ARASVARA.ID - Di tengah banyaknya film Netflix, film bioskop, hingga serial baru yang hadir di berbagai platform streaming, tak sedikit penonton justru memilih menyaksikan film era 2000-an.
Meski sudah familier dengan jalan ceritanya, namun menonton ulang film era 2000-an tetap memberikan sensasi yang sulit ditemukan saat menonton film atau serial terbaru.
Dalam dunia psikologi, kebiasaan menonton film lawas ini berkaitan dengan emotional regulation atau kemampuan mengelola emosi.
Menurut kajian yang diterbitkan dalam jurnal Social and Personality Psychology Compass pada Desember 2025, kebiasaan ini dapat memberikan rasa nyaman, membantu mengelola emosi, dan memperkuat hubungan seseorang dengan kenangan lama.
Alasan Seseorang Suka Menonton Film Berulang Kali
Salah satu alasan seseorang kembali menonton film era 2000-an atau film favoritnya berulang kali adalah rasa familier yang muncul.
Ketika seseorang menyaksikan film yang sudah ia kenal, ia tidak perlu lagi menebak-nebak alur cerita atau akhir kisah dari film tersebut.
Hal ini juga berkaitan dengan beban kognitif yang lebih rendah karena otak sudah mengenali informasi dalam cerita.
Akibatnya, pengalaman menonton terasa lebih santai, terutama setelah menjalani aktivitas yang melelahkan.
Selain itu, kebiasaan menonton ulang film juga dapat menjadi salah satu cara seseorang mengatur suasana hati.
Film yang memiliki cerita menyenangkan atau akhir yang sudah diketahui bisa memberikan pengalaman emosional yang lebih mudah diprediksi.
Film Era 2000-an Masih Digemari
Selain familiaritas, nostalgia turut menjadi alasan mengapa film era 2000-an masih memiliki tempat tersendiri.
Gaya berpakaian, musik, hingga suasana khas dalam film periode tersebut dapat mengingatkan penonton pada pengalaman masa kecil atau remaja.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Social Psychology pada Mei 2026 menemukan bahwa nostalgia memiliki sejumlah manfaat psikologis, termasuk berkaitan dengan kesejahteraan, hubungan sosial, dan pemaknaan hidup.
Tidak heran jika menonton kembali film seperti Mean Girls (2004), 13 Going on 30 (2004), atau She's the Man (2006) bisa menghadirkan perasaan akrab sekaligus membangkitkan kenangan tertentu.
Fenomena ini juga sejalan dengan tren Y2K yang kembali menarik perhatian generasi muda, khususnya Gen Z.
Estetika fashion, musik, dan budaya populer awal 2000-an membuat film dari periode tersebut kembali menjadi bahan perbincangan.
Di sisi lain, banyaknya pilihan tontonan di layanan streaming juga bisa membuat seseorang kesulitan menentukan film yang ingin disaksikan.
Fenomena ini dikenal sebagai choice overload, yaitu kondisi ketika terlalu banyak pilihan justru membuat proses pengambilan keputusan terasa lebih rumit.
Dalam situasi seperti ini, kembali memutar film favorit menjadi pilihan praktis. Penonton tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk mencari film baru yang belum tentu sesuai selera.
Itu dia beberapa alasan yang membuat tren menonon film era 2000-an masih menarik perhatian hingga sekarang.
