ARASVARA.ID - Istilah avoidant attachment belakangan ini sering muncul dalam pembahasan hubungan asmara di berbagai platform media sosial.
Avoidant attachment adalah pola kelekatan yang ditandai dengan kecenderungan seseorang menjaga jarak dan membatasi kedekatan emosional dalam hubungan.
Namun, apa sebenarnya arti dari avoidant attachment, istilah yang populer di kalangan Gen Z, dan bagaimana ciri-cirinya? Berikut rangkumannya.
Apa Itu Avoidant Attachment
Dalam psikologi, avoidant attachment termasuk pola kelekatan tidak aman (insecure attachment) yang dapat memengaruhi cara seseorang membangun hubungan dan merepons kebutuhan emosional.
Orang dengan kecenderungan ini umumnya merasa nyaman mempertahankan kemandirian mereka dan merasa tidak nyaman ketika hubungan membutuhkan keterbukaan emosional.
Gaya keterikatan ini dapat dipengaruhi oleh berbagai pengalaman, termasuk hubungan dengan pengasuh di masa kanak-kanak dan pengalaman hubungan di masa dewasa.
Ciri-Ciri Avoidant Attachment
Perilaku yang dapat terjadi pada orang yang memiliki kondisi emosional dengan ciri-ciri di atas atau kecenderungan avoidant meliputi:
1. Sulit Mengungkapkan Perasaan
Mereka mungkin kesulitan mengekspresikan perasaan seperti kesedihan, takut kehilangan, dan kebutuhan akan perhatian.
Saat menghadapi masalah, mereka cenderung memilih diam atau mengatasinya sendiri daripada membicarakannya secara terbuka.
2. Terlalu Mengandalkan Diri Sendiri
Orang dengan gaya keterikatan avoidant terbiasa menyelesaikan masalah sendiri, mereka mungkin merasa sulit untuk mencari bantuan atau dukungan dari pasangan mereka.
3. Menjaga Jarak saat Hubungan Makin Dekat
Ketika hubungan terasa semakin dekat, sebagian orang justru merasa perlu menjaga jarak dan memiliki lebih banyak waktu untuk diri sendiri.
Mereka mungkin cenderung menarik diri ketika pasangan mereka mengharapkan keintiman yang lebih dalam dan komunikasi yang lebih aktif.
4. Kerap Menghindari Konflik
Mereka mungkin lebih suka menghindari konfrontasi daripada mengatasi masalah secara langsung.
Menghabiskan waktu bersama pasangan memang penting. Namun, jika komunikasi terus dihindari, masalah dalam hubungan justru bisa semakin sulit diselesaikan.
Meski begitu, ciri-ciri tersebut tidak bisa dijadikan satu-satunya acuan untuk menentukan gaya kelekatan seseorang.
Penyebab Avoidant Attachment
Pola ini dapat dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil, misalnya ketika seseorang kurang mendapat dukungan emosional atau terbiasa menghadapi masalah tanpa bantuan orang lain.
Pengalaman penolakan atau hubungan yang kurang menyenangkan saat dewasa juga dapat memengaruhi cara seseorang memandang kedekatan emosional.
Namun, gaya keterikatan bisa berubah seiring meningkatnya kesadaran diri dan pengalaman hubungan yang lebih sehat.
Bagaimana Cara Menghadapi Avoidant Attachment?
Jika merasa memiliki kecenderungan avoidant attachment, ada beberapa langkah yang bisa dicoba untuk membangun hubungan yang lebih sehat.
Kenali pola diri sendiri dan perhatikan situasi yang membuat kamu ingin menjaga jarak.
Belajar terbuka secara bertahap dan mulai menyampaikan perasaan atau kebutuhan yang paling mudah diungkapkan.
Jika membutuhkan waktu sendiri, sampaikan kepada pasangan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Jangan ragu mencari bantuan profesional.
Jika pasanganmu menunjukkan kecenderungan serupa, cobalah membicarakan kebutuhan masing-masing tanpa memaksanya terbuka.
Namun, memahami pola kelekatan bukan berarti harus mengabaikan kebutuhan emosional atau batasan pribadi.
Demikian informasi mengenai apa itu avoidant attachment, ciri-ciri, penyebab, hingga cara menghadapi seseorang dengan pola emosional tersebut.
