ARASVARA.ID - Baju thrift kini menjadi salah satu pilihan fashion bagi Gen Z yang ingin tampil stylish tanpa harus selalu membeli pakaian baru.
Mulai dari kaus vintage, baby tee ala Y2K, hingga jaket oversized khas streetwear, pakaian hasil thfiting menawarkan banyak pilihan untuk menciptakan outfit yang unik.
Thrifting juga bukan sekedar aktivitas berburu barang murah saja, melainkan bagian dari cara anak muda mengekspresikan diri lewat fashion.
Popularitas baju thrift di kalangan Gen Z juga semakin terlihat melalu media sosial. Konten seperti thrift haul, inspirasi outfit of the day (OOTD), hingga video mix and match membuat pakaian secondhand semakin lekat dengan tren fashion masa kini.
Barang yang dahulu dianggap ketinggalan zaman justru bisa terlihat menarik ketika dipadupadankan dengan item modern.
Fenomena tren thrifting ini turut didukung oleh penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Communication yang diterbitkan pada September 2026 lalu.
Studi terhadap tujuh partisipan Gen Z di Jabodetabek menemukan bahwa thrifting berkaitan dengan keterjangkauan harga, kualitas pakaian, ekspresi identitas, kesadaran lingkungan, dan pengaruh media digital.
Temuan ini juga memperlihatkan bahwa ada beragam alasan di balik ketertarikan anak muda terhadap pakaian bekas, bukan semata-mata karean harganya yang murah,
Tren Fashion ala Y2K hingga Streetwear Kembali Populer
Salah satu daya tarik baju thrift adalah kesempatan untuk menemukan kembali gaya fashion dari era sebelumnya.
Tren Y2K, yang terinspirasi dari akhir tahun 1990-an hingga awal 2000-an, identitk dengan baby tee, denim berpotongan rendah, tas bahu mini, jaket sporty, dan aksesori mencolok.
Fashion item tersebut kembali mendapat perhatian Gen Z karena membuat tampilan terlihat retro yang bisa disesuaikan dengan selera masa kini.
Selain Y2K, streetwear juga menjadi inspirasi dalam memadukan pakaian thrift. Hoodie, jersey, jaket varsity, kaus oversized, dan celana cargo biasanya menjadi pilihan item yang banyak diburu saat thrifting.
Menariknya, pakaian thrift tidak harus digunakan dalam satu gaya tertentu saja. Fleksibilitas inilah yang membuat kegiatan berbelanja barang vintage menarik bagi mereka yang senang bereksperimen.
Mengapa Gen Z Suka Berburu Baju Thrift?
1. Fleksibel untuk Bereksperimen dengan Harga Terjangkau
Seperti yang kita tahu, salah satu alasan banyak orang memilih untuk thrifting daripada membeli koleksi fashion terbaru adalah karena harga yang lebih terjangkau.
Thrfiting memungkinkan pembeli mencari berbagai model baju dengan anggaran yang lebih fleksibel, termasuk item vintage yang mungkin sulit ditemukan di toko biasa.
2. Bisa Menemukan Pakaian Unik
Di tengah tren fashion yang cepat berubah, sebagian anak muda justru ingin memiliki gaya yang tidak terlihat seragam.
Sebab, pakaian yang dibeli dari tempat thrift menawarkan beragam potongan, motif, warna, dan detail dari periode yang berbeda.
Kebiasaan belanja barang secondhand juga menyoroti keinginan Gen Z untuk menemukan pakaian vintage yang unik, memiliki karakter, dan tetap dengan harga yang terjangkau.
3. Pengaruh Media Sosial dan Pop Culture
TikTok dan Instagram sebagai platform media sosial terbesar saat ini juga menjadi ruang untuk menemukan inspirasi fashion, mulai dari referensi gaya selebritas hingga rekomendasi toko thrift.
Konten kreator yang membagikan hasil berburu pakaian bekas juga membantu memperkenalkan berbagai cara untuk memadukan item lama menjadi outfit kekinian.
Dalam penelitian yang diterbitkan Frontiers in Communication, media sosial seperti TikTok dan Instagram turut berperan dalam penyebaran informasi tentang thrfiting melalui rekomendasi algoritma, interaksi antarpengguna, dan konten buatan penggunanya.
Artinya, media sosial bukan hanya tempat untuk memamerkan outfit saja, tetapi juga menjadi ruang untuk menemukan referensi fashion dengan komunitas yang memiliki selera serupa.
4. Pertimbangan untuk Konsumsi Fashion dengan Bijak
Tak hanya tiga alasan di atas, sebagian konsumen juga tertarik pada pakaian secondhand karena ingin memperpanjang masa pakai barang dan mengurangi pembelian pakaian baru.
Penelitian yang diterbitkan dalam Social Indicators Research pada 2024 menemukan bahwa Gen Z cenderung lebih suka membeli pakaian bekas dibandingkan dengan Gen Y.
Sebaliknya, Gen Y lebih suka memilih pakaian organik atau ramah lingkungan. Hasil ini menunjukkan adanya perbedaan pola pembelian, meskipun tidak berarti semua Gen Z memiliki motivasi yang sama.
Meski begitu, penting untuk tetap selektif saat membeli baju thrift dan tidak menjadikan harga murah sebagai alasan untuk implusif berbelanja.
Demikian pembahasan mengenai popularitas baju thrift di kalangan Gen Z dan alasan mengapa tren Y2K hingga streatwear masih digemari.
