JAKARTA, ARASVARA.ID – Pergantian Menteri Keuangan (Menkeu) RI Purbaya Yudhi Sadewa digantikan Suahasil Nazara menjadi salah satu perkembangan yang dicermati pasar.
Mirae Asset Sekuritas Indonesia melihat pasar keuangan Indonesia memasuki fase yang menuntut investor semakin selektif di tengah perubahan kebijakan domestik dan dinamika global.
Investor dinilai perlau mencermati tidak hanya indeks, tetapi juga fundamental dan katalis yang menopang pasar ke depan.
Baca Juga:
ARAH REDAKSI: Menkeu Baru Kuat Berapa Lama?
Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai penunjukan Suahasil Nazara memberikan sinyal positif bagi pasar berkat latar belakangnya di bidang kebijakan fiskal dan pengalamannya di Kementerian Keuangan.
Tantangan utama bukan hanya pada sosok Menteri Keuangan, melainkan pada konsistensi kebijakan dan dukungan pemerintah terhadap disiplin fiskal dalam jangka panjang.
“Pergantian Menteri Keuangan ini menjadi sinyal positif bagi pasar, apalagi dengan latar belakang Suahasil Nazara di bidang kebijakan fiskal dan pengalamannya di Kementerian Keuangan. Namun, yang paling penting tetap implementasi dan konsistensi kebijakan, khususnya dalam menjaga kredibilitas APBN dan disiplin fiskal,” ujar Rully dalam keterangannyaa diterima Rabu (16/9/2026).
Baca Juga:
Presiden Prabowo Subianto Tiba-tiba Reshuffle, Menteri Keuangan Dijabat Suahasil Nazara Gantikan Purbaya Yudhi Sadewa
Di pasar domestik, IHSG ditutup relatif datar di level 6.535 setelah sempat terkoreksi lebih dari 2 persen secara intraday. Menurut Rully, respons tersebut menunjukkan pasar masih mencermati arah kebijakan fiskal setelah pergantian Menteri Keuangan, dengan kredibilitas fiskal dan komunikasi kebijakan menjadi faktor penting bagi sentimen ke depan.
Di sisi global, Rully memperkirakan Federal Reserve akan menaikkan suku bunga 25 basis poin pada September, yang relatif sudah diperhitungkan pasar. Setelahnya, pergerakan rupiah menjadi salah satu faktor utama yang menentukan ruang dan respons kebijakan Bank Indonesia.
“Kenaikan 25 basis poin dari The Fed relatif sudah priced in. Bagi Indonesia, perhatian berikutnya akan tertuju pada pergerakan rupiah karena menjadi salah satu faktor utama yang menentukan ruang dan respons kebijakan Bank Indonesia,” kata Rully.
Baca Juga:
Menkeu Purbaya Sebut Danantara Masih Keberatan Setor Uang ke Negara Rp120 Triliun
Di pasar saham, IHSG telah mengalami re-rating sekitar 18% sejak awal paruh kedua 2026. Menurut Rully, kenaikan berikutnya membutuhkan dukungan earnings delivery, foreign flows yang lebih luas, serta kondisi eksternal yang lebih berkelanjutan. Saat ini, arus dana asing masih terkonsentrasi pada saham berkapitalisasi besar, terutama perbankan dan sejumlah saham komoditas.
“Setelah re-rating yang cukup cepat, investor tidak bisa hanya mengandalkan kenaikan indeks. Next leg dari pasar akan membutuhkan earnings delivery dan foreign flows yang lebih luas. Karena itu, pasar akan semakin selektif,” paparnya.
