Oleh Pemimpin Redaksi Arasvara Sutiyono
KRIMINALITAS belakangan ini terutama jenis kejahatan jalanan makin marak. Di wilayah Jakarta Depok Tangerang Bekasi (Jadetabek) misalnya, pada tahun 2026 kejahatan jalanan melangit alias tinggi.
Catatan Polda Metro Jaya tidak kurang dari 5.436 kasus kejahatan jalanan telah terjadi di wilayah kerjanya.
Kejahatan jalanan meliputi pencurian dengan pemberatan (Curat), pencurian dengan kekerasan (Curas), pencurian kendaraan bermotor (Curanmor).
Angka kejahatan jalanan paling tinggi terjadi di bulan Mei 2026 yakni mencapai 1.283 kasus. Angka tinggi ini hanya dalam rentang waktu tiga pekan saja.
Baca Juga:
Gedung Bapenda Terbakar, Pemprov DKI Jakarta Pastikan Pelayanan Tetap Berjalan
Maraknya kasus kejahatan jalanan di wilayah hukum Polda Metro Jaya menjadi alarm yang tidak bisa dianggap remeh. Kondisi ini antara lain karena faktor himpitan ekonomi dan kebutuhan harian yang berat Selain "pemain" lama, mereka juga banyak pelaku baru karena terbentur faktor ekonomi. Mereka hidup miskin.
Faktor ekonomi yang mendorong seseorang berbuat jahat seperti mencuri, menjabret dan sejenisnya paralel dengan berbagai teori kriminologi. Teori ini melihat akar persoalan tingginya kejahatan dari berbagai aspek termasuk aspek ekonomi.
Mengutip pendapat Robert K Merton dalam Strain Theory (Teori Anomi dan Ketegangan), bahwa kejahatan terjadi karena ada ketidaksesuaian antara tujuan hidup yang ideal dengan cara legal untuk mencapainya.
Artinya ketika tekanan ekonomi tinggi seperti misalnya harga kebutuhan pokok mahal tetapi untuk menjangkaunya tak berdaya, maka bisa mendorong seseorang melakukan tindakan yang menyimpang.
Baca Juga:
Tidak Ramah Disabilitas, JPO ‘Love-Hate Relationship’ di Kuningan Dibongkar Pemprov DKI Jakarta
Lapangan pekerjaan yang sulit didapat sehingga menjadi pengangguran akut juga bisa berperan mendorong seseorang memilih jalan pintas untuk memenuhi kehidupan seperti menjadi pencuri, penjahat jalanan dan kejahatan yang sejenisnya.
Teori dari Merton ini sepertinya relevan bila ditarik garis lurus dengan nasib kebanyakan rakyat di Indonesia termasuk warga yang ada di Jadetabek.
