ARASVARA.ID — Harga emas mengalami koreksi tajam pada 2026 setelah sebelumnya mencatat reli besar dan sempat menyentuh rekor. Kondisi tersebut membuat investor kembali mempertanyakan prospek logam mulia, mengapa harga emas anjlok, dan yang lebih penting, apakah harga emas akan turun terus pada 2026?
Trader dan edukator aset kripto Kalimasada menilai koreksi tersebut tidak bisa dilihat hanya dari satu faktor. Menurut dia, pergerakan emas dipengaruhi perubahan ekspektasi suku bunga, dolar AS, likuiditas, aksi ambil untung dan rebalancing investor besar.
Menariknya, kondisi pasar pada Senin, 17 Agustus 2026, justru menunjukkan harga emas kembali menguat. Harga emas spot naik sekitar 0,4% menjadi US$4.391,49 per troy ounce setelah data ekonomi Amerika Serikat mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve pada September. (Reuters)
Artinya, koreksi emas pada 2026 tidak berlangsung dalam satu garis lurus. Harga bisa turun tajam, kemudian kembali menguat ketika ekspektasi pasar berubah.
Mengapa harga emas anjlok pada 2026?
Kalimasada melihat salah satu penyebab utama koreksi adalah reli emas yang sebelumnya sudah sangat besar.
Ketika harga sebuah aset naik terlalu tinggi dalam waktu relatif cepat, sebagian investor akan mulai mengamankan keuntungan. Aksi profit taking, trimming dan rebalancing kemudian dapat menciptakan tekanan jual.
Kalimasada sendiri mengaku telah melakukan trimming dan rebalancing ketika harga emas berada di sekitar US$5.000 per troy ounce.
Keputusan tersebut, menurutnya, bukan berarti dirinya kehilangan kepercayaan terhadap emas. Langkah itu lebih berkaitan dengan pengelolaan risiko setelah harga mengalami kenaikan besar.
“Safe haven itu bukan berarti aset itu kebal koreksi. Karena koreksi itu part of the game,” ujarnya disitat Arasvara.ID.
Pandangan tersebut menjadi penting karena status safe haven sering disalahartikan sebagai jaminan bahwa harga emas tidak mungkin turun.
Padahal, emas tetap merupakan aset pasar yang bisa mengalami volatilitas.
Kenapa harga emas naik turun?
Ekspektasi suku bunga The Fed menjadi salah satu pemicu
Pergerakan harga emas sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat.
Emas tidak memberikan bunga atau kupon. Karena itu, ketika investor memperkirakan suku bunga dan imbal hasil aset berbasis dolar akan tetap tinggi, biaya peluang memegang emas menjadi lebih besar.
Sebaliknya, ketika pasar mulai memperkirakan suku bunga lebih rendah, emas dapat kembali menarik.
Perubahan ekspektasi tersebut terlihat jelas pada perkembangan terbaru. Pada 17 Agustus, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September sekitar 30%, turun dari 47% sebulan sebelumnya. Dolar AS juga melemah, sehingga emas menjadi lebih menarik bagi pemegang mata uang lain.
Kondisi ini menjelaskan mengapa harga emas dapat berubah cukup cepat hanya karena data ekonomi AS.
Dolar AS juga ikut menentukan
Selain suku bunga, dolar AS merupakan faktor penting dalam membaca kenapa harga emas naik turun.
Ketika dolar menguat, emas yang dihargai dalam dolar cenderung menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Kondisi tersebut dapat menekan permintaan.
Sebaliknya, ketika dolar melemah, emas menjadi relatif lebih menarik.
Pada 17 Agustus, indeks dolar AS turun sekitar 0,2% dan menjadi salah satu faktor yang mendukung kenaikan emas.
Karena itu, investor yang hanya melihat harga emas hari ini tanpa memperhatikan pergerakan dolar dan ekspektasi suku bunga bisa kehilangan konteks penting.
Perang tidak otomatis membuat harga emas naik
Ada anggapan sederhana bahwa setiap konflik geopolitik pasti membuat emas naik.
Kalimasada melihat persoalannya tidak sesederhana itu.
Perang memang bisa meningkatkan ketidakpastian dan mendorong permintaan terhadap aset safe haven. Namun konflik juga dapat mengerek harga minyak.
Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan inflasi. Jika inflasi meningkat, bank sentral justru bisa menjadi lebih hati-hati dalam menurunkan suku bunga.
Pada titik ini, efek perang terhadap emas bisa menjadi tidak langsung.
Investor tidak hanya bertanya apakah perang terjadi, tetapi juga bagaimana perang memengaruhi minyak, inflasi, suku bunga, dolar AS dan likuiditas global.
Jadi, rumus “perang naik, emas naik” tidak selalu berlaku.
Apakah harga emas bisa turun di tahun 2026?
Jawabannya masih bisa.
Kalimasada melihat harga emas masih berpotensi mengalami tekanan apabila dolar AS kembali menguat atau kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi lebih hawkish.
Kenaikan yield obligasi juga dapat menjadi tekanan karena investor mempunyai alternatif aset berimbal hasil.
Namun kemungkinan tersebut harus dilihat berdampingan dengan faktor yang mendukung emas.
Pada 17 Agustus, misalnya, emas justru kembali menguat karena data ekonomi AS yang lebih lemah membuat pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga. Harga spot naik ke sekitar US$4.391 per troy ounce.
Dengan kata lain, jawaban atas pertanyaan apakah harga emas bisa turun di tahun 2026 adalah ya, tetapi bukan berarti penurunan tersebut pasti berlanjut tanpa jeda.
Apakah harga emas akan turun terus?
Koreksi belum tentu berarti fundamental emas rusak
Kalimasada menilai investor perlu membedakan antara koreksi harga dan perubahan fundamental.
Harga dapat turun karena investor melakukan aksi ambil untung atau mengubah posisi. Kondisi tersebut berbeda dengan situasi ketika permintaan terhadap emas benar-benar hilang.
Salah satu faktor yang masih diperhatikan adalah permintaan institusional, termasuk pembelian oleh bank sentral.
Kalimasada juga menilai pertumbuhan pasokan emas relatif terbatas, sementara emas tetap memiliki fungsi sebagai penyimpan nilai dan diversifier portofolio.
Karena itu, ia tidak melihat koreksi 2026 sebagai bukti bahwa tesis emas telah berakhir.
“Jadi memang emas itu bukan aset yang selalu naik. Enggak ada sesuatu itu yang sifatnya selalu naik.”
Pernyataan tersebut sekaligus menjawab pertanyaan apakah harga emas akan turun terus. Belum tentu.
Harga emas tetap bisa kembali turun, tetapi juga dapat berbalik naik apabila kondisi makroekonomi kembali mendukung.
Grafik harga emas turun jangan dibaca sendirian
Ketika melihat grafik harga emas turun, investor sering langsung mencari satu titik, seberapa jauh harga akan jatuh?
Menurut Kalimasada, pendekatan tersebut kurang tepat jika tujuan investasinya jangka panjang.
Grafik harga perlu dibaca bersama sejumlah indikator lain, seperti dolar AS, suku bunga, yield obligasi, inflasi, arus dana investasi dan kondisi geopolitik.
Pergerakan harga pada Agustus memberikan contoh. Pada 13 Agustus, emas Comex turun 1,03% menjadi US$4.363,60 per troy ounce, tetapi pada 17 Agustus harga spot kembali naik sekitar 0,4%.
Jarak hanya beberapa hari tersebut menunjukkan bahwa koreksi tidak otomatis berarti tren turun jangka panjang.
Investor Indonesia perlu melihat nilai tukar rupiah
Ada satu faktor tambahan bagi investor Indonesia.
Harga emas dunia menggunakan dolar AS, sedangkan masyarakat Indonesia membeli emas menggunakan rupiah. Karena itu, pergerakan nilai tukar ikut memengaruhi harga emas dalam negeri.
Jika emas dunia turun tetapi rupiah melemah terhadap dolar AS, penurunan harga emas dalam rupiah bisa lebih terbatas.
Sebaliknya, jika emas dunia turun ketika rupiah menguat, tekanan terhadap harga emas domestik bisa lebih besar.
Selain itu, investor emas fisik perlu memperhitungkan spread antara harga beli dan harga jual.
Itulah sebabnya emas fisik kurang cocok jika hanya digunakan untuk mengejar keuntungan dalam hitungan beberapa minggu atau bulan.
Kalimasada: Jangan buru-buru menebak titik terendah
Menurut Kalimasada, investor tidak harus mengetahui kapan harga emas mencapai titik terendah.
Pendekatan pembelian bertahap dapat digunakan untuk mengurangi risiko salah menentukan waktu masuk pasar.
Investor dapat menentukan sebagian dana yang dialokasikan secara berkala, sesuai kemampuan dan tujuan investasi.
Dengan cara tersebut, investor tidak perlu terlalu terobsesi mencari bottom.
Kalimasada juga melihat emas lebih tepat dijadikan bagian dari strategi jangka panjang.
“Kalau kamu berpikir ya, emas itu adalah salah satu strategi jangka panjang atau strategi investasi jangka panjang... ini dijadikan suatu komponen strategis di portofolio.”
Jangan karena emas turun lalu 100 persen kekayaan masuk emas
Koreksi emas yang besar juga tidak seharusnya membuat investor langsung memindahkan seluruh kekayaan ke logam mulia.
Kalimasada justru memberikan peringatan terhadap strategi tersebut.
“Jangan sekarang karena turun 30% ya, udahlah saya 100% harta saya masukin emas.”
Menurutnya, tidak ada aset yang bebas risiko.
Karena itu, emas tetap perlu ditempatkan dalam portofolio yang terdiversifikasi.
Bagi investor yang masih mempertimbangkan emas untuk investasi, memahami risiko seperti koreksi harga menjadi bagian penting sebelum menentukan jumlah emas yang akan dimiliki. Strategi investasi sebaiknya disesuaikan dengan tujuan, jangka waktu, dan kemampuan menanggung risiko.
“Pertama kita harus melindungi diri dulu. Kalau kita tidak bisa melindungi diri ya, kita akan terus tergerus dengan yang namanya inflasi.”
Prinsip tersebut membuat pembahasan soal emas tidak berhenti pada pertanyaan apakah harganya akan naik atau turun.
Investor juga perlu menentukan berapa besar alokasi yang sesuai dengan kondisi keuangannya.
Lalu, apakah emas masih layak diperhatikan pada 2026?
Koreksi harga emas pada 2026 memang menunjukkan bahwa logam mulia tidak kebal terhadap tekanan pasar.
Namun pergerakan terbaru juga menunjukkan bahwa sentimen dapat berubah dengan cepat. Pada 17 Agustus, harga emas kembali naik ketika dolar melemah dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed berkurang.
Karena itu, pertanyaan mengapa harga emas anjlok tidak bisa dijawab dengan mengatakan bahwa emas sudah kehilangan status safe haven.
Menurut Kalimasada, koreksi lebih tepat dilihat sebagai bagian dari dinamika pasar setelah reli besar dan perubahan kondisi makroekonomi.
Untuk investor, pesan yang paling penting bukan mencoba menebak harga emas besok.
Yang perlu dipertimbangkan adalah tujuan investasi, jangka waktu, toleransi risiko dan besarnya alokasi emas dalam portofolio.
Sebab, seperti yang disampaikan Kalimasada, “Tidak ada yang tahu pasti apa yang akan terjadi di pasar.”
Dan justru karena tidak ada yang tahu pasti, strategi investasi tidak seharusnya dibangun hanya berdasarkan tebakan apakah harga emas akan naik atau turun besok.