ARASVARA.ID - Jakarta memiliki beragam patung yang tersebar di beberapa titik, salah satunya yang paling menonjol adalah Patung Tugu Tani di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
Di tengah hiruk pikuk jalan Menteng, berdiri kokoh sebuah monumen perunggu yang menyandang nama sakral Patung Pahlawan atau biasa dikenal dengan Tugu Tani.
Pahatan Tugu Tani telah menjadi saksi bisu perjalanan bangsa Indonesia selama lebih dari enam dekade hingga saat ini. Bangunan yang menjadi salah satu ikon Jakarta ini merupakan ide Soekarno pada masa itu, yang terinspirasi dari kunjungannya ke Uni Soviet.
Sebagai simbol perjuangan, Tugu Tani turut menjadi lokasi yang dikunjungi oleh demonstran saat melakukan unjuk rasa, seperti yang terjadi baru-baru ini pada Selasa, 20 Oktober 2026 kemarin, ketika puluhan mahasiswa berkumpul di bawah Patung Pahlawan tersebut.
Lantas, bagaimana sejarah sekaligus makna di balik pembuatan Tugu Tani tersebut? Simak pembahasan selengkapnya di bawah ini.
Sejarah Tugu Tani
Melansir dari berbagai sumber, pembuatan Tugu Tani bermula dari kunjungan Presiden Soekarno ke Uni Soviet di tahun 1960. Pada masa itu, Bung Karno terkesan dengan gaya patung realisme sosialis yang ada di sana.
Lantas, ia memiliki ide untuk membuat monumen guna memperingati perjuangan bangsa Indonesia. Presiden Soekarno memerintahkan Adam Malik, sebagai Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet di masa itu, agar mencari pematung.
Dua seniman patung bernama Matvey Manizer dan Otto Manizer kemudian diperkenalkan oleh pemimpin Uni Soviet, Nikita Khrushchev kepada Presiden Soekarno dan Adam Malik.
Ide Bung Karno untuk memiliki sebuah monumen pun diwujudkan oleh kedua seniman asal Uni Soviet, hingga akhirnya terwujud lah sebuah patung yang disebut dengan nama Tugu Tani.
Riset pembangunan Tugu Tani dilakukan ke wilayah Jawa Barat, sampai bertemu sebuah inspirasi dari kisah seorang ibu yang penuh ikhlas melepas anaknya untuk berangkat ke medan perang di Irian Barat.
Gambar dan bentuk patung tersebut merupakan inisiasi Presiden Soekarno yang secara garis besar menggambarkan pejuang Indonesia yang dilepaskan oleh sang Ibu dengan penuh ridho dan keikhlasan menuju perang pembebasan Irian Barat saat itu.
Visual Tugu Tani
Secara visual, patung ini menampilkan sosok pria yang memakai caping atau penutup kepala khas petani. Ia juga tampak membawa senjata laras panjang yang menggantung di belakang punggungnya.
Sementara itu, di sampingnya terdapat seorang wanita dengan penampilan khas Indonesia yakni memakai sanggul di kepala serta pakaian kebaya.
Wanita tersebut digambarkan sebagai sosok ibu yang melepas anaknya berperang. Terlihat tangannya mengulurkan bekal makanan sebagai simbol restu dan dukungan untuk kemakmuran ibu pertiwi.
Pemilihan figur anak laki-laki dengan senjatanya dan ibu yang berdiri di sisinya, menegaskan bahwa perjuangan kemerdekaan adalah milik seluruh rakyat Indonesia.
Makna dalam Patung Tugu Tani
Tugu Tani berdiri kokoh di tengah gedung-gedung tinggi yang mengelilingi Kota Jakarta Pusat, tepatnya penghubung kawasan Gambir, Monas, Cikini, Menteng, dan Pasar Senen.
Jika melewati kawasan tersebut, kamu tentu saja bisa langsung melihat patung Tuga Tani dengan jelas menghiasi jalanan.
Meskipun memiliki makna perjuangan pemuda Indonesia yang membantu militer dalam dalam membebaskan Irian Barat dari cengkraman Belanda, patung ini pun sempat menimbulkan kontroversi karena dianggap sebagai lambang komunis.
Asumsi tersebut datang karena sosok petani dengan senjata yang menjadi visualnya. Beberapa pihak menafsirkan sebagai simbol Angkatan Kelima atau gagasan Partai Komunikasi Indonesia (PKI) dan tidak melambangkan perjuangan petani di Indonesia.
Meski begitu, fakta bahwa Tugu Tani dibuat sebelum adanya peristiwa G30SPKI menjadi bukti bahwa patung ini sudah direncanakan dan muncul sejak era Soekarno kunjungan ke Uni Soviet, atau kini Rusia.
Tugu Tani mempunyai pesan menarik dari Presiden Soekarno yang ditulis dalam ejaan lama pada masa itu, dengan bunyi bahwa "Hanya bangsa yang menghargai pahlawannya dapat menjadi bangsa yang besar".
Hal tersebut lantas menjadi pengingat bagi masyarakat Indonesia untuk senantiasi menghargai para pahlawan, sekaligus bukti perjuangan kemerdekaan yang merupakan milik segala bangsa, termasuk rakyat biasa dan petani.
Aksi Unjuk Rasa Mahasiswa di Tugu Tani
Pada hari Selasa, 20 Oktober 2026 kemarin, puluhan mahasiswa berkumpul menutup ruas jalan sekitar patung Tugu Tani untuk menjalankan aksi dan orasi.
Unjuk rasa tersebut digelar tepat dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo-Girang dengan lima tuntutan yang disuarakan, di antaranya adalah menetapkan Karhutla serta bencana banjir sebagai bencana nasional, memperbaiki tata kelola kebijakan ekonomi, menghentikan pembatasan kebebasan berpendapat, memberantas maraknya praktik KKN, dan menurunkan biaya pendidikan, kesehatan, serta layanan publik yang mahal.
Demo mahasiswa yang dilakukan oleh gabungan dari berbagai kampus di Indonesia ini bukan sekadar evaluasi semata, melainkan bentuk kekecewaan atas apa yang melanda bangsa belakangan ini.
Demikian penjelasan tentang Patung Pahlawan atau biasa disebut Tugu Tani yang bisa kamu ketahui secara lengkap mulai dari sejarah hingga maknanya.
