Plot Twist Ekonomi, Rupiah Melemah Hari Ini, Imbas Yield US Treasury dan Harga Minyak yang Meroket Gila-Gilaan

Ini penyebab Rupiah melemah hari ini.

Ini penyebab Rupiah melemah hari ini.(Bank Mega)

GO

By Gabriel Omar Batistuta

Publish: 24 September 2026 - 17:24 WIB
Share:

ARASVARA.ID - Awal hari dibuka sama kabar kurang sedap dari pasar keuangan domestik. Nilai tukar Rupiah terpantau kembali loyo dan mengalami tekanan di hadapan Dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan pagi ini.

Buat kamu yang lagi mantau pergerakan dompet digital atau portofolio investasi, pelemahan mata uang garuda ini ternyata gak terjadi begitu aja, melainkan ada dorongan "angin kencang" dari ekosistem finansial global.

Berdasarkan data dan analisis pasar terkini, sentimen negatif yang menekan Rupiah dipicu oleh kombinasi lonjakan yield (imbal hasil) obligasi pemerintah AS (US Treasury) dan melambungnya harga minyak mentah dunia.

Dua instrumen makro ekonomi ini sukses bikin investor global balik arah dan main aman, sehingga aliran modal terdorong kembali ke Negeri Paman Sam.

1. Efek Domino Suku Bunga AS dan Pengetatan Moneter The Fed

Di balik melesatnya yield US Treasury, ada ekspektasi pasar yang makin kuat terkait pengetatan kebijakan moneter oleh Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).

Kebijakan suku bunga yang berpotensi ditahan tinggi dalam waktu lebih lama (higher for longer) membuat obligasi AS jadi pilihan aset aman (safe haven) yang dinilai sangat menggiurkan bagi para pemilik modal.

Ketika yield obligasi AS merangkak naik, imbal hasil yang ditawarkan aset keuangan di negara berkembang (emerging markets) termasuk Indonesia terasa jadi kurang menonjol kalau dibandingkan dengan risikonya.

Alhasil, dorongan pelemahan terhadap nilai tukar Rupiah pagi ini tak terelakkan lantaran permintaan akan Dolar AS meningkat pesat di bursa global.

2. Panasnya Harga Minyak Dunia dan Ancaman Inflasi

Faktor kedua yang gak kalah krusial adalah pergerakan harga komoditas energi, terutama minyak mentah dunia. Kenaikan harga minyak secara mendadak memicu kekhawatiran baru akan berlanjutnya ancaman inflasi di level global.

Bagi negara pengimpor minyak (net oil importer), lonjakan harga energi berarti membesarnya beban biaya impor yang berujung pada melebarnya defisit transaksi berjalan.

Ekspektasi inflasi yang membumbung tinggi akibat komoditas energi ini pada akhirnya memaksa bank-bank sentral dunia bertahan pada stance kebijakan moneter ketat.

Page 1 of 2

Berita Terkait

Berita Terpopuler

Memuat...

Berita Terupdate

Memuat berita terbaru…