Oleh Pemimpin Redaksi Arasvara Sutiyono
ARASVARA.ID - KORUPSI dan praktik tak terpuji lainnya seperti suap atau sogok-menyogok terdengar nyaring dan berseliweran di jagat Indonesia.
Di media mainstream gampang sekali menemukan berita oknum pejabat tersandung korupsi. Begitu pula di medsos sering kali menyuguhkan kabar serupa.
Korupsi, suap atau sogok-menyogok di negeri ini bagai karat yang susah dibersihkan. Di berbagai lini kehidupan, praktik yang bikin sumpek ini seakan seperti permisif.
Baca Juga:
Prediksi Piala Dunia 2026: Brasil vs Jepang, Laga Sengit Tersaji!
Pejabat tinggi bahkan kalangan sekelas menteri banyak yang terjerat korupsi. Modusnya beragam. Mulai dari mark up proyek, suap maupun sogok-menyogok.
Mengagetkan lagi kalangan mahasiswa juga disusupi oknum aparat yang berupaya menggerogoti integeritasnya.
Bak bola salju, belakangan ini kabar memprihatinkan itu menggelinding deras ke tengah publik.
Berita viral itu mengabarkan adanya sekelompok mahasiswa diberikan duit oleh oknum polisi ("disogok") saat hendak berunjukrasa mengkritisi kebijakan pemerintah yang amburadul.
Baca Juga:
Sinopsis Sinetron Terikat Janji Episode 86: Kejahataan Mengintai Davina
Menggelindingnya berita oknum polisi "menyogok" sekelompok mahasiswa membuat publik kecewa. Kenapa? Karena ini sama halnya merusak integeritas mahasiswa dan semacam virus. Ini juga bentuk orkestrasi murahan.
Kembali ke persoalan korupsi. Koruptor adalah seseorang yang melakukan tindak pidana korupsi seperti menyalahgunakan wewenang atau jabatan untuk memperkaya diri sendiri, orang lain atau korporasi berakibat merugikan negara.
Korupsi di negeri ini bagai sudah menggurita. Kondisi ini menempatkan Indonesia dalam hal pemberantasan praktik tak terpuji itu sangat jeblok.
