Cahaya di Sudut Pesisir: Saat Kelas Jurnalis Cilik Mengarungi Kehidupan Lewat "ARUNG"

Teks foto: Jurnalis cilik.

Oleh: Arasvara/Ahmad Tri Hawaari

Teks Foto: Pameran Fotografi "Arung".

Oleh: Arasvara/Ahmad Tri Hawaari

Teks Foto: Kelas Jurnalistik.

Oleh: Arasvara/Ahmad Tri Hawaari

Riuh lalu lintas pesisir Jakarta Utara yang bersahut-sahutan mendadak luluh oleh gelak tawa dan decak kagum para pengunjung pada Jumat, 23 Oktober 2026.

Dinding-dinding beton yang mulanya dingin, kusam, dan terabaikan di kolong jembatan Cilincing, kini rihat sejenak dari kesunyian—bertransformasi menjadi panggung megah tempat bermudanya cerita anak-anak pesisir.

Melalui pameran fotografi bertajuk "ARUNG", Kelas Jurnalis Cilik angkatan ke-9 membuktikan sebuah kebenaran sederhana: keindahan dan nilai luhur kehidupan dapat menyeruak dari mana saja, bahkan dari balik sudut ruang terbuka yang paling bersahaja.

Sebanyak 27 pasang mata mungil pewarta cilik memamerkan 62 bingkai karya fotografi yang begitu memikat. Tak sekadar menatap objek lewat lensa, kamera di tangan anak-anak usia sekolah dasar ini berhasil merekam kehangatan serta dinamika denut kehidupan pesisir Cilincing. Mulai dari deburan ombak yang membentur pantai, perahu-perahu nelayan yang bertambat pasrah, hingga ukiran senyum hangat warga sekitar—seluruhnya terekam polos namun sarat akan makna mendalam.

Ruang belajar ini pertama kali dihembuskan oleh sosok Syamsudin Ilyas. Melangkah konsisten hingga menapak usia ke-9 tahun, Kelas Jurnalis Cilik telah menjelma menjadi oase di tengah gersangnya pesisir, tempat anak-anak menimba ilmu, mengasah bakat, dan mengekspresikan jati diri.

Tajuk "ARUNG" disematkan bukan tanpa alasan; kata itu menjadi refleksi atas perjuangan panjang ruang belajar ini dalam mengarungi pelbagai keterbatasan dan rintangan demi membentang cakrawala masa depan anak-anak Cilincing.

Apresiasi mendalam turut mengalir dari Wakil Camat Cilincing, Agung Tjahjo Kuntodi, yang hadir langsung menyapa para fotografer cilik tersebut. Baginya, Cilincing menyimpan daya pikat istimewa yang tak hanya bertumpu pada profesi nelayan, melainkan juga pada denyut nadi kehidupan masyarakatnya.

"Ada banyak hal menarik di Cilincing yang memiliki ikon tidak hanya nelayannya, namun juga kehidupan masyarakatnya. Anak-anak inilah yang dapat menceritakan hal baik tersebut kepada masyarakat," tutur Agung penuh rasa bangga.

Lewat selembar bidikan kamera, anak-anak Cilincing tak sekadar memotret gambar mati; mereka sedang menenun harapan dan membingkai riwayat pesisir agar gema suaranya didengar oleh dunia luar.

Kolong jembatan itu kini bukan lagi sekadar tempat beralas dan berteduh dari terik, melainkan saksi bisu atas tumbuh suburnya mimpi-mimpi anak pesisir Jakarta.(Arasvara/Ahmad Tri Hawaari)

GO

By Gabriel Omar Batistuta

Publish: 23 Oktober 2026 - 22:50 WIB
Share:

Berita Terkait

Berita Terpopuler

Memuat...

Berita Terupdate

Memuat berita terbaru…