ARASVARA.ID - Perbedaan pendapat antara anak dan orang tua menjadi hal yang wajar terjadi dalam kehidupan keluarga yang muncul ketika anak sudah tumbuh dewasa, memiliki pemikiran sendiri, hingga ingin menentukan pilihan terkait pendidikan, pergaulan, karir hingga gaya hidup.
Dalam kehidupan sehari-hari, anak dan orang tua terkadang memiliki sudut pandang yang berbeda terjadi karena pengalaman, lingkungan hingga generasi yang tidak lagi sama.
Melansir dari UNICEF Indonesia, biasanya orang tua mengutamakan keamanan da pengalaman hidup, sedangkan anak ingin mendapat kebebasan untuk mendapat hal baru. Sebenarnya dengan komunikasi yang terbuka, empati dan sikap saling menghormati menjadi bagian penting untuk membangun hubungan yang sehat antara orang tua dan anak.
Mengapa Perbedaan Pendapat antara Anak dan Orang Tua Bisa Terjadi?
Perbedaan pendapat antara anak dan orang tua disebabkan oleh beberapa cara salah satunya pengalaman hidup, lantaran orang tua tumbuh dalam lingkungan dan kondisi berbeda terkait pandangan pendidikan, pekerjaan, pergaulan dan cara menjalani hidup.
Sementara, anak menghadapi perkembangan zaman dengan informasi dan kebiasaan yang berbeda menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)
Selain itu, keinginan anak mudah untuk menjadi lebih mandiri juga bisa memicu perbedaan pandangan ketika memasuki masa remaja, anak biasanay mulai membentuk identitas, menentukan pilihan dan mengembangkan kemampuan mengambil keputusan.
Kondisi ini terkadang membuat anak ingin memiliki ruang lebih besar untuk menyampaikan pendapat.
Menilik informasi dari UNICEF, kebutuhan akan kemandirian dan otonomi menjadi bagian yang harus diperhatikan dalam hubungan orang tua dan anak remaja.
Menurut Kementerian PPPA, Faktor lain seperti komunikasi kurang efektif membuat anak merasa tidak didengarkan, sedangkan orang tua merasa nasihatnya tidak dihargai.
Jika hal di atas terus terjaid, maka kedua pihak akan mempertahankan pendapatnya masing-masing tanpa berusaha memahami alasan di baliknya hingga menjadi persoalan yang besar.
Cara Menghadapi Perbedaan Pendapat antara Anak dan Orang Tua
1. Belajar Mendengarkan Pendapat Satu Sama Lain
Langkah pertama kamu harus menghadapi perbedaan pendapat dengan memberikan kesempatan kepada kedua belah pihak untuk berbicara.
Anak perlu mendengarkan alasan orang tua dan begitu juga sebaliknya untuk bisa memahami satu sama lain.
Jangan terburu-buru untuk memotong pembicaraan dan memberikan penilaian sebelum seseorang selesai menjelaskan pendapatnya dengan jelas.
2. Menghindari Emosi Saat Berdiskusi
Ketika terjadi perbedaan pendapat, emosi yang tidak terkendali bisa membuat pembicaraan berubah menjadi pertengkaran, dengan begitu anak dan orang tua harus menjaga nada bicara dan tidak mengeluarkan kata-kata menyakitkan.
Jika suasana memanas, tidak salah untuk menghentikan pembicaraan sementara waktu dan memberi kesempatan untuk menenagkan diri sebelum dilanjut.
Menurut UNICEF, Pendekatan komunikasi yang tenang dan penuh perhatian dianjurkan ketika orang tua membicarakan persoalan sensitif dengan anak.
3. Pahami Sudut Pandang Masing-Masing
Setiap orang memiliki pengalaman dan alasan yang berbeda ketika mengambil keputusan, orang tua mungkin khawatir jika didasari pengalaman masa lalu, sedangkan anak ingin mendapat kesempatan untuk mencoba segala sesuatu sesuai dengan minat dan kemampuan.
Dengan begitu, kamu jangan langsung menentukan pihak yang salah, sebiaknya pahami alasan yang mendasarinya, anak bisa bertanya kepada orang tua yang tidak setuju dengan pilihan.
Sementara orang tua bisa menanyakan pertimbangan anak ketika mengambil keputusan agar bisa membangun komunikasi yang lebih terbuka.
4. Gunakan Bahasa Sopan dan Tidak Menyudutkan
Pemilihan kata menjadi pengaruh besar ketika kamu melakukan diskusi antara anak dan orang tua, hindari kalimat menyalahkan, merendahkan, menyerang karakter untuk menyampaikan ketidaksetujuan.
Jika tidak ingin merasa tidak didengar, kamu bisa mencoba kalimat ini "Aku ingin menjelaskan alasanku supaya kita bisa saling memahami".
Selain itu, orang tua juga bisa menyampaikan kekhawatirannya tanpa meremehkan pemikiran anak untuk melakukan komunikasi saling menghormati.
5. Mencari Jalan Tengah
Tidak semua perbedaan pendapat harus berakhir dengan satu pihak yang mengalah sepenuhnya, melainkan anak dan orang tua bisa mencari solusi untuk bisa mempertimbangkan kebutuhan dan kepentingan bersama.
Terlebih, jika anak ingin menentukan jurusan kuliah yang berbeda dari harapan orang tua, keduanya bisa membicarakan peluang karir, kemampuan akademik, biaya pendidikan hingga minat anak secara rinci.
Dengan begitu, keputusan antara kedua belah pihak akan berlangsung secara netral dan tidak ada keberatan satu sama lain.
7. Hargai Perbedaan dan Tidak Memaksa
Anak dan orang tua harus memahami jika adanya perbedaan pendapat agar hak yang dimiliki dapat tersampaikan selama memperhatikan tanggung jawab, keselamatan dan batasan tertentu.
Dampak Positif Menghargai Perbedaan Pendapat dalam Keluarga
Menghadapi perbedaan pendapat dengan cara sehat bisa memberikan manfaat bagi hubungan keluarga seperti komunikasi yang terbuka hingga anak dan orang tua tidak takut untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya.
Selain itu, kamu juga harus melakukan diskusi untuk membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir krits dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Manfaat lainnya juga bisa memperkuat rasa saling percaya, kedekatan emosional hingga anak merasa didengar dan dihargai pendapatnya.
Sekian informasi terkait perbedaan pendapat antara anak dan orang tua yang bisa disikapi dengan benar.
Dapatkan informasi dan berita terupdate melalui arasvara.id
