ARASVARA.ID - SEJENGKAL lagi Jakarta tepat berusia 500 tahun. Menjelang usia 50 abad itu, kota megapolitan ini terus berdandan.

Taman-taman dipercantik. Jalanan di sana-sini diperbaiki. Saluran air dibenahi, dan kali dikeruk. Fasilitas kota pun ditata.

Tujuannya tidak lain agar disaat usia 500 tahun, Jakarta makin gemerlap dan bertambah menarik.

Jakarta memang gemerlap dan glamour. Pernak-pernak kotanya memang oke, dan fasilitas umumnya juga jempolan.

Bagi warga daerah yang kebetulan melancong pasti kesengsem serta berkeinginan tinggal dan sekaligus menjadi warga kota ini. Mereka meyakini hidup di Jakarta menjanjikan aneka gula.

Secara statistik, strata sosial penduduk Jakarta memang paling banyak kelas menengah. Artinya, bila bersandar catatan itu, di atas kertas penduduk kelas bawahnya lebih sedikit.

Data di atas kertas mungkin itulah catatannya. Namun, bila menelusuri kehidupan di kota tersibuk di Indonesia ini gampang menemukan warga miskin.

Minggu pagi, 25 Oktober 2026, saat melintas di Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakarta Pusat, banyak warga menenteng karung plastik berjejer berdiri di pinggiran jalan. Mereka berharap belas kasihan dari para dermawan.

Tampak pengendara mobil yang kebetulan melintas di sisi jalan di mana banyak warga yang berdiri itu berhenti. Sang pengendara membagikan nasi bungkus.

Ada pula dermawan lain yang merapatkan kendaraannya dan memberikan uang. Warga yang berdiri di pinggir jalan itu, tentu girang mendapatkan rezeki.

Potret kemiskinan lain di kota megapolitan ini, juga dialami Khatim, warga Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Page Break

Seperti diberitakan, Jumat, 23 Oktober 2026, Khatim mengaku demi kelangsungan hidupnya dan keluarganya terpaksa melakoni dua "profesi".

Pagi sampai siang mengamen dari perumahan yang satu ke perumahan lain, sorenya menjadi pemulung.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, per Maret 2026 tercatat 432.620 jiwa penduduk miskin di wilayah kota megapolitan ini.

Angka itu sama dengan sekitar 3,96 persen dari total jumlah penduduk Jakarta sebanyak 10.876.767 jiwa.

Sementara warga kelas menengah di perkotaan termasuk Jakarta, mencapai 72,89 persen dari total jumlah penduduk.

Tidak ada yang menyangkal bahwa Jakarta adalah kota termaju di Indonesia. Kendaraan mewah banyak berseliweran, gedung pencakar langit ada di mana-mana.

Selain itu, penduduknya pun sebagian besar kelas menengah. Dan banyak pula yang ekonominya kelas atas.

Berangkat dari potret strata sosial itu, tidak ada salahnya bila semua pihak, terutama mereka yang nasibnya lebih beruntung mengambil peran untuk membantu kaum marginal.

Persoalan yang mendera kaum marginal biasanya menyangkut ekonomi. Di mana pendapatan harian tidak menentu.

Dalam konteks ini siapapun masing-masing bisa berperan, seperti memberikan bantuan sosial misalnya menggelar Jumat berkah atau sejenisnya, menguatkan ekonominya, dan lainnya.

Terhadap kaum marginal berikan pengakuan dan rasa hormat yang sama dengan warga lainnya atau biasa disebut diwongke, sehingga tidak merasa rendah diri.

Page Break

Persoalan yang dihadapi kaum marginal biasanya juga kesulitan mendapatkan akses pelayanan publik seperti pendidikan, fasilitas kesehatan dan lainnya.

Mengangkat kaum marginal sebenarnya tugas kolektif. Bukan hanya beban Pemprov DKI Jakarta saja, tetapi semua warga dari semua elemen masyarakat punya kewajiban yang sama.

Menyongsong Jakarta lima abad, gelorakan semangat gotong royong dalam bermasyarakat.

Pembangunan fisik demi mempercantik kota memang perlu. Namun, mengentaskan kemiskinan, mengatasi ketimpangan sosial, dan empati terhadap kaum marginal juga tidak kalah penting. Gelorakan gotong royong!