Tajuk Rencana: Jakarta 5 Abad Gelorakan Gotong Royong Angkat Kaum Marginal

Khatim didampingi Maenaroh sedang memilah hasil memulung.

Khatim didampingi Maenaroh sedang memilah hasil memulung.(Arasvara/Sutiyono)

GO

By Gabriel Omar Batistuta

Publish: 26 Oktober 2026 - 06:30 WIB
Updated: 26 Oktober 2026 - 06:50 WIB
Share:

ARASVARA.ID - SEJENGKAL lagi Jakarta tepat berusia 500 tahun. Menjelang usia 50 abad itu, kota megapolitan ini terus berdandan.

Taman-taman dipercantik. Jalanan di sana-sini diperbaiki. Saluran air dibenahi, dan kali dikeruk. Fasilitas kota pun ditata.

Tujuannya tidak lain agar disaat usia 500 tahun, Jakarta makin gemerlap dan bertambah menarik.

Jakarta memang gemerlap dan glamour. Pernak-pernak kotanya memang oke, dan fasilitas umumnya juga jempolan.

Bagi warga daerah yang kebetulan melancong pasti kesengsem serta berkeinginan tinggal dan sekaligus menjadi warga kota ini. Mereka meyakini hidup di Jakarta menjanjikan aneka gula.

Secara statistik, strata sosial penduduk Jakarta memang paling banyak kelas menengah. Artinya, bila bersandar catatan itu, di atas kertas penduduk kelas bawahnya lebih sedikit.

Data di atas kertas mungkin itulah catatannya. Namun, bila menelusuri kehidupan di kota tersibuk di Indonesia ini gampang menemukan warga miskin.

Minggu pagi, 25 Oktober 2026, saat melintas di Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakarta Pusat, banyak warga menenteng karung plastik berjejer berdiri di pinggiran jalan. Mereka berharap belas kasihan dari para dermawan.

Tampak pengendara mobil yang kebetulan melintas di sisi jalan di mana banyak warga yang berdiri itu berhenti. Sang pengendara membagikan nasi bungkus.

Ada pula dermawan lain yang merapatkan kendaraannya dan memberikan uang. Warga yang berdiri di pinggir jalan itu, tentu girang mendapatkan rezeki.

Potret kemiskinan lain di kota megapolitan ini, juga dialami Khatim, warga Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Page 1 of 3

Berita Terkait

Berita Terpopuler

Memuat...

Berita Terupdate

Memuat berita terbaru…