Rupiah Hari Ini Kembali Melemah ke Level Rp18.166 per US Dolar, Faktor Tekanan Global dan Geoplitik

Ilustrasi Rupiah melemah terhadap US Dolar ke level Rp18.166 per US Dolar, faktor sentimen global dan geopolitik.

Ilustrasi Rupiah melemah terhadap US Dolar ke level Rp18.166 per US Dolar, faktor sentimen global dan geopolitik.(Pinterest/akalisat)

FA

By Fadliansyah

Publish: 4 November 2026 - 19:35 WIB
Share:

ARASVAR.ID - Pada hari Rabu, 4 November 2026, pergerakan nilai tukar rupiah kembali mencatatkan hasil negatif setelah gagal mempertahankan momentum penguatan yang sempat terjadi sehari sebelumnya.

Rupiah terhadap US Dolar harus rela ditutup melemah di hadapan dolar Amerika Serikat akibat hantaman sentimen eksternal yang cukup masif.

Meskipun indeks dolar AS atau DXY di pasar global sempat terpantau mengalami pelemahan sebesar 0,45% ke posisi 101,405, kondisi tersebut ternyata belum cukup ampuh untuk menyelamatkan posisi rupiah. Pelaku pasar masih menunjukkan sikap ekstra hati-hati terhadap aset-aset di negara berkembang.

Lantas, berikut menguraikan posisi penutupan harian rupiah, kisaran perdagangan valas, faktor penyebab pelemahan dari otoritas moneter, hingga data ekonomi global yang sedang disorot investor.

Posisi Penutupan Akhir Perdagangan dan Kisaran Pergerakan Harian

Berdasarkan data resmi Refinitiv pada perdagangan hari ini, rupiah ditutup melemah pada level Rp18.155 per dolar AS, terkoreksi 0,11 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya di posisi Rp18.135 per dolar AS. Sejumlah sumber pasar bahkan mencatat posisi pelemahan menyentuh kisaran angka Rp18.166 per USD.

Sepanjang sesi perdagangan harian berlangsung, rupiah aktif bergerak di dalam rentang area yang cukup ketat, yakni pada level terendah Rp18.100 hingga level tertinggi mencapai Rp18.180 per dolar AS. Fluktuasi ini memperlihatkan tingginya tekanan jual yang membayangi mata uang domestik.

Ketidakmampuan rupiah untuk memanfaatkan momen koreksi indeks dolar global menunjukkan bahwa sentimen domestik dan regional masih memegang kendali kuat atas pergerakan pasar valuta asing di tanah air saat ini.

Pandangan Bank Indonesia Terkait Faktor Eksternal Pelemahan Rupiah

Otoritas moneter melalui Bank Indonesia memberikan perhatian serius terhadap tren depresiasi nilai tukar rupiah yang terus berlanjut sejak awal bulan Oktober 2026. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa tekanan ini murni didorong oleh faktor-faktor luar negeri yang sulit dihindari.

Tekanan utama bersumber dari eskalasi konflik geopolitik yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah serta kebijakan pengetatan suku bunga lanjutan oleh bank sentral Amerika Serikat. Sentimen global tersebut membuat investor cenderung menghindari kepemilikan aset berisiko di negara berkembang.

Sebagai catatan, rupiah sebenarnya sempat mencatatkan performa gemilang dengan menguat hingga kisaran level Rp17.800 per USD pada akhir September 2026, sebelum akhirnya kembali tertekan hebat memasuki kuartal keempat tahun ini.

Sentimen Pemilu Sela Amerika Serikat dan Sentimen Investor Global

Dinamika politik global turut memberikan kontribusi besar terhadap ketidakpastian pasar keuangan domestik, terutama dengan digelarnya pemilu sela (midterm elections) di Amerika Serikat. Hasil perolehan suara tersebut memicu kekhawatiran terkait arah kebijakan fiskal negeri Paman Sam ke depan.

Page 1 of 2

Berita Terkait

Berita Terpopuler

Memuat...

Berita Terupdate

Memuat berita terbaru…