ARASVARA.ID - Istilah chronically online semakin akrab dalam percakapan di media sosial, terutama ketika seseorang dianggap terlalu larut dalam tren internet, meme, atau perdebatan warganet.
Secara sederhana, chronically online adalah istilah slang untuk menggambarkan seseorang yang begitu tenggelam dalam ruang digital atau budaya internet, mulai dari cari berpikir, berkomunikasi, hingga memandang kehidupan sehari-hari.
Istilah chronically online ini tidak hanya merujuk pada durasi penggunaan internet saja, tetapi juga bagaimana seseorang memahami tren dan norma sosial melalui pengalaman daring.
Lantas, apa itu chronically online dan ciri-ciri individu yang mendefinisikan istilah tersebut? Berikut penjelasannya.
Apa Itu Chronically Online?
Menurut Cambridge Dictionary, secara harfiah, chronically berarti sesuatu yang berlangsung dalam waktu lama. Sementara itu, kata online merujuk pada keadaan terhubung ke internet.
Apabila digabungkan, chronically online menjadi istilah untuk seseorang yang terlalu larut dalam kehidupan digital.
Namun, istilah ini memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar seseorang yang sering bermain ponsel. Sebab, orang yang aktif di media sosial belum tentu chronically online.
Sebutan ini biasanya digunakan ketika budaya internet mulai memengaruhi cara seseorang menilai situasi, memahami lelucon, hingga merespons persoalan di kehidupan nyata.
Misalnya, seseorang yang mengikuti perkembangan fandom, memahami berbagai meme, dan selalu mengetahui tren terbaru. Hal itu tidak otomatis membuatnya chronically online.
Sebaliknya, ketika ia menganggap perdebatan kecil di media sosial sebagai persoalan besar yang harus diketahui semua orang, istilah tersebut mungkin relevan.
Ciri Individu yang Chronically Online
Sebenarnya, tidak ada daftar ciri resmi untuk menentukan apakah seseorang termasuk dalam kategori chronically online.
Sebab, istilah tersebut hanya kata slang internet, bukan diagnosis medis. Meski begitu, ada sejumlah perilaku yang sering dikaitkan, antara lain:
1. Selalu Mengikuti Tren Internet
Orang yang sangat tenggelam dalam budaya internet biasanya cepat untuk mengetahui tren terbaru, mulai dari meme, istilah viral, drama selebritas, hingga berbagai perdebatan yang ramai di platform media sosial.
Mengetahui tren tentu bukanlah sebuah masalah. Namun, kebiasaan mengikuti setiap perkembangan internet bisa menjadi melelahkan jika seseorang merasa harus selalu mengetahui apa yang sedang ramai dibicarakan.
2. Sering Menggunakan Istilah Viral
Istilah seperti brainrot, touch grass, delulu, dan berbagai slang internet lainnya dapat menjadi bagian dari cara berkomunikasi sehari-hari.
Masalahnya muncul ketika seseorang menggunakan istilah atau referensi yang sangat spesifik tanpa mempertimbangkan lawan bicara.
Akibatnya, percakapan yang seharusnya mudah dipahami justru terasa asing bagi orang yang tidak mengikuti tren tersebut.
3. Menganggap Drama di Internet sebagai Persoalan Besar
Salah satu contoh chronically online yang sering muncul adalah ketika seseorang terlalu larut dalam konflik di media sosial.
Perbedaan pendapat antarpengguna, perdebatan fandom, atau kontroversi seorang publik figur bisa menyita banyak perhatian.
Seseorang mungkin akan terus memantau komentar dan unggahan terbaru, bahkan ketika persoalan tersebut tidak berhubungan langsung dengan kehidupannya.
4. Sulit Memisahkan Perspektif Internet dan Kehidupan Nyata
Algoritma media sosial dapat membuat seseorang lebih sering melihat oprini yang serupa dengan minat atau pandangannya.
Alkibatnya, ia bisa mengira bahwa pendapat yang populer di linimasa juga mewakili pandangan masyarakat secara luas.
Padahal, sesuatu yang ramai diperdebatkan di internet belum tentu menjadi persoalan utama bagi orang-orang di kehidupan sehari-hari.
5. Merasa Harus selalu Terhubung dengan Internet
Kebiasaan untuk mengecek notifikasi, membaca komentar, atau membuka media sosial setiap kali ada waktu luang juga bisa membuat seseorang sulit menikmati momen tanpa ponsel.
Meski begitu, intensitas penggunaan internet perlu dilihat berdasarkan konteks, seperti pekerjaan, pendidikan, dan kebutuhan komunikasi.
Popularitas istilah chronically online memang tidak bisa dilepaskan dari perkembangan budaya meme, komunitas digital, dan media sosial yang membuat tren menyebar dengan cepat.
