ARASVARA.ID - Belakangan ini rupiah terus mengalami penurunan hingga sekarang mencapai Rp18.027 per 1 dolar AS.
Pengamat Ekonomi sekaligus Direktur Eksekutif di Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bima Yudhistira Adhinegara memberikan tanggapan khusus usai kondisi rupiah terus melemah.
Dirinya mengatakan, pelemahan ini bisa berdampak besar ke jutaan orang yang ada di Indonesia.
Baca Juga:
Profil Dadan Hindaya Mantan Kepala BGN yang Ditahan Atas Kasus Korupsi MBG
"Pelemahan rupiah berdampak ke tekanan krisis finansial yang berpengaruh langsung ke jutaan orang, sebenarnya ini hanya menunggu waktu saja," ucap Bima Yudhistira Adhinegara ketika dimintai tanggapan oleh Tim Arasara (Kamis 4/6/2026).
Dirinya juga menjelaskan penurunan rupiah sangat tajam sejak awal tahun 2026 ini.
"Yang bermasalah adalah rupiah melemah terlalu tajam, 8% sejak awal tahun 2026, pengusaha pasti bingung, price list harusnya berubah, tapi kan konsumen ga siap. Opsinya pelaku usaha mengecilkan ukuran barang atau stop produksi sementara," jelas Bima Yudhistira.
Baca Juga:
Baru Sehari Dicopot di BGN, Dadan Hindayana, Sony Sanjaya dan Lodewyk Pusung Tersangka Korupsi MBG
Jika hal tersebut terjadi dalam jangka waktu dekat, kemungkinan PHK massal akan meledak.
"Kalau yang terjadi sampai mengurangi produksi, PHK massal akan meledak semester II ini," pungkasnya.
Ia juga memprediksi kelas menengah akan bertambah dan kelas menengah akan turun pada tahun ini.
Baca Juga:
Makin Turun! Dolar As Tembus Rp18.000 Hari Ini
"Jumlah kelas menengah rentan diperkirakan makin bertambah, sementara kelas menengah akan turun 1,2-1,4 juta di tahun ini," tutur Bima.
Ia juga menerangkan rupiah akan berkorelasi dengan biaya impor migas yang semakin mahal. Pasalnya, saat ini dolar AS juga sedang naik dan itu menjadi lingkaran setan serta musuh utama ekonomi.
