Waspada Inflasi Pangan dan Pelemahan Rupiah Bikin Kantong Makin Tertekan

Ilustrasi inflasi pangan, bahan bakar dan nilai tukar mata uang yang terjadi berdampak ke biaya hidup.

Ilustrasi inflasi pangan, bahan bakar dan nilai tukar mata uang yang terjadi berdampak ke biaya hidup.(Pinterest/WebPro)

FA

By Fadliansyah

Publish: 4 November 2026 - 17:16 WIB
Share:

ARASVARA.ID - Badan Pusat Statistik (BPS) secara resmi merilis data perkembangan Indeks Harga Konsumen domestik. Adapun, hasil pencatatan menunjukkan bahwa laju kenaikan harga pada periode Oktober 2026 memang mengalami perlambatan secara bulanan, tetapi indikator tahunannya masih merangkak naik secara signifikan.

Meskipun angka bulanan memperlihatkan penurunan dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu, akumulasi tekanan harga sepanjang tahun berjalan masih mencatatkan angka yang terbilang cukup tinggi. Penurunan melambat secara bulanan ini belum sepenuhnya menjamin bahwa beban biaya hidup masyarakat telah benar-benar mereda secara menyeluruh.

Lantas, berikut menguraikan struktur inflasi nasional, lonjakan harga bahan makanan dan energi, ancaman fenomena iklim, hingga efek depresiasi nilai tukar rupiah terhadap potensi kenaikan suku bunga acuan.

Laju Inflasi Bulanan dan Tahunan Berjalan

Badan Pusat Statistik mengumumkan inflasi periode Oktober berada di level 0,22 persen secara bulanan, lebih rendah jika dibandingkan dengan capaian sebesar 0,28 persen pada Oktober 2025. Angka tersebut mencerminkan adanya penurunan laju kenaikan harga barang dan jasa pada tingkat konsumen dalam jangka pendek.

Namun secara tahunan, tingkat inflasi nasional melesat ke posisi 3,23 persen, berbanding terbalik dengan capaian Oktober 2025 yang berada di angka 2,86 persen Di samping itu, laju inflasi tahun berjalan sepanjang periode Januari hingga Oktober 2026 telah menyentuh level 2,4 persen, melampaui posisi periode sama tahun lalu sebesar 2,1 persen.

Meskipun angka pergerakan bulanan relatif lebih rendah daripada proyeksi konsensus ekonom, tingginya inflasi tahunan menegaskan bahwa eskalasi harga komoditas utama masih membebani daya beli masyarakat.

  • Inflasi bulanan Oktober tercatat sebesar 0,22 persen, melambat dari posisi 0,28 persen pada periode sama tahun lalu.

  • Inflasi tahunan meningkat dari 2,86 persen pada Oktober 2025 menjadi 3,23 persen pada Oktober 2026.

  • Laju inflasi tahun berjalan periode Januari hingga Oktober menyentuh angka 2,4 persen, naik dari 2,1 persen di tahun lalu.

Dominasi Sektor Makanan Dan Transportasi Terhadap Inflasi

Sektor makanan, minuman, dan tembakau serta transportasi menjadi penyumbang terbesar terhadap angka inflasi nasional. Kelompok pengeluaran makanan mencatatkan inflasi tahunan mencapai 4,82% dengan memberikan kontribusi sebesar 1,4 poin persentase terhadap total inflasi.

Sementara itu, kelompok transportasi mengalami kenaikan harga tahunan sebesar 4,87 persen dengan sumbangan kontribusi mencapai 0,59 poin persentase. Gabungan kedua kelompok ini menguasai sekitar 61,3 persen dari keseluruhan total inflasi tahunan di tanah air.

Di dalam komponen pangan, kenaikan harga cabai rawit menyumbang kontribusi 0,24 poin persentase, diikuti komoditas ikan segar sebesar 0,2 poin persentase, beras sebesar 0,17 poin persentase, serta minyak goreng sebesar 0,12 poin persentase.

  • Kelompok makanan mencatat inflasi 4,82 persen tahunan dengan sumbangan 1,4 poin persentase ke inflasi nasional.

  • Sektor transportasi mengalami inflasi 4,87 persen tahunan dengan kontribusi sebesar 0,59 poin persentase.

  • Kombinasi makanan dan transportasi menyumbang 61,3 persen terhadap total capaian inflasi tahunan.

Proyeksi Risiko Iklim El Nino Dan Program Makan Bergizi Gratis

Ekonom PT Bank Permata Tbk, Faisal Rahman, menilai tekanan pada komponen harga bergejolak masih tinggi akibat permintaan pangan yang kuat. Peningkatan permintaan ini salah satunya didorong oleh implementasi program Makan Bergizi Gratis yang berjalan secara intensif.

Risiko lonjakan harga bahan baku pangan diperkirakan semakin membesar apabila fenomena iklim El Nino kuat melanda hingga semester I-2027. Tanpa adanya intervensi pasokan dari pemerintah, inflasi pangan diproyeksikan bisa melonjak sebesar 4,38 poin persentase.

Namun jika fenomena El Nino yang terjadi berkategori moderat, kenaikan inflasi pangan diperkirakan berada di kisaran 2,88 poin persentase. Pemerintah dituntut menjaga rantai distribusi pasokan daerah agar ketersediaan barang tetap stabil.

  • Permintaan pangan diprediksi tetap tinggi didorong oleh pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis.

  • Skenario El Nino kuat berpotensi memicu lonjakan inflasi pangan hingga sebesar 4,38 poin persentase.

  • Skenario El Nino moderat diperkirakan menambah laju kenaikan inflasi pangan sebesar 2,88 poin persentase.

Efek Domino Kenaikan Bahan Bakar Dan Sektor Transportasi

Sektor transportasi menjadi sumber tekanan baru yang sangat perlu diwaspadai karena memiliki efek rambatan langsung pada biaya logistik barang. Kenaikan inflasi transportasi ini didorong oleh lonjakan harga bensin yang berkontribusi sebesar 0,31 poin persentase.

Komponen pendukung lain yang ikut mengerek angka inflasi transportasi adalah kenaikan tarif angkutan udara dengan kontribusi 0,1 poin persentase. Meskipun pemerintah menahan transmisi kenaikan harga minyak dunia lewat skema subsidi, penyesuaian harga bensin non-subsidi tetap berdampak.

Kenaikan harga bahan bakar jenis Pertamax berisiko melipatgandakan pengeluaran harian rumah tangga sekaligus meningkatkan biaya operasional dunia usaha secara agregat.

  • Penyesuaian harga bensin memberikan sumbangan kontribusi sebesar 0,31 poin persentase terhadap inflasi.

  • Kenaikan tarif angkutan udara memberikan tambahan kontribusi sebesar 0,1 poin persentase pada inflasi.

  • Efek rambatan biaya bensin berpotensi meningkatkan beban logistik serta operasional dunia usaha.

Potensi Kenaikan Bensin Bersubsidi Dan Beban Anggaran Negara

Jika harga minyak mentah dunia terus melambung tinggi, kemampuan fiskal Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dalam menahan guncangan energi global akan semakin terbatas. Pemerintah diperkirakan tetap berupaya mempertahankan harga subsidi hingga akhir tahun dengan proyeksi inflasi 3,13 persen.

Namun jika benteng fiskal tidak lagi sanggup menanggung beban subsidi, penyesuaian harga bensin bersubsidi menjadi pilihan yang tak terhindarkan. Setiap kenaikan harga bensin bersubsidi sebesar 10 persen diprediksi dapat menambah kenaikan inflasi nasional sebesar 0,73 poin persentase.

Proyeksi dampak tersebut terdiri atas dampak langsung sebesar 0,39 poin persentase serta dampak lanjutan atau efek putaran kedua sebesar 0,34 poin persentase.

  • Inflasi akhir tahun diproyeksikan berada di posisi 3,13 persen jika pemerintah mempertahankan skema subsidi.

  • Setiap kenaikan 10 persen harga bensin bersubsidi berpotensi menambah inflasi nasional sebesar 0,73 poin persentase.

  • Dampak kenaikan terdiri dari efek langsung 0,39 poin persentase dan efek lanjutan 0,34 poin persentase.

Depresiasi Nilai Tukar Rupiah Dan Tekanan Inflasi Impor

Ancaman inflasi impor kian nyata seiring berlangsungnya tekanan depresiasi nilai tukar rupiah secara terus-menerus terhadap dolar AS. Sepanjang bulan Oktober saja, mata uang rupiah tercatat telah mengalami pelemahan sebesar 1,54 persen.

Jika dihitung sepanjang tahun berjalan, rupiah berstatus sebagai mata uang dengan kinerja terlemah di kawasan Asia akibat terdepresiasi hingga 8,07 persen. Pelemahan ini mengerek biaya impor bahan baku pabrik serta barang konsumsi dari luar negeri.

Kenaikan biaya produksi tersebut secara bertahap akan diteruskan kepada konsumen akhir, yang pada akhirnya memperkuat tekanan inflasi inti di dalam negeri.

  • Nilai tukar rupiah terdepresiasi sebesar 1,54 persen sepanjang rentang waktu bulan Oktober.

  • Kinerja rupiah sepanjang tahun berjalan melemah 8,07 persen, menjadi yang terlemah di kawasan Asia.

  • Pelemahan mata uang memicu imported inflation yang berisiko diteruskan pada kenaikan harga konsumen.

Proyeksi Kebijakan Suku Bunga Acuan Bank Indonesia

Melihat tingginya kombinasi risiko dari inflasi pangan, gejolak harga energi, serta depresiasi rupiah, otoritas moneter dituntut mengambil langkah penyesuaian. Kebijakan ketat diperlukan untuk menjaga stabilitas arus modal dan mencegah ekspektasi inflasi liar.

Bank Indonesia diperkirakan akan merespons situasi ekonomi ini dengan menaikkan suku bunga acuan BI Rate pada rapat kebijakan bulan November. Suku bunga acuan diproyeksikan bakal dikerek setidaknya sebesar 25 basis poin hingga menyentuh level 6 persen.

Langkah ini diharapkan mampu menahan laju pelemahan nilai tukar rupiah sekaligus meredam potensi transmisi lanjutan dari inflasi impor dan pangan.

  • Bank Indonesia diproyeksikan akan menaikkan suku bunga acuan BI Rate pada rapat bulan November.

  • Besaran kenaikan suku bunga acuan diprediksi sebesar 25 basis poin hingga mencapai level 6 persen.

  • Pengetatan moneter bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar serta menekan transmisi inflasi lanjutan.

Berita Terkait

Berita Terpopuler

Memuat...

Berita Terupdate

Memuat berita terbaru…