ARASVARA.ID - Belakangan ini, banyak orang yang mengganti foto profil akun media sosial pribadi mereka dengan konsep hitam putih dan melabeli diri sebagai silent majority.
Tidak hanya itu, foto tersebut juga disertai dengan tagar bertuliskan #silentmajority dan #stillPrabowo. Mereka menyatakan momen tersebut sebagai bentuk dukungan kepada pemerintahan, terutama presiden Prabowo Subianto.
Tentu saja, hal ini menarik perhatian warganet. Respon mereka terbagi menjadi, yaitu kubu pendukung dan penentang gerakan tersebut.
Apa Itu Silent Majority?
Silent majority artinya "mayoritas yang diam". Kalimat tersebut berasal dari bahasa Inggris, sering digunakan pada kelompok besar masyarakat yang tidak menyuarakan pendapatnya di muka publik.
Istilah ini telah populer di Amerika Serikat sejak era Presiden Richard Nixon tahun 1969. Pada saat itu, terdapat masyarakat yang mendukung kebijakan mengenai perang Vietnam, namun tidak ikut turun ke jalan.
Hal ini membuat mereka serupa dengan kelompok-kelompok yang vokal menentang peperangan. Sejak itu, istilah tersebut digunakan di berbagai negara untuk menggambarkan kelompok yang diam tapi telah menentukan pilihannya.
Apa Arti Silent Majority dalam Politik?
Dalam politik, silent majority menjadi bentuk perlawanan terhadap kelompok yang aktif menyuarakan sikap politiknya di ruang publik, baik melalui unggahan media sosial maupun komentar yang berseliweran.
Ramainya pembahasan di ruang publik bukan berarti mewakilkan seluruh pendapat masyarakat. Terdapat masyarakat yang berbeda pandangan namun memilih diam.
Jadi, ramainya pembahasan di berbagai media sosial belum bisa menjadi penentu bahwa mayoritas penduduk memiliki kesamaan pendapat, karena masih banyak orang yang telah menentukan keberpihakannya tetapi tidak membuka suara.
Mengapa Silent Majority Ramai Dibahas di Media Sosial?
Silent majority sempat hangat diperbincangkan saat pilpres 2019, yaitu ketika Tim Kampanye Daerah (TKD) Jokowi-Ma'ruf Amin di Jawa Timur dan Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) mengklaim menemukan kelompok silent majority yang menyatakan keberpihakan kepada mereka.
Kini, istilah tersebut kembali viral setelah muncul berbagai unggahan foto dengan konsep hitam putih disertai tagar #silent majority dan #stillPrabowo pada aplikasi Threads di tengah aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh massa.
Melalui unggahan tersebut, mereka menyatakan dukungannya kepada pemerintah Indonesia. Ramainya aksi tersebut menunjukkan kehadiran nyata yang mampu mempengaruhi opini publik terhadap kondisi politik Indonesia saat ini.
Bagaimana Tanggapan Warganet terhadap Fenomena Silent Majority?
Respon warganet terhadap fenomena ini terbagi menjadi dua, yaitu:
1. Kubu Pendukung
Mereka meyakini bahwa selama ini banyak orang yang merasa puas dengan kinerja pemerintah, tetapi enggan menyuarakannya di muka publik karena didominasi dengan kritik.
Bagi kelompok ini, gerakan mengganti profil dengan tagar #silentmajority dan #stillPrabowo menunjukkan keberanian untuk tampil di publik setelah lama memilih diam.
2. Kubu Penentang
Kelompok ini mempertanyakan validitas "silent majority", karena tampak terorganisir dan serupa saat menyatajan dukungan. Bahkan, sering dianggap sebagai buzzer.
Apakah Silent Majority Menunjukkan Dukungan kepada Pemerintah?
Munculnya tagar #silentmajority dan #stillPrabowo serta perubahan foto profil dengan tema hitam putih secara serentak, tampak seperti bentuk dukungan mutlak kepada presiden Prabowo Subianto dan jajaran pemerintah dibawah naungannya.
Selain itu, sejarah juga mencatat adanya silent majority sering dipakai sebagai narasi politik oleh pihak tertentu untuk memberikan kesan dukungan yang lebih besar.
Namun, fenomena ini tidak bisa disimpulkan secara mentah-mentah tanpa pengamatan yang mendalam. Pasalnya, foto profil yang serupa belum bisa menjadi representasi pendapat mayoritas rakyat.
Terdapat sebagian orang yang aktif di media sosial dan memakai model profil tersebut hanya untuk memenuhi keinginan pribadi atau FOMO saja, tidak ada maksud tertentu dalam ranah politik.
Jadi, silent majority dan #stillPrabowo memang bisa dibaca sebagai ekspresi dukungan kepada pemerintah. Namun, tidak menjadikan fenomena tersebut sebagai pendapat mayoritas rakyat Indonesia.
Perbedaan pandangan politik merupakan hal yang wajar, sehingga tidak bisa melabeli secara gamblang mana yang baik dan buruk. Namun, melalui informasi ini kita dapat mengetahui arti silent majority serta tujuan adanya gerakan tersebut.
Mengkritisi kebijakan pemerintahan merupakan hak pribadi warga negara. Namun, saat menyampaikan pendapat perlu sikap yang bijak dan perkataan yang sopan agar tidak memantik kesalahpahaman.
