Oleh Pemimpin Redaksi Arasvara Sutiyono
Gubernur Pramono Anung Wibowo merencanakan menaikan ongkos Transjabodetabek. Kenaikan tarif itu nantinya berdasarkan jarak tempuh dan karakteristik rute.
Langkah Gubernur Pramono tentu saja mengundang reaksi publik. Ada yang pro banyak pula kontra. Dalihnya pun beragam.
Pelayanan Transjabodetabek mulai diterapkan pada era Pramono menjadi Gubernur Pemprov DKI Jakarta. Selain membantu memudahkan warga daerah penyangga beraktifitas ke ibukota mendapatkan transportasi murah juga untuk mengurangi kemacetan di Jakarta.
Baca Juga:
Adam Deni Diciduk Polisi Rusak Ruko dan Intimidasi Pakai Air Soft Gun di Jakut
Saat ini pelayanan Transjabodetabek terus diperluas. Ada rute Bogor - Blok M/Dukuh Atas. Ada juga rute Blok M - Bandara SoekarnoHatta. Ongkos Transjabodetabek dipatok Rp 3.500 per penumpang sama dengan tarif Transjakarta itu sendiri.
Catatan Dinas Perhubungan Pemprov DKI Jakarta subsidi tarif Transjabodetabek pada 2026 mencapai Rp 400 miliar. Dimana setiap penumpang mendapatkan subsidi Rp 12 ribu per perjalanan.
Bila dibandingkan dengan ongkos angkutan umum lain baik bus atau taksi tentu Transjabodetabek lebih murah.
Tarif Transjabodetabek maupun Transjakarta sama persis Rp 3.500 per penumpang. Ongkos sebesar itu berlaku sejak buskota bebas hambatan ini dioperasikan alias belum pernah dinaikan.
Baca Juga:
Kabar Baik Buat Industri Film Indonesia, Pemprov DKI Jakarta Pangkas Pajak 50 Film Nasional
Transjabodetabek Bogor - Blok M / Dukuh Atas dioperasikan sejak 5 Juni 2025. Sedangkan rute Blok M - Bandara SoekarnoHatta mulai beroperasi 12 Maret 2026.
Sejarah Transjakarta yang populer disebut busway beroperasi di ibukota pada 2004 yakni era Bang Yos menjadi Gubernur DKI Jakarta.
Busway atau Bus Rapid Transit (BRT) pertama kali melayani rute Blok M - Kota dengan tarif Rp 3.500 per penumpang.
