ARASVARA.ID — Angin berembus pelan menyapu atap-atap ilalang yang tersisa di Desa Adat Sade, Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Di tengah lanskap adat yang memikat, keheningan berbisik dari balik reruntuhan puing kayu dan sisa-sisa material yang meranggas.
Sade dikenal luas sebagai benteng tradisi suku Sasak yang merawat ingatan masa lalu secara bersahaja. Namun, jejak kehangatan itu teruji ketika kebakaran hebat melanda kawasan permukiman adat ini pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026, sekitar pukul 20.00 hingga 22.06 WITA. Dalam kurun waktu dua jam, kobaran api dengan cepat menghanguskan sekitar 129 hingga 150 rumah adat (bale) berlapis dinding anyaman bambu.
Bencana ini meluluhlantakkan kain tenun, harta benda, serta perabotan warga, dengan estimasi kerugian material mencapai puluhan miliar rupiah.
Di tengah desakan untuk merawat kembali warisan budaya, warga Sade kini harus bertumpu pada kaki mereka sendiri. Hingga kini, belum ada ulur tangan atau bantuan finansial dari pihak pemerintah. Denyut pemulihan yang berjalan perlahan sejauh ini hanya ditopang oleh kepedulian figur publik seperti Raffi Ahmad serta uluran tangan beberapa komunitas mancanegara.
Keteguhan itu terpancar jelas dari raut wajah para tetua dan pengrajinnya. Amak Nawi (66), seorang petani yang lahir dan tumbuh di tanah ini, mengusap fondasi rumahnya seraya bertutur lirih. "Meminjam duit dari keluarga yang tidak terkena kebakaran, karena tidak ada bantuan pemerintah. Dapat pinjam 1,2 juta," ujar Amak Nawi.
Matanya menatap menerawang ke balik balok kayu yang baru setengah terpasang. "Harapannya ada bantuan pemerintah berupa uang karena tidak ada modal untuk bangun rumah, ini saja pinjam."
Tak jauh dari situ, denting kayu alat tenun terdengar samar. Bagi perempuan Sade, menenun bukan sekadar mata pencaharian, melainkan identitas yang tak boleh padam. Inak Najwa (44) merapi helai benang dengan jemari terampil namun getir. "Pengennya dibeliin alat menenun supaya bisa punya penghasilan. Ini kami sewa punya desa lain," ungkapnya.
Di antara sunyi dan asa yang kembali dipintal perlahan, suku Sasak di Sade terus berjuang merajut ulang rumah dan kehidupan mereka—menjaga warisan luhur agar tak sirna digilas ketidakpastian.