Arasvara.ID - Banyak dari kalian dulu pasti termasuk orang yang melihat emas dengan cara sederhana, ya kalau harga naik, berarti bagus, kalau turun berarti tunggu. Ternyata pola pikir seperti itu justru bikin keputusan investasi jadi gampang kebawa suasana.
Apalagi ketika harga emas bergerak cepat. Ada masa ketika rasanya semua orang membicarakan emas, lalu muncul rasa FOMO untuk ikut beli. Di sisi lain, ketika harga turun beberapa persen, mulai muncul pertanyaan, “Wah, jangan-jangan saya salah beli?”
Kalau Anda sedang mencari emas untuk investasi, pertanyaan yang lebih penting sebenarnya bukan sekadar “emas akan naik atau turun?”, tetapi untuk apa emas itu dibeli, berapa lama akan disimpan, dan bagaimana cara menjualnya kembali.
Emas untuk Investasi Sebaiknya Mulai dari Berapa Gram?
Tidak ada angka saklek mengenai berapa gram emas untuk investasi. Untuk investasi emas untuk pemula, para praktisi justru lebih menyarankan memulai dari nominal yang tidak mengganggu kebutuhan sehari-hari.
Misalnya punya dana Rp2 juta, jangan merasa harus langsung membeli emas sebanyak mungkin hanya karena takut harga semakin mahal. Emas seharusnya menjadi bagian dari alokasi aset, bukan mengambil seluruh uang yang tersedia.
Sebagai gambaran, harga dasar emas batangan ANTAM pada 15 Agustus 2026 tercatat Rp2.675.000 untuk 1 gram, Rp5.290.000 untuk 2 gram, dan Rp13.150.000 untuk 5 gram.
Harga tersebut belum termasuk komponen pajak yang tercantum di laman resmi Logam Mulia.
1 Gram atau 5 Gram, Mana yang Lebih Bagus?
Kalau harus memilih untuk pemula, gramasi kecil tentu punya satu kelebihan besar, fleksibilitas.
Emas 1 gram lebih mudah dibeli secara bertahap dan relatif lebih mudah dicairkan sebagian. Sebaliknya, ukuran yang lebih besar biasanya lebih efisien dari sisi harga per gram, tetapi membutuhkan modal lebih besar.
Jadi, emas yang bagus untuk investasi bukan selalu yang gramasi paling besar. Yang bagus adalah emas yang sesuai dengan kemampuan, tujuan keuangan, dan rencana penyimpanan Anda.
Emas Batangan atau Perhiasan untuk Investasi?
Ini salah satu kesalahan yang cukup sering terlihat. Orang membeli perhiasan dengan alasan investasi, lalu kaget ketika mengetahui harga jual kembali tidak sama dengan harga saat membeli.
Untuk tujuan investasi, banyak orang cenderung memilih emas batangan untuk investasi dibandingkan perhiasan.
Kenapa? Karena pada emas batangan, fokus utamanya adalah berat dan kadar emas. Sementara pada emas perhiasan untuk investasi, harga yang dibayar bisa mengandung ongkos pembuatan, desain, dan margin toko.
Kapan Emas Perhiasan Masih Masuk Akal?
Bukan berarti emas perhiasan untuk investasi selalu buruk.
Kalau memang ingin memakai perhiasan sekaligus menyimpan nilai, perhiasan masih masuk akal. Tetapi jangan menghitung seluruh harga beli sebagai nilai investasi.
Coba bayangkan skenario sederhana membeli cincin Rp8 juta, lalu beberapa tahun kemudian menjualnya ketika harga emas naik. Secara teori harus untung karena harga emas naik, tapi ternyata hasil jual kembali belum tentu Rp8 juta ditambah kenaikan harga emas.
Di situlah konsep harga beli, harga jual, dan harga buyback menjadi penting.
Jangan Lihat Harga Emas Saja, Perhatikan Spread
Kalau ada satu hal yang wajib dipahami sebelum beli emas untuk investasi, itu adalah spread.
Spread adalah selisih antara harga ketika kita membeli emas dan harga ketika emas tersebut bisa dijual kembali. Kalau spread-nya besar, harga emas harus naik cukup jauh dulu sebelum posisi investasi benar-benar menghasilkan keuntungan.
ANTAM sendiri menyediakan informasi harga buyback dan layanan simulasi buyback. Dalam informasi resminya, harga buyback mengacu pada harga yang berlaku pada hari transaksi, bukan tahun produksi emas.
Contoh Sederhana Cara Menghitung Untung
Misalnya Badu membeli emas ketika harga efektifnya Rp2,7 juta per gram.
Beberapa waktu kemudian harga buyback menjadi Rp2,9 juta. Secara kasar ada selisih Rp200 ribu per gram yang didapat Badu, tetapi angka tersebut belum tentu sama dengan keuntungan bersih karena masih harus memperhatikan spread, pajak, biaya transaksi, dan biaya lain jika ada.
Itulah mengapa cara investasi emas agar untung bukan dengan menebak harga besok pagi.
Lebih baik melihatnya seperti ini, beli aset berkualitas, pahami biaya masuk dan keluarnya, kemudian beri waktu yang cukup.
Apakah Emas Masih Menarik pada Agustus 2026?
Nah, bagian ini menarik karena kondisi pasar emas pada Agustus 2026 memang tidak bisa disebut tenang.
Pada 14 Agustus, Reuters melaporkan harga emas spot naik sekitar 0,7% ke US$4.379,95 per troy ounce setelah dolar AS melemah dan data inflasi memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve mungkin mempertahankan suku bunga pada pertemuan September.
Tetapi jangan langsung diterjemahkan menjadi “emas pasti naik”.
Sehari sebelumnya, emas juga mengalami tekanan dan harga masih jauh di bawah rekor US$5.318,40 per ounce yang tercatat pada Januari 2026. (The Wall Street Journal)
Bagi sebagian kalangan, ini contoh yang bagus bahwa harga emas untuk investasi bisa bergerak sangat cepat. Bahkan aset yang selama ini dianggap relatif defensif tetap mengalami volatilitas.
Tauhid Ahmad: Jangan Kejar Emas untuk Jangka Pendek
Ekonom dan Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad menekankan bahwa emas kurang tepat jika tujuan investasinya terlalu pendek, terutama di bawah lima tahun.
Dalam materi wawancara yang menjadi bahan artikel ini, ia menyarankan emas lebih cocok dicicil untuk tujuan jangka panjang dan tidak harus menunggu harga berada di titik terendah.
Ini masuk akal. Masalahnya, kita sering ingin membeli tepat di harga terendah dan menjual tepat di harga tertinggi. Kedengarannya keren, tapi praktiknya susah banget.
Tiga Hal yang Menggerakkan Harga Emas
Anda juga jangan menganggap bahwa emas selalu naik karena inflasi. Ceritanya lebih kompleks.
Ada setidaknya tiga faktor besar yang perlu diperhatikan: ketakutan atau ketidakpastian pasar, pergerakan dolar AS, dan tingkat imbal hasil riil atau real yield.
Ketika investor takut terhadap perang, krisis keuangan, inflasi, atau ketidakpastian ekonomi, emas bisa mendapatkan permintaan sebagai aset pelindung. Sebaliknya, dolar AS yang menguat dan imbal hasil aset berbunga yang menarik dapat menjadi tekanan bagi emas.
Ini sebabnya risiko investasi emas tetap ada. Emas bukan deposito yang memberikan bunga tetap dan bukan saham perusahaan yang menghasilkan dividen.
Kesalahan Terbesar: Membeli Emas karena FOMO
Kerugian investasi emas sering bukan semata-mata karena emasnya jelek. Masalahnya adalah cara membelinya.
Saat harga naik tajam, berita tentang emas biasanya muncul di mana-mana. Teman mulai cerita untung, media membahas rekor harga, lalu muncul pikiran, “Kalau enggak beli sekarang, nanti kemahalan.”
Ada beberapa pengalaman yang acap muncul dalam testimoni sosial media. Ada yang mengaku pernah membuat kesalahan yang sama dalam simulasi investasi, karena terlalu fokus pada kenaikan harga dan lupa bertanya, “Kalau besok turun 10 persen, saya masih nyaman pegang aset ini enggak?”
Itu pertanyaan sederhana, tapi penting.
Jangan Gunakan Dana Darurat
Cara investasi emas yang sehat seharusnya dimulai dari uang yang memang dialokasikan untuk investasi.
Dana darurat tetap harus dipisahkan. Jangan sampai emas dibeli hari ini, kemudian tiga bulan lagi harus dijual karena ada kebutuhan mendadak.
Kalau terpaksa menjual saat harga sedang turun, potensi capital gain yang seharusnya didapat dalam jangka panjang malah berubah menjadi kerugian nyata.
Strategi Investasi Emas yang Lebih Masuk Akal
Kalau harus membuat pola sederhana, ada baiknya memilih pembelian bertahap.
Misalnya anggaran investasi emas Rp1 juta–Rp2 juta per bulan. Tidak perlu dipaksakan membeli setiap bulan jika nominal tersebut belum cukup untuk gramasi yang diinginkan; dana bisa dikumpulkan terlebih dahulu sesuai produk yang tersedia.
Strategi seperti ini membantu mengurangi kebiasaan menebak titik terendah.
Tentukan Tujuan Sebelum Membeli
Emas untuk investasi jangka panjang akan lebih mudah dipertahankan kalau tujuan keuangannya jelas.
Misalnya untuk pendidikan anak, dana pensiun, atau diversifikasi portofolio. Jangan membeli emas hanya karena “katanya aman”.
Tauhid Ahmad juga menjelaskan bahwa emas dapat dicicil untuk kebutuhan jangka panjang dan tidak harus menunggu harga terendah.
Jadi, Apakah Emas Bisa Bikin Untung?
Bisa, tetapi hal yang perlu digaris bawahi adalah salah jika anggap emas adalah mesin pencetak uang.
Keuntungan investasi emas terutama bergantung pada kenaikan harga dalam jangka waktu yang cukup, dikurangi spread dan biaya yang muncul saat transaksi.
Emas juga punya fungsi lain dalam portofolio, yaitu diversifikasi. Jadi, pertanyaan yang lebih tepat bukan “berapa persen keuntungan emas tahun ini?”, tetapi “berapa porsi emas yang masuk akal dalam kondisi keuangan kita?”
Pada akhirnya, emas untuk investasi paling masuk akal diperlakukan sebagai aset penyimpan nilai dan diversifikasi, bukan tiket untuk cepat kaya.
Kalau kalian mulai dari nol, ada baiknya lakukan tiga hal: membeli sesuai kemampuan, memilih produk dengan likuiditas dan buyback yang jelas, lalu menyiapkan horizon investasi panjang.
Dan satu hal lagi, jangan FOMO.
Harga emas bisa naik tinggi, tetapi bisa juga terkoreksi cukup dalam. Pada Agustus 2026 saja, pasar menunjukkan bahwa pergerakan emas tetap sensitif terhadap dolar AS, suku bunga, inflasi, dan sentimen geopolitik. (Reuters)
Dan hasilnya, investasi yang bagus bukan investasi yang selalu naik. Investasi yang bagus adalah investasi yang masih bisa kita pegang dengan tenang ketika harga sedang tidak sesuai harapan.
