Pemerintah Imbau Masyarakat Tak Perlu Panic Buying Obat Antivirus Oseltamivir Kasus Influenza Meningkat

Ilustrasi seseorang mengalami penyakit flu, Kemenkes Imbau Masyarakat tak perlu panic buying kasus influenza meningkat dan membeli obat antivirus

Ilustrasi seseorang mengalami penyakit flu, Kemenkes Imbau Masyarakat tak perlu panic buying kasus influenza meningkat dan membeli obat antivirus(Freepik: @Lifestylememory)

TR

By Tim Redaksi

Publish: 29 September 2026 - 13:04 WIB
Share:

JAKARTA, ARASVARA.ID – Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin meminta kepada publik agar tidak sembarangan mengkonsumsi obat antivirus seperti oseltamivir di Tengah kenaikan kasus infeksi influenza.

Budi menuturkan, sebagian besar kasus influenza tidak memerlukan rawat inap sehingga penggunaan obat antivirus seperti oseltamivir tidak ditujukan untuk semua pasien influenza.

"Oseltamivir penggunaannya harus tepat. Berdasarkan masukan para ahli, obat ini sebaiknya digunakan secara terbatas pada pasien dengan kondisi berat atau pasien dengan komorbid yang memang membutuhkan antivirus," ujar Budi, dalam keterangan resmi kemarin.

Baca Juga:

Arah Redaksi: Super Flu Mulai Mewabah, Halo Vaksin Influenza

Budi menganjurkan pembatasan penggunaan oseltamivir untuk mencegah terjadinya resistansi terhadap obat antivirus.

Sebab, penggunaan obat antivirus sama dengan penggunaan antibiotik yang tidak dilakukan secara tepat dapat berisiko terjadinya resistansi antimikroba.

"Kita tidak boleh menggunakan antivirus secara berlebihan karena ada risiko resistansi. Kalau resistansi terjadi, justru kita bisa kehilangan pilihan obat ketika menghadapi wabah yang lebih berat dan mengancam nyawa, seperti influenza H5Nx," ujar Menkes.

Baca Juga:

5 Makanan Lezat untuk Meredakan Flu, Mudah Membuatnya di Rumah

Kemenkes Sebut Oseltamivir Khusus Pasien Gejala Berat

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembelian panik (panic buying) obat antivirus Oseltamivir maupun mengonsumsinya tanpa resep dokter. Pemerintah menegaskan, mayoritas kasus influenza dapat sembuh sendiri, sementara Oseltamivir dialokasikan khusus bagi pasien dengan gejala berat dan kelompok berisiko tinggi.

"Oseltamivir bukan obat yang digunakan secara massal atau diminum untuk berjaga-jaga tanpa penilaian medis. Obat ini hanya boleh diberikan berdasarkan pemeriksaan dan pertimbangan dokter, terutama untuk pasien influenza berat yang dirawat di rumah sakit," tegas Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes, Lucia Rizka Andalucia, pada konferensi pers perkembangan situasi dan penanganan influenza di Jakarta, Senin (28/9/2026) kemarin.

Tidak Dikenal Super Flu

Kenaikan kasus influenza sejak September merupakan pola musiman tahunan yang juga dialami negara-negara ASEAN seperti Singapura, Malaysia, Filipina, dan Thailand. Virus yang mendominasi di Indonesia saat ini adalah influenza A(H1N1)pdm09.

Baca Juga:

Respon dr. Gia Pratama Mengenai Isu Oknum Nakes Nirempati pada Pasien BPJS

"Istilah 'super flu' tidak dikenal dalam nomenklatur resmi WHO maupun Kemenkes. Istilah awam itu merujuk pada influenza A(H3N2) subclade K, yang justru kasusnya di Indonesia menurun drastis," terang Andi.

Berdasarkan data pemantauan surveilans ILI-SARI (Surveillance Influenza-Like Illness dan Severe Acute Respiratory Infection) hingga pekan ke-38 tahun 2026, terdapat 1.527 spesimen positif influenza dari 8.757 pemeriksaan atau sekitar 17 persen. Angka positivity rate ini lebih rendah dibandingkan periode 2025 yang mencapai 24 persen.

Page 1 of 2

Editor

NW

Novriadji Wibowo

Berita Terkait

Berita Terpopuler

Memuat...

Berita Terupdate

Memuat berita terbaru…