Di ujung utara Kabupaten Bekasi, tepatnya di pesisir Kampung Muara Bungin, Desa Pantai Bakti, wilayah seluas kurang lebih 3.401 hektar yang kini terkepung delta dan air pasang waktu diukur dari seberapa sabar manusia menahan deburan ombak yang perlahan merampas ruang hidup mereka.
Memasuki tahun 2026, abrasi masif dan penurunan muka tanah membuat garis pantai kian mundur, menelan tambak-tambak warisan leluhur dan membiarkan rob rutin merendam permukiman dalam keheningan yang menyesakkan. Di atas titian kayu yang semakin rapuh, kehidupan berjalan dalam bayang-bayang ketakutan yang sunyi.
Ketika ditanya mengapa tidak meninggalkan tempat ini, jawaban warga menyayat hati dalam kepasrahan yang pekat. “Mau pindah ke mana, Mas? Biayanya dari mana?” ujar seorang warga dengan suara parau saat melangkah di hamparan pasir pantai di ujung desa. “Rumah dan tanah satu-satunya ya di sini. Kalau kami pergi, mau makan apa di kota? Di sini setidaknya kami tahu cara hidup berdampingan dengan laut, meskipun lautnya sekarang sudah berubah jadi algojo.”
Di balik bertahan hidupnya warga, kehadiran negara terasa begitu jauh dan hampa. Bantuan darurat sekadar datang sebagai angin lalu selepas banjir rob reda, sementara janji-janji perlindungan struktural hilang ditelan birokrasi. Bagi mereka yang setiap hari menatap tanah kelahirannya amblas, penantian pada uluran tangan pemerintah adalah bentuk keputusasaan yang panjang.
“Pemerintah kadang datang, mendata, lalu berjanji mau dibantu,” tutur warga tersebut dengan tatapan kosong, menyaksikan langkah seorang ibu yang tertatih melintasi rumah panggung berbilik kayu di tengah kepungan air asin. “Tapi sebelum bantuannya datang, ombaknya sudah keburu merobohkan dapur tetangga.”
Di tengah lambannya negara dan amuk alam yang tak kenal ampun, warga Muara Bungin hanya punya satu sama lain untuk bertahan. Mereka bahu-membahu meninggikan lantai rumah seadanya, menambal titian yang lapuk, dan bersandar pada rimbun mangrove yang tersisa di garis pantai—menjadikannya benteng terakhir yang menahan amukan gelombang. Setiap hari adalah pertaruhan sunyi, menanti giliran kapan laut benar-benar menelan sisa-sisa tanah tempat mereka berpijak.
Esai visual ini merekam getirnya sebuah komunitas di beranda utara Jawa. Muara Bungin bukan sekadar cerita tentang daratan yang hilang, melainkan monumen kesedihan tentang manusia yang dipaksa menyerah pada keadaan, namun tetap berusaha bernapas di atas tanah yang perlahan larut bersama duka. (Arasvara/Ahmad Tri Hawaari)