ADVERTISEMENT

Jalan Terjal Hidup di Jakarta: Ketuk Hati Dermawan Melalui Lagu

Aisah sedang menjajakan lagu melayu bertajuk Terpaksa di depan rumah warga.

Aisah sedang menjajakan lagu melayu bertajuk Terpaksa di depan rumah warga.(Arasvara/Sutiyono)

TR

By Tim Redaksi

Publish: 23 Oktober 2026 - 10:03 WIB
Updated: 23 Oktober 2026 - 10:06 WIB
Share:

ARASVARA.ID - Sungguh terpaksa aku menyanyi, Mengharapkan tuan bermurah hati, Coba dengarkan aku menyanyi, Membawakan suara jeritan hati.

SEPENGGAL lagu mengalun dari boombox atau radio tape berwarna hitam. Perempuan tanggung berusia sekitar 16 tahunan berdiri di depan pintu rumah menunggu sang pemilik ke luar.

Lagu bergenre melayu dipilih untuk disuguhkan, karena liriknya menggambarkan kehidupan dirinya.

Mendengar lagu tersebut, para dermawan terketuk hatinya dan menyisihkan uang recehannya.

Tak lama mendengarkan lagu bertajuk Terpaksa, pemilik rumah berpagar hitam itu ke luar dan memberikan uang recehan Rp 2 ribu. "Ini mbak," ujar pemilik rumah ramah.

“Terima kasih ibu,” jawab perempuan berkulit sawo matang itu sangat santun, seraya mengambil uang dari tangan pemilik rumah yang disodorkan.

Membenahi letak radio tape yang digendong, perempuan muda berkerudung coklat itu lalu bergeser ke rumah sebelahnya. Ia masih menyuguhkan lagu yang sama.

Kamis, 22 Oktober 2026, Aisah, pengamen, sekitar pukul 09:00 terlihat mengais rezeki di perumahan yang berlokasi di Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat.

"Assalamualaikum, permisi tante dan om numpang ngamen," sapa Aisah kepada tuan rumah, seketika lantunan lagu memuncrat dari radio tape yang digendong.

Begitulah cara Aisah saban hari memburu rezeki. Dari depan rumah ke depan rumah warga.

Sejauh ini Aisah memilih mengamen dari rumah warga ke rumah warga lainnya. Perempuan gempal ini tidak pernah mengais rezeki di jalanan atau perempatan lampu merah.

"Saya sebenarnya malu. Saya tidak bisa nyanyi. Ya begini terpaksa, kalo gak begini terus bagaimana. Saya kan butuh makan juga," paparnya.

Aisah bersama bapaknya tinggal di Kebon Kosong, Jakarta Pusat. "Saya bareng bapak kontrak satu kamar kecil. Sebulan Rp 450 ribu," tuturnya.

Selain Cempaka Baru, Aisah biasa mengamen di daerah Pulogadung, Sunter, Tanjung Priok dan kelurahan lainnya.

Khatim didampingi Maenaroh sedang memilah hasil memulung.
Khatim didampingi Maenaroh sedang memilah hasil memulung.

"Saya tidak bisa nyanyi. Tapi saya pengin makan dan hidup. Makanya saya ngamen dengan cara seperti ini," ulang Aisah.

Aisah mulai mengais rezeki pukul 08:00. Tetapi ia ke luar rumah pukul 07:00.

Biasanya sebelum ke lokasi untuk menjajakan lagu, Aisah berkesempatan ke pos di perumahan Komp. Garuda, Serdang, Jakarta Pusat.

Selama di pos, Aisah terlihat menata peralatan ngamen seperti radio tape serta memilih sejumlah lagu yang akan diputar.

Meski hanya "berprofesi" pengamen sepertinya Aisah sangat rapih mempersiapkannya. Ia lalu mengeluarkan sebungkus nasi dari tas dan menyantapnya.

Setelah setengah jam di pos perumahan Komp Garuda, Aisah dengan menggendong radio tape melangkah menuju perumahan yang ada wilayah Harapan Mulya.

Saban hari Aisah mengais rezeki mulai pukul 08:00 sampai dengan pukul 17:00. "Saya usahakan sebelum magrib sudah pulang ke kontrakan," katanya.

Cara Aisah mengais rezeki berpindah-pindah dari satu wilayah kota ke wilayah kota lainnya yang ada di Jakarta.

Bila tujuannya masih di wilayah Jakarta Pusat, ia jalan kaki. Tetapi jika tujuannya ke wilayah kota lainnya naik angkutan umum.

"Kalau saya ngamen di daerah Tanjung Priok berangkat dan pulangnya naik Jaklingko (angkutan umum-red).

Hasil jerih payah mengamen tak menentu. Kadang sehari mendapatkan Rp 50 ribu. Kadang juga Rp 60 ribu.

Hasil kucuran keringat senilai itu, Aisah gunakan bakal kebutuhan meneruskan kehidupan bersama bapaknya.

Duit Rp 50 ribu itu, setiap hari, ia celengi (tabung-red) antara Rp 10 ribu sampai dengan Rp 15 ribu dikumpulkan untuk bayar kontrakan bulanan. Sisanya bakal makan dan keperluan hidup lainnya.

Ia sekarang ini hidup bersama bapaknya, setelah ditinggal ibunya. Wanita yang paling sayang itu, meninggal dunia saat Aisah berusia 12 tahun.

Selama hidup Aisah tidak pernah mengenyam pendidikan apapun. Maklum orang tuanya keluarga miskin.

"Saya tidak pernah sekolah. Jadi saya ini bodoh. Sekolah itu kan butuh macem-macem," ujarnya.

Meski Jakarta kota glamour dan gemerlap, tetapi kehidupan warganya jomplang. Banyak orang kaya, tetapi tidak sedikit pula yang miskin. "Bapak orang Jakarta dan punya KTP DKI Jakarta," terang Aisah.

Sesuai dengan data Badan Pusat Statistik DKI Jakarta, warga miskin di kota megapolitan ini per Maret 2026 tercatat 432.620 jiwa.

Seperti halnya Aisah, nasib serupa dialami Khatim, warga Kebon Kosong, Jakarta Pusat. Bersama istrinya, ia mengais rezeki dengan cara mengamen.

Khatim dan Maenaroh (istrinya) membagi tugas. Khatim menggendong radio tape, sedangkan istrinya yang menerima uang dari para dermawan.

Berbeda dengan Aisah, jam mengamen suami istri cuma dari pukul 08:00 sampai dengan pukul 12:00.

"Saya ngamen tak jauh-jauh. Sorenya saya jadi pemulung om," papar Khatim.

Lelaki kurus ini warga Jakarta. Khatim memiliki KTP DKI Jakarta. "Saya warga Kebon Kosong," tandasnya.

Menjadi pengamen, pendapatan Khatim setengah hari antara Rp 30 ribu sampai dengan Rp 40 ribu. Sementara pendapatan tambahan dari pemulung per tiga hari antara Rp 25 ribu sampai dengan Rp 30 ribu.

Tempat tinggal suami istri ini mengontrak di Kebon Kosong juga sebulan Rp 500 ribu. "Yang penting bisa untuk tidur," ucapnya memelas.

Ketika ditanya seputar mengamen bareng istri, dia spontan menjawab, "Mata saya sudah tidak terang lagi. Saya harus dituntun."

Suami istri ini kala mengamen lebih sering memutar lagu-lagu qasidah. "Terkadang saya putarin pengajian, biar hati adem," beber Khatim.

Aisah, Khatim dan Maenaroh adalah warga yang tergolong kurang beruntung. Mereka dipastikan membutuhkan bantuan dari siapapun baik Pemprov DKI Jakarta maupun uluran tangan para dermawan. (SutiyonoEste)

Berita Terpopuler

Memuat...

Berita Terupdate

Memuat berita terbaru…