ARASVARA.ID - Bursa Efek Indonesia (BEI) secara resmi mengumumkan peta jalan strategis jangka panjang untuk memperkuat posisi pasar modal domestik di kancah internasional. Langkah berani ini disampaikan langsung oleh jajaran direksi seusai menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Jakarta.
Melalui rilis Master Plan Bursa Efek Indonesia 2026–2030, otoritas bursa menetapkan sederet target ekspansif yang sangat ambisius hingga akhir dekade ini. BEI bertekad mentransformasi pasar modal nasional agar semakin maju, inklusif, serta memiliki daya saing tinggi untuk menembus jajaran sepuluh besar bursa dunia.
Sajian berikut mengulas target kapitalisasi pasar, pertumbuhan jumlah investor, proyeksi nilai transaksi harian, hingga alokasi anggaran operasional yang disiapkan oleh pengelola bursa.
Target Besar Kapitalisasi Pasar dan Pertumbuhan Investor 2030
Dalam target jangka panjang Master Plan 2026–2030, BEI membidik angka kapitalisasi pasar (market cap) saham nasional dapat menembus nilai fantastis sebesar Rp30.000 triliun pada tahun 2030. Lonjakan kapitalisasi pasar ini diharapkan berjalan selaras dengan masuknya emiten-emiten baru skala besar di bursa.
Selain mengincar nilai kapitalisasi jumbo, otoritas bursa juga memproyeksikan akumulasi jumlah investor pasar modal dapat menyentuh 35 juta investor. Target perluasan basis investor ini diimbangi dengan upaya peninggian kuantitas emiten hingga mencapai 1.100 perusahaan tercatat.
Aspirasi besar tersebut dibarengi pula oleh penetapan target rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) sebesar Rp31 triliun pada 2030. Strategi ini dirancang untuk memastikan bahwa pendalaman pasar saham Indonesia berjalan aktif dan likuid.
Kapitalisasi pasar modal (market cap) ditargetkan menembus angka Rp30.000 triliun pada 2030.
Akumulasi jumlah investor pasar modal dibidik tumbuh masif mencapai target 35 juta investor.
Rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) ditargetkan Rp31 triliun dengan total 1.100 perusahaan tercatat.
Strategi Master Plan BEI 2026–2030 dan Fase Perkembangan
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik, menjelaskan bahwa pencapaian visi jangka panjang tersebut ditopang oleh penyusunan Master Plan BEI 2026–2030 secara terarah. Kerangka kerja ini berdiri di atas empat pilar bisnis utama dengan sokongan lima enabler kapabilitas pendukung.
Arah pengembangan bursa dieksekusi melalui tiga kelompok inisiatif unggulan, meliputi penguatan likuiditas dan akses pasar, perluasan penggalangan dana (fundraising), serta pengembangan infrastruktur baru. Langkah ini diyakini sanggup memperluas sumber pembiayaan bagi sektor korporasi nasional.
Pada tahap awal implementasi yang diberi nama fase Fundamental Reinvention, bursa akan memfokuskan perhatian pada demokratisasi akses investor. Penyelarasan produk investasi serta penguatan tata kelola operasional menjadi fondasi utama sebelum melakukan ekspansi lebih jauh.
Master Plan 2026–2030 ditopang empat pilar bisnis serta lima enabler kapabilitas pendukung.
Tiga inisiatif mencakup penguatan likuiditas, perluasan fundraising, dan pengembangan infrastruktur.
Fase Fundamental Reinvention memprioritaskan penyesuaian produk, akses investor, dan tata kelola.
Alokasi Anggaran Rencana Kerja 51 Program Tahun 2027
Selanjutnya, guna merealisasikan tahapan strategi jangka panjang tersebut, BEI telah menyusun 51 rencana kerja untuk tahun 2027 dengan menyiapkan total anggaran sebesar Rp596,4 miliar. Alokasi dana ini terbagi ke dalam dua kelompok prioritas pengembangan.
Kelompok pertama diperuntukkan bagi pilar bisnis sebesar Rp186,8 miliar atau porsi 31,3 persen dari total anggaran harian. Porsi dana ini difokuskan pada penguatan transaksi, perbaikan kualitas perusahaan tercatat, serta perluasan alokasi partisipasi pemodal.
