Oleh Pemimpin Redaksi Arasvara Sutiyono

BAGAI sudah menjadi langganan, setiap musim hujan sebagian wilayah Jakarta terendam banjir.  Kapan kota megapolitan itu bisa nihil dari air bah,  ini pertanyaan  yang harus dijawab Pemprov DKI Jakarta.

Banjir melanda Jakarta sejak ratusan tahun lalu. Era  VOC tepatnya tahun 1621, wilayah Batavia, setiap hujan deras terendam air bah.

"Tamu tak diundang" bernama banjir itu, kerap  merendam Jakarta lantaran kondisi tofografinya yang landai dan berada di bawah permukaan air laut. Kondisi ini diperparah dengan adanya penurunan permukaan tanah, alih fungsi lahan di kawasan penyangga.

Baca Juga: Ramalan 12 Shio Selasa 21 Juli 2026: Asmara dan Keuangan Bisa Kamu Tingkatkan Secara Bersamaan!

Dari masa ke masa banjir memang menjadi persoalan klasik di Jakarta. Malah pada tahun 1996, 2002, 2007, 2013, dan 2020, banjir ekstrem pernah melumpuhkan kota tersibuk di Indonesia ini.

Sesuai  dengan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, minus Jakarta Pusat  ada 41 lokasi rawan banjir. Dari lokasi-lokasi itu yang  paling parah di Jakarta Timur dan Jakarta Selatan.

Di Jakarta Selatan,  kelurahan yang rawan banjir yakni  Cipete Utara, Petogogan, Cipulir, Ulujami, Pondok Labu dan Pejaten Timur. Di Jakarta Timur   yakni  Bidara Cina, Kampung Melayu, Cawang, Cililitan dan Cipinang Melayu.

Di Jakarta Barat yakni Rawa Buaya, Tegal Alur, Duri Kosambi dan Kedoya Selatan. Di Jakarta Utara yakni Pluit dan  Pademangan Barat.

Baca Juga: Makna Lirik lagu "Langit Abu-Abu" Karya Tulus

Bukan itu saja, setiap rob pemukiman warga di Rorotan, Pluit, Kamal Muara, Penjaringan dan Ancol juga terendam banjir.

Banjir sampai sekarang masih menghantui kehidupan warga. Awal tahun 2026 misalnya, air bah masih merendam pemukiman warga, salah satunya di Duri Kosambi. Tak tanggung-tanggung ketinggian air  mencapai 1, 2 meter.

Lebih parah lagi meski tidak  musim hujan tepatnya Mei, pemukiman warga juga pada kelelep diantaranya di Petogogan.  Rumah-rumah warga  terendam banjir hingga 1 meter lebih.

Page Break

Fakta ini membuat Gubernur Pramono Anung geregetan. Ia bertekad sesegera mungkin bisa mengusir banjir dari Jakarta.

Apalagi Jakarta melalui UU Nomor 2 / 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta (DKJ) sudah resmi ditetapkan menjadi Kota Global.

Baca Juga: Kisah Inspiratif Dihya, Peserta Clash of Champions (CoC) season 3

Bersandar pada  World's Best Cities tahun 2026, Jakarta menempati peringkat ke 53 kota di dunia. Pramono menargetkan pada tahun 2045, Jakarta bisa masuk dalam jajaran 20 besar  Kota Global. Berbagai upaya mulai dilakukan salah satunya mengatasi banjir.

Mengatasi banjir  bukan sekadar omon-omon semata,  tetapi perlu political will. Apa itu, yakni komitmen, tekad dan niat sungguh-sungguh dari pemegang kekuasaan untuk mengambil tindakan nyata, mengalokasikan anggaran dan sumber daya.

Persoalan Jakarta terendam air bah setidaknya  ada tiga penyebab, pertama rob, kedua banjir lokal dan ketiga  banjir  "kiriman".  Rob terjadi antara lain karena penurunan permukaan tanah dan permukaan air laut lebih tinggi dari pada daratan dan tanggul antara laut dengan darat belum sempurna.

Banjir lokal akibat curah hujan yang tidak mengalir ke saluran, penyumbatan tali air, pengguna bagian saluran untuk trotoar tanpa ada bagian bakal pemeliharaan.

Baca Juga: Clash of Champions Season 3 Mengasah Keterampilan Berbicara, Simak Selengkapnya!

Banjir "kiriman" terjadi lantaran curah hujan  tinggi di daerah hulu seperti Bogor mengalir ke laut via 13 sungai yang ada di Jakarta.

13 Sungai itu yakni Ciliwung, Pesanggrahan, Sunter, Buaran, Krukut, Cakung, Grogol, Mookevart, Cipinang,  Baru Timur, Baru Barat, Jati Kramat dan Angke. Kondisi sungai-sungai itu saat ini sebagian besar memprihatinkan  dangkal dan menyempit.

Mengatasi problematika tersebut, misalnya soal banjir "kiriman", Pemprov DKI Jakarta sudah seharusnya mengeruk, menata dan menormalisasi 13 sungai itu.                               

Mengatasi  banjir   lokal, Pemprov DKI Jakarta sebaiknya mengganti tali-tali air  yang ada  sekarang dengan lebih kuat dan lebih besar. Selain itu mengeruk waduk, danau dan juga memperbanyak embung.

Sedangkan mengatasi rob, tentunya dengan membangun tanggul-tanggul baru karena tanggul yang ada sudah pada retak sehingga air laut bisa merembes ke darat, menghentikan pengambilan air tanah secara jor-joran karena penurunan permukaan air tanah hingga kini masih terus terjadi.

Page Break

Strategi, solusi  maupun konsep  mengatasi banjir di Jakarta, tentu para stakeholder pasti sudah pada paham.

Baca Juga: Persiapan Lomba 17 Agustus: 5 Hal yang Wajib Dilakukan Karang Taruna

Ilmu para pejabat  Pemprov DKI Jakarta terutama  Dinas Sumber Daya Air Pemprov DKI Jakarta seputar persoalan yang satu ini,  tentu juga sudah khatam.

Tidak bermaksud menggurui para stakeholder di lingkungan Pemprov DKI Jakarta,  tetapi  cuma ingin  memompa semangat agar apa  yang sudah menjadi konsep segera dilaksanakan dan  dikerjakan. Jangan besantai-santai  karena kebetulan sekarang  kemarau.

Keruklah sungai, danau, dan waduk yang  dangkal.  Perbaiki juga  tanggul-tanggul yang retak, ganti tali-tali air dengan yang lebih kuat dan lebih besar sehingga ketika hujan besar atau banjir  bisa teratasi.                                     

Ingat,  banjir bisa menjadi batu  sandungan Jakarta gagal masuk 20 besar  Kota Global. Kini publik menunggu kota ini nihil dari banjir. ***