Dampak Karhutla, Kemenkes Catat 283 Ribu Kasus ISPA: Paling Banyak Kalimantan Selatan

Ilustrasi Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

Ilustrasi Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)(Freepik)

TR

By Tim Redaksi

Publish: 16 Oktober 2026 - 20:39 WIB
Share:

JAKARTA, ARASVARA.ID – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang menimpa di sejumlah wilayah Indonesia berdampak terhadap kesehatan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat sebanyak 283.270 kasus ISPA dari Agustus sampai 13 Oktober 2026.

Menurut Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Then Suyanti memaparkan kasus ISPA tersebut tercatat di tujuh provinsi yang mencakup 63 kabupaten/kota terdampak karhutla.

"Situasi harian hingga hari ini kasus ISPA sebanyak 3.897 hingga 13 Otober dan secara kumulatif ini ada total 283.270 kasus ISPA dengan kasus sebanyak 63.711 kasus terjadi pada anak berusia 0 hingga 5 tahun," ujar Suyanti dalam jumpa pers di Kemenkop Polkam, Jakarta kemarin.

Baca Juga:

Sembilan Korporasi Sektor Sawit Sebabkan Karhutla Ditetapkan Tersangka Bareskrim Polri

Then Suyanti mencatat wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) kasus ISPA terbanyak, yakni 74.636 kasus, posisi berikutnya ditempati Sumatera Selatan dengan 74.458 kasus.

"Sementara itu, sebanyak 219.559 kasus tercatat pada kelompok usia di atas lima tahun," ujarnya menambahkan.

Asap karhutla, kata Direktur Kesehatan Lingkungan mengandung partikel halus PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik beracun yang dapat mengganggu kesehatan.

Baca Juga:

Kondisi Karhutla di Kalimantan Selatan Usai Diguyur Hujan Lebat

Paparan ISPA Picu Batuk, Sesak, Perburuk Asma, hingga Radang Tenggorokan

Paparan asap dapat memicu ISPA dengan gejala batuk, sesak napas, pilek, dan radang tenggorokan. Selain itu, asap dapat memperburuk asma, memicu penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta menyebabkan iritasi mata dan kulit.

Dampak paparan asap juga dapat meluas ke sistem kardiovaskular, termasuk meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke serta tekanan darah, terutama pada kelompok rentan.

"Tentunya kita harus menjaga kelompok rentan sebagaimana anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma/PPOK, maupun pekerja di luar ruangan," paparnya.

Editor

NW

Novriadji Wibowo

Berita Terkait

Berita Terpopuler

Memuat...

Berita Terupdate

Memuat berita terbaru…