ARASVARA.ID - Istilah trauma bonding saat ini sering kali muncul ketika berbicara mengenai hubungan yang tidak sehat.
Diketahui, istilah trauma bonding merupakan ikatan emosional yang terjalin antara seseorang dan pihak yang melakukan kekerasan atau perlakuan abusif terhadapnya.
Seseorang yang mengalami trauma bonding bisa membuatnya sulit untuk keluar dari hubungan yang tidak sehat, meski ia menyadari bahwa dirinya terus terluka.
Perhatian dan sikap manis pasangan atau seseorang yang memiliki kedekatan setelah konflik dapat memunculkan harapan bahwa keadaan akan berubah.
Meski begitu, sebutan ini bukan sekadar menggambarkan hubungan yang penuh drama atau seseorang yang terus memiliki konflik dan bertengkar saja.
Akan tetapi, ada pola perlakuan menyakitkan yang membuat seseorang sulit melepaskan diri dalam ikatan hubungan tersebut.
Lantas, seperti apa arti dari trauma bonding dan bagaimana ciri-cirinya? Simak informasi selengkapnya berikut ini.
Apa Itu Trauma Bonding?
Trauma bonding adalah ikatan emosional yang dapat terbentuk dari hubungan abusif, terutama ketika perlakuan buruk kembali terulang dan diselingi perhatian, permintaan maaf, atau kasih sayang.
Situasi ini diketahui bisa membuat seseorang terjebak dalam hubungan tidak sehat hingga mengulang siklus yang sama.
Setelah disakiti, ia kembali merasakan kedekatan emosional dengan pasangan dan berharap hubungan tersebut akan membaik.
Fenomena ini tidak hanya terjadi dalam hubungan asmara saja, tetapi juga bisa ditemukan dalam relasi keluarga maupun hubungan lain yang melibatkan kekerasan.
Ciri-Ciri Trauma Bonding
1. Sulit Meninggalkan Pasangan yang Menyakiti
Meski menyadari hubungan yang dijalani tidak sehat, seseorang bisa merasa takut untuk berpisah dari pasangan.
Sebab, adanya harapan pasangan untuk berubah, ketergantungan, atau ancaman dapat membuatnya bertahan.
2. Terjebak dalam Siklus Konflik dan Perhatian
Pasangan mungkin kerap bersikap kasar, lalu meminta maaf dan kembali menunjukkan kasih sayang seolah tidak terjadi masalah sebelumnya.
Momen menyenangkan tersebut bisa membuat seseorang berharap perlakuan buruk tidak akan terulang.
3. Sering Membenarkan Perilaku Pasangan
Perilaku yang menyakitkan kerap dianggap wajar dengan alasan pasangan sedang stres atau memiliki masa lalu yang sulit. Akibatnya, tindakan yang seharusnya tidak dapat diterima justru terus dimaklumi.
4. Merasa Bersalah saat Ingin Pergi
Keinginan mengakhiri hubungan bisa disertai rasa bersalah, takut, atau khawatir terhadap reaksi pasangan.
Perasaan ini dapat semakin kuat apabila pasangan sering menyalahkan atau mengancam dirinya.
5. Menjauh dari Teman dan Keluarga
Hubungan abusif terkadang disertai kontrol terhadap pergaulan. Ketika seseorang semakin jauh dari orang-orang terdekat, ia bisa kesulitan mendapatkan dukungan untuk menghadapi situasinya.
Penyebab Trauma Bonding
Trauma bonding dapat terbentuk karena berbagai faktor yang membuat seseorang semakin terikat dengan pihak yang menyakitinya. Beberapa di antaranya meliputi:
1. Siklus Kekerasan dan Kasih Sayang
Perlakuan buruk yang diselingi perhatian atau janji berubah dapat menumbuhkan harapan bahwa hubungan akan membaik.
2. Manipulasi Emosional
Gaslighting, ancaman, intimidasi, dan kebiasaan menyalahkan korban dapat membuat seseorang meragukan dirinya sendiri.
3. Ketergantungan Emosional atau Finansial
Kondisi ketergantungan emosional maupun finansial juga dapat membuat seseorang merasa sulit meninggalkan hubungan.
4. Kurangnya Dukungan Sosial
Jauh dari keluarga dan teman bisa membuat korban merasa sendirian saat menghadapi masalah.
5. Pengalaman Masa Lalu
Riwayat trauma atau hubungan yang tidak sehat sebelumnya dapat memengaruhi cara seseorang merespons hubungan berikutnya.
Faktor-faktor tersebut tidak otomatis menyebabkan trauma bonding. Pengalaman setiap orang berbeda, sehingga kondisi ini perlu dipahami berdasarkan situasi yang dialami, bukan sekadar satu atau dua tanda.
Cara Mengatasi Trauma Bonding
Keluar dari hubungan yang abusif tentu bukanlah hal yang mudah dan bisa membutuhkan waktu. Berikut beberapa langkah yang dapat membantu.
1. Kenali Pola Hubungan
Perhatikan apakah ada siklus perlakuan buruk, manipulasi, dan perhatian yang terus berulang.
Memahami pola ini dapat membantu kamu menyadari bahwa kekerasan bukanlah kesalahan korban.
2. Cari Dukungan Orang Tepercaya
Ceritakan situasi yang sedang kamu alami kepada teman, keluarga, atau orang yang bisa dipercaya.
Dukungan dari luar hubungan dapat membantu mengurangi rasa terisolasi dan melihat situasi dengan lebih jernih.
3. Bangun Kembali Batasan dan Dukungan Sosial
Jika aman dilakukan, tetapkan batasan terhadap perilaku yang merugikan. Luangkan waktu untuk kembali terhubung dengan orang-orang yang mendukung dan menghargai kamu.
4. Pertimbangkan Bantuan Profesional
Psikolog atau psikiater dapat membantu memahami dampak hubungan abusif terhadap kondisi emosional dan mendampingi proses pemulihan.
5. Utamakan Keselamatan Diri
Jika terdapat ancaman atau kekerasan, susun rencana untuk mencari tempat aman dan hubungi orang yang dapat membantu. Jangan memaksakan diri menghadapi pelaku seorang diri jika situasinya berisiko.
Proses pemulihan akibat mengalami trauma pada hubungan tertentu tidak selalu berjalan mulus.
Rasa rindu, bersalah, atau keinginan kembali bisa muncul, tetapi hal tersebut bukan berarti kamu harus bertahan dalam hubungan yang menyakitkan.
Demikian ulasan mengenai apa itu trauma bonding, ciri-ciri, penyebab, serta cara mengatasinya.
