ARASVARA.ID - Pada hari Selasa, 27 Oktober 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat hingga ditutup merosot tajam di zona merah.
Pergerakan bursa saham domestik terjerembap akibat aksi pelepasan portofolio saham berkapitalisasi besar secara masif oleh para pelaku pasar.
Pelemahan indeks mulai terakselerasi signifikan pada sesi perdagangan siang hari, hingga menembus level psikologis terendah barunya. Kondisi ketidakpastian bursa dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal global serta kekhawatiran domestik terkait evaluasi peringkat pasar modal Indonesia.
Laporan berikut menghadirkan rincian data penutupan perdagangan bursa, pergerakan indeks sektoral, volume transaksi harian, hingga analisis teperinci mengenai faktor penyebab kejatuhan pasar saham.
Rincian Penutupan IHSG dan Volume Transaksi Bursa
melansir dari Bursa Efek indonesia, pada penutupan perdagangan sesi II, IHSG tercatat terkoreksi tajam dan parkir di level 5.266, atau ambles hingga rentang 3,45 persen (turun 175,1 poin ke titik terendah harian di 5.182). Penurunan drastis mulai terjadi sejak pukul 14.00 WIB, saat indeks terdorong jatuh dari kisaran 5.350 ke bawah area 5.200.
Aktivitas perdagangan bursa harian membukukan total volume transaksi yang mencapai 364,38 juta lot saham. Adapun nilai transaksi keseluruhan yang dibukukan oleh para pelaku pasar menembus angka Rp17.950,1 miliar atau setara Rp17,95 triliun.
IHSG ditutup melemah tajam ke level 5.266 hingga menyentuh titik terendah harian di 5.182 (anjlok 3,45 persen atau 175,1 poin).
Penurunan tajam terakselerasi dalam kurun waktu satu jam dari area 5.350 ke bawah level 5.200 pada pukul 14.00 WIB.
Total volume transaksi bursa mencapai 364,38 juta lot dengan akumulasi nilai transaksi sebesar Rp17,95 triliun.
Pelemahan Masif Indeks Sektoral Utama di Bursa Saham
Selanjutnya, aksi jual yang melanda lantai bursa menyeret hampir seluruh sektor saham ke zona merah tanpa terkecuali. Sektor infrastruktur menjadi penyumbang koreksi paling parah setelah tercatat anjlok sebesar 6 persen hingga akhir sesi.
Selain infrastruktur, sektor material dasar turut terperosok dengan penurunan sebesar 3,5 persen, disusul sektor teknologi yang melemah 2,9 persen. Sektor energi serta jajaran saham berkapiitalisasi besar (big cap) ikut tertekan hingga merosot sekitar 3 persen.
Sektor infrastruktur memimpin kejatuhan bursa saham dengan koreksi tajam mencapai 6 persen.
Sektor material dasar terkoreksi 3,5 persen, sementara sektor teknologi mencatatkan penurunan sebesar 2,9 persen.
Sektor energi beserta jajaran saham berkapitalisasi pasar besar tertekan hingga ambles mendekati 3 persen.
Kenaikan Imbal Hasil Obligasi dan Pelemahan Nilai Tukar Rupiah
Adapun, tekanan terhadap instrumen pasar saham domestik berjalan beriringan dengan lonjakan imbal hasil (yield) surat utang negara. Yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun tercatat melesat ke level 7,52 persen, yang merupakan titik tertinggi sejak November 2022.
Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah bergerak melemah secara signifikan hingga mendekati rekor terendahnya, dengan jarak hanya tersisa sekitar 0,2 persen. Kenaikan harga minyak dunia turut memperbesar kekhawatiran atas membengkaknya beban subsidi energi dan postur anggaran fiskal.
Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun melesat ke level 7,52 persen (tertinggi sejak November 2026).
Nilai tukar rupiah tertekan mendekati rekor terendah dengan selisih jarak hanya tersisa 0,2 persen.
Kenaikan harga minyak dunia memicu kecemasan pasar terhadap pembengkakan subsidi energi nasional.
Kekhawatiran Isu Evaluasi Status MSCI untuk Pasar Saham Indonesia
Analis Senior Market Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, serta riset Indo Premier Sekuritas (IPOT) mengulas faktor pendorong kejatuhan bursa. Salah satu pemicu utama psikologis investor adalah kekhawatiran atas ancaman MSCI yang berpotensi menurunkan status pasar saham Indonesia menjadi Standalone Market.
