang koreksi tajam yang menghantam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang sesi perdagangan.
Indeks utama bursa domestik tersebut terpaksa ditutup amblas di level 5.098,06 atau merosot sedalam 184,26 poin yang merepresentasikan persentase penurunan sebesar 3,49%.
Adapun, pelemahan drastis ini langsung menyeret posisi nilai indeks menembus batas psikologis penting di bawah level 5.100 yang memicu kekhawatiran luas di kalangan investor. Tekanan jual yang masif sejak awal sesi pagi membuat mayoritas saham berkapitalisasi besar tidak mampu bertahan di zona hijau.
Rangkaian berikut mengupas tuntas rincian data koreksi bursa, saham-saham pemberat indeks, faktor sentimen global, hingga ancaman risiko margin call yang membayangi para pelaku pasar.
Rincian Pergerakan Sesi Perdagangan dan Data Statistik Penutupan IHSG
Melansir dari Bursa Efek Indonesia, pergerakan indeks pada hari pencatatan tersebut sempat membuka harapan sesaat ketika bergerak naik tipis ke posisi 5.305,20 dan menyentuh kisaran 5.320 pada awal perdagangan pagi. Namun, kekuatan beli tersebut hanya bertahan sangat singkat sebelum akhirnya digerus oleh gelombang aksi jual masif sebelum pukul 10.00 WIB.
Memasuki sesi perdagangan siang hingga sore hari, IHSG terus tertekan bergerak di rentang sempit antara level 5.125 hingga 5.175 tanpa mampu melakukan pemulihan berarti. Sempat mencoba melakukan aksi rebound kecil ke area 5.120 menjelang bel penutupan, indeks kembali jatuh dan mengakhiri hari di dekat titik terendah.
Total volume transaksi harian bursa tercatat mencapai 217,69 juta lot saham dengan membukukan nilai transaksi keseluruhan sebesar Rp10,13 triliun. Angka likuiditas yang cukup besar ini mencerminkan tingginya tingkat kepanikan pasar dalam melepas kepemilikan aset ekuitas mereka.
IHSG ditutup amblas 3,49% (turun 184,26 poin) ke level 5.098,06 pada penutupan perdagangan.
Volume transaksi harian bursa mencapai 217,69 juta lot dengan nilai transaksi sebesar Rp10,13 triliun.
Indeks sempat menyentuh level tertinggi di 5.305 sebelum akhirnya terhempas ke zona merah.
Sektor Industri Utama Penekan Laju Pergerakan Indeks Saham
Selanjutnya, koreksi tajam yang dialami IHSG merata di hampir seluruh lini sektor industri utama yang tercatat di papan perdagangan Bursa Efek Indonesia. Sektor infrastruktur utilitas (utilities) menjadi pencatat pelemahan paling parah dengan kejatuhan mencapai 5,99 persen sepanjang hari perdagangan.
Tekanan jual masif juga menghantam sektor jasa pendidikan yang terkoreksi sedalam 4,60 persen, disusul oleh pelemahan sektor bahan baku dasar (basic materials) sebesar 4,02 persen. Luasnya cakupan penurunan sektor ini menunjukkan aksi pelepasan portofolio terjadi tanpa pandang bulu.
Hampir tidak ada sektor defensif yang mampu bertahan menahan terjangan arus negatif pasar pada hari tersebut. Kondisi ini memperlihatkan rapuhnya struktur pertahanan indeks di tengah gelombang sentimen negatif yang datang secara bersamaan.
Sektor utilitas memimpin barisan pelemahan dengan persentase kejatuhan mencapai 5,99%.
Sektor jasa pendidikan mengalami koreksi tajam sebesar 4,60% di papan perdagangan.
Sektor bahan baku dasar turut terperosok turun sedalam 4,02% akibat tekanan jual meluas.
Deretan Saham Big Banks dan Unggulan yang Menjadi Pemberat Utama
Selain itu, kejatuhan indeks bursa secara signifikan disumbang oleh ambruknya harga saham-saham berkapitalisasi pasar raksasa (blue chips), terutama dari sektor perbankan. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi sorotan utama setelah harganya anjlok parah hingga 6,35 persen ke level Rp4.940 per saham dengan nilai kapitalisasi pasar tersisa Rp602,8 triliun.
