Baterai Cepat Rusak hingga Boros, Ini 5 Mitos Mobil Listrik yang Sering Disalahpahami

Ilustrasi deretan mobil listrik sedang mengisi daya di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).

Ilustrasi deretan mobil listrik sedang mengisi daya di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).(Pinterest/Eric Baenen)

FF

By Farida Fakhira

Publish: 2 November 2026 - 14:32 WIB
Share:

ARASVARA.ID - Seperti yang kita tahu, penggunaan mobil listrik kini semakin diminati pengendara di Indonesia sebagai alternatif kendaraan berbahan bakar bensin.

Meski begitu, tak sedikit anggapan yang membuat calon pembeli ragu untuk beralih dari mobil konvensional ke mobil listrik.

Mulai dari baterai yang dianggap cepat rusak hingga kekhawatiran saat melewati jalanan yang tergenang air pun tak luput dari anggapan terkait kekurangan mobil listrik.

Lantas, apa saja mitos dan fakta mengenai kendaraan listirk yang perlu diketahui? Simak informasinya berikut ini.

5 Mitos Mobil Listrik

1. Hanya Cocok untuk Perjalanan Dengan Rute yang Dekat

Kendaraan berbasis baterai sering kali dianggap kurang praktis untuk melakukan perjalanan dengan jarak yang jauh karena kapasitas baterai yang terbatas.

Padahal, sejumlah mobil model terbaru sudah menawarkan sejumlah keunggulan, terutama jarak tempuh yang dinilai cukup untuk perjalanan antarkota.

Namun, kemampuan tersebut tetap bergantung pada kapasitas baterai, kondisi jalan, kecepatan, dan gaya berkendara.

2. SPKLU yang Masih Sulit Ditemukan di Beberapa Daerah

Ketersediaan tempat pengisian daya di Indonesia memang masih menjadi bahan pertimbangan calon pengguna kendaraan listrik.

Akan tetapi, fasilitas Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di Indonesia kini terus bertambah seiring meningkatnya minat konsumen terhadap mobil listrik.

3. Lebih Boros daripada Mobil Berbahan Bakar Bensin

Meskipun harga kendaraan listrik masih relatif tinggi. Namun, biaya kepemilikannya tidak hanya ditentukan oleh harga kendaraan.

Dalam penggunaan mobilitas harian, kendaraan listrik memiliki potensi hemat biaya operasional karena kebutuhan perawatannya cenderung lebih sederhana dibandingkan mobil konvensional.

Kendati demikian, besarnya penghematan bergantung pada tarif listrik, jarak tempuh, dan biaya perawatan kendaraan masing-masing.

4. Baterai yang Cepat Rusak

Tak sedikit calon pengguna kendaraan listrik menganggap bahwa baterai mobil harus diganti setelah beberapa tahun pemakaian.

Namun faktanya, penurunan daya baterai tidak selalu menandakan bahwa baterai tersebut rusak dan tidak layak pakai.

Sebab, usia pemakaian baterai dipengaruhi oleh suhu, kebiasaan pengisian daya, dan pola penggunaan kendaraan sehari-hari.

Tak hanya itu, sejumlah produsen mobil juga memberikan garansi baterai hingga delapan tahun atau lebih, sesuai ketentuan masing-masing merek.

5. Tidak Aman Digunakan saat Hujan

Anggapan bahwa mobil listrik berbahaya saat hujan muncul karena kendaraan ini menggunakan baterai dan komponen bertegangan tinggi.

Padahal, mobil listrik modern sudah dilengkapi perlindungan khusus pada sistem kelistrikannya.

Kendaraan juga dirancang agar dapat digunakan dalam kondisi hujan sesuai spesifikasi keselamatan produsen.

Namun, bukan berarti mobil listrik kebal terhadap banjir. Jika kendaraan terendam air, pemilik sebaiknya tidak langsung menyalakan atau mengisi daya baterai sebelum dilakukan pemeriksaan oleh teknisi resmi.

Itulah lima mitos mobil listrik yang kerap membuat masyarakat ragu untuk beralih dari kendaraan konvensional.

Berita Terkait

Berita Terpopuler

Memuat...

Berita Terupdate

Memuat berita terbaru…