ARASVARA.ID - Mengetahui berbagai tren terbaru, hafal istilah-istilah viral, hingga merasa harus mengikuti setiap drama di media sosial? Bisa jadi kamu familiar dengan sebutan chronically online.
Kebiasaan scrolling tanpa henti terkadang membuat seseorang menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar tanpa menyadarinya. Fenomena ini dikenal dengan istilah chronically online.
Chronically online sendiri merujuk pada aktivitas internet hingga kebiasaan dan perspektif di dunia maya yang mulai memengaruhi kehidupan nyata.
Istilah ini cukup populer di kalangan Gen Z dan pengguna media sosial, terutama untuk menyindir orang yang terlalu terpaku pada tren atau informasi di internet.
Lantas, apakah chronically online bisa berdampak pada kesehatan mental dan berpengaruh untuk kehidupan nyata? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Dampak Chronically Online
Menjadi chronically online atau terus mengikuti perkembangan tren di media sosial tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan kesehatan mental.
Namun, kebiasaan menggunakan linimasa secara berlebihan dapat menjadi perhatian ketika mulai mengganggu waktu tidur, konsentrasi, pekerjaan, pendidikan, atau hubungan sosial.
Paparan informasi yang terus-menerus juga dapat membuat seseorang merasa kewalahan, terutama ketika ia berulang kali terlibat dalam konflik daring atau membandingkan kehidupannya dengan unggahan orang lain.
Meski begitu, hubungan natara penggunaan media sosial dan kesehatan mental memang tidak selalu sederhana.
Dampaknya dapat berbeda pada setiap orang, tergantung pada jenis konten yang dikonsumsi, pengalaman pribadi, pola penggunaan, serta dukungan sosial yang dimiliki.
Karena itu, penting untuk tidak langsung menyimpulkan bahwa seseorang mengalami masalah psikologis hanya karena sering menggunakan internet atau memahami banyak tren digital.
Cara Mengurangi Kebiasaan Chronically Online
Seperti yang kita tahu, istilah chronically online memang sering dikaitkan dengan Gen Z, tetapi kebiasaan ini bisa dialami siapa saja yang terlalu larut dalam dunia digital.
Guna menjaga keseimbangan dan membedakan antara dunia nyata dan daring, berikut beberapa langkah yang bisa kamu coba.
Batasi waktu bermain sosial media dan atur fitur pengatur waktu aplikasi agar kebiasaan scrolling lebih terkontrol.
Kurangi penggunaan gadget sebelum tidur dan media sosial sekitar satu jam sebelum waktu tidur.
Lakukan aktivitas offline seperti membaca buku, menyiram tanaman, atau menikmati kopi tanpa distraksi yang membantu mengalihkan perhatian dari layar.
Latih kebiasaan mindful dan fokus pada aktivitas yang sedang dilakukan tanpa terus-menerus mengecek notifikasi atau membuka aplikasi.
Dengan melakukan beberapa langkah di atas, perubahan kecil dapat membantu kamu membangun kebiasaan digital yang lebih seimbang.
Dengan membatasi waktu scrolling dan menyediakan ruang untuk aktivitas offline, penggunaan media sosial bisa tetap menyenangkan.
Demikian ulasan mengenai dampak chronically online dan cara mengatasi kebiasaan melakukan aktivitas di media sosial secara berlebihan.
