Ekonomi Rakyat Bawah, Sebagian Besar Sebagian Besar Penghasilan Untuk Dapur

Pasar tradisional tulungagung

Pasar tradisional tulungagung(Pinterest/Foad)

FA

By Fadliansyah

Publish: 6 Oktober 2026 - 21:33 WIB
Share:

ARASVARA.ID - Tekanan biaya hidup harian tampaknya masih menjadi beban nyata bagi masyarakat kelas bawah di Indonesia. Memasuki pertengahan tahun 2026, proporsi pendapatan yang harus dikeluarkan oleh kelompok berpendapatan rendah untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari tercatat mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada 5 Oktober 2026, kelompok 20% penduduk dengan tingkat pengeluaran terendah (kuintil 1) harus mengalokasikan sebanyak 64,60% dari total anggarannya hanya untuk membeli makanan per Maret 2026.

Porsi anggaran makanan tersebut mengalami kenaikan sekitar 0,29 poin persentase jika dibandingkan dengan periode Maret 2025 yang sebelumnya berada di angka 64,31%.

Selanjutnya, BPS mengatakan, tren peningkatan alokasi belanja dapur ini ternyata tidak hanya menimpa kelompok paling miskin, melainkan merembet ke kelompok ekonomi di atasnya. Pada kelompok kuintil 2, porsi belanja pangan meningkat dari 60,90% pada Maret 2025 menjadi 61,59% pada Maret 2026, atau mengalami kenaikan sebesar 0,69 poin persentase.

​Lalu, kondisi serupa dialami oleh kelompok kuintil 3 yang mencatatkan kenaikan porsi pengeluaran pangan dari 57,95% menjadi 58,60%. Sementara itu, kelompok kuintil 4 juga mencatat kenaikan tipis dari 54,28% pada tahun sebelumnya menjadi 54,58% pada periode analisis terbaru.

Adapun, halnya dengan masyarakat kelas atas atau kelompok kuintil 5. Kelompok penduduk dengan tingkat pengeluaran tertinggi ini mencatatkan porsi belanja makanan paling kecil, yakni hanya sebesar 39,21% pada Maret 2026, sedikit bergerak dari angka 39,15% pada tahun lalu.

Pada Maret 2026, selisih alokasi belanja makanan antara masyarakat kuintil 1 dan kuintil 5 membentang jauh hingga mencapai 25,39 poin persentase.

BPS mengatakan, rata-rata secara nasional, penduduk Indonesia mengalokasikan sekitar 49,80% dari total pengeluarannya khusus untuk konsumsi makanan pada Maret 2026. Angka rata-rata nasional ini tercatat naik tipis dibandingkan posisi Maret 2025 yang berada di level 49,42%.

​Untuk memahami struktur data ini, BPS mengelompokkan populasi ke dalam lima kategori kuintil berdasarkan pengeluaran per kapita per bulan. Pengelompokan ini mengurutkan penduduk dari tingkat konsumsi yang paling rendah hingga yang paling tinggi, dengan masing-masing kuintil mencakup 20% populasi.

Selanjutnya, BPS juga menjelaskan, fenomena ini sejalan dengan Hukum Engel, yang menyatakan bahwa semakin besar proporsi pendapatan yang dihabiskan untuk konsumsi makanan, semakin rendah tingkat kesejahteraan riil masyarakat tersebut.

​Secara keseluruhan, peningkatkan proporsi belanja makanan di hampir seluruh lapisan kuintil menegaskan tantangan daya beli yang masih membayangi konsumsi rumah tangga di Indonesia hingga saat ini.

Berita Terkait

Berita Terpopuler

Memuat...

Berita Terupdate

Memuat berita terbaru…