ARASVARA.ID - PEMILIHAN Presiden (Pilpres) RI masih lama, baru akan digelar pada tahun 2029. Meski rentang waktu masih tiga tahun lagi, tetapi banyak yang nafsu ingin berkuasa.
Kasak-kusuk, tebar pesona dilakukan agar publik simpatik dan kelak menjadi pilihannya.
Berkuasa memang uenak bila menampikan tanggung jawab yang sebenarnya berat.
Wajar bila yang di dalam maupun di luar pemerintahan kini mulai ancang-ancang untuk mengejar apa yang dinamakan kekuasaan itu.
Fenomena ini sepertinya ditangkap para surveyor. Mereka turun gunung untuk meneliti siapa sih tokoh yang sebenarnya diinginkan rakyat menjadi pimpinannya kelak.
Lembaga survei ternama Saiful Mujani Research & Cunsulting (SMRC) sepertinya tertarik dengan fenomena itu. SMRC turun gunung melakukan penelitian.
SMRC bersama dengan laboratorium Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial Politik (Fisip) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 18 Oktober 2026 merilis hasil studi evaluasi opinion leader terhadap kualitas kepemimpinan sejumlah tokoh nasional.
Studi bertajuk "Kepemimpinan Nasional Demokratik - Transformatif: Opinion Leader" itu, SMRC melibatkan 200 responden dari kalangan terdidik, akademisi bergelar doktor dan profesor, serta jurnalis senior.
Penilaian dilakukan menggunakan sembilan indikator yakni: kapabilitas atau kompetensi, empati, integritas, akseptabilitas, sikap pluralis dan inklusif, kemampuan memimpin, komitmen terhadap demokrasi, komitmen terhadap kesejahteraan umum, dan komitmen terhadap profesionalisme TNI/Polri serta komitmen politik luar negeri bebas aktif.
Adapun skala penilaian 1 sampai dengan 10. SMRC membagi tiga kelompok yakni atas, menengah, dan bawah.
Berdasarkan hasil penilaian 200 responden, ternyata tidak ada tokoh tingkat nasional yang sekarang menjabat presiden, wakil presiden, para ketua umum parpol, pimpinan/anggota DPR/MPR, para menteri, wakil menteri, maupun pejabat setingkat menteri yang masuk kelompok atas.
Para tokoh tingkat nasional yang sekarang masih menjabat nilainya justru kalah dibandingkan dengan tokoh tingkat daerah/pejabat daerah atau di luar pemerintahan.
Responden menempatkan Mahfud MD memperoleh skor rata-rata tertinggi yakni 7,6.
Kelompok atas setelah Mahfud MD, muncul nama Anies Baswedan, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Dedy Mulyadi, Zainal Mochtar, dan Pramono Anung Wibowo. Mereka mendapat skor rata-rata 7,0.
Menyusul di bawahnya ada nama Sri Mulyani Indrawati, Ganjar Pranowo, Retno Marsudi, Usman Hamid, Sherly Tjoanda Laos, Bivitri Susanti, Sadli Isra, dan Fery Ansari.
Kelompok atau lapis menengah terdapat nama Agus Harimurti Yudhoyono, Megawati Soekarnoputri, Sudirman Said, Yusril Ihza Mahendra, Ubedilah Badrun, dan Andika Perkasa.
Setelah itu, menyusul nama-nama Surya Paloh, Muhaimin Iskandar, Puan Maharani, dan Prabowo Subianto.
Posisi berikutnya diisi nama-nama Zulkifli Hasan, Bahlil Lahadalia, Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang Pangarep.
Mengabarkan info viral ini bukan bermaksud mengagungkan tokoh tertentu dan membenamkan peluang tokoh yang lain.
Sebaliknya, justru ingin memberikan semangat kepada siapapun yang berpotensi menjadi pemimpin negeri ini.
Apalagi survei ini hanyalah potret penilaian dari rakyat kelas atas yang belum tentu seirama dengan pendapat kelas menengah dan kelas bawah yang notabene jumlah pemilik hak suara terbanyak.
Meski demikian merekam penilaian dari kalangan terdidik, akademisi bergelar doktor dan profesor, serta jurnalis senior, tetap saja bisa dijadikan cermin untuk melangkah lebih baik.
Para pemimpin tingkat nasional atau siapapun, tetaplah bersemangat menjaga integritas, menunjukkan sikap yang selalu transparan, dan meningkatkan kinerja.
Kepercayaan publik tidak akan datang tiba-tiba, tetapi harus dibangun terus-menerus. Masih ada waktu untuk tebar pesona, karena pilpres 2029 sejatinya masih lama.