ARASVARA.ID - Berdasarkan dari data PMK Kementerian Keuangan PMK Nomor 32 Tahun 2025 mengatur Standar Biaya Masukan (SBM) 2026 untuk berbagai kebutuhan pemerintah termasuk konsumsi pada kegiatan tertentu.
Di tengah ramainya isu Makan Bergizi Gratis (MBG), banyak sekali pertanyaan yang muncul mengapa rapat DPR tidak menggunakan konsumsi dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Hal tersebut tentunya menunjukkan berbagai spekulasi dari sejumlah orang terkait hal tersebut.
Mengapa Konsumsi Rapat DPR Tidak Pakai MBG?
PMK Nomor 32 Tahun 2025 telah mengatur SBM untuk berbagai kebutuhan termasuk konsumsi pemerintah pada kegiatan tertentu.
Melansir informasi dari Pandemictalks, Rapat Koordinasi Tingkat Menteri dan pejabat setara memiliki pagu mencapai Rp171.000 per orang dengan rincian Rp118.000 makan berat dan Rp53.000 untuk makanan ringan.
Sementara untuk Rapat Biasa atau Rapat Kerja pagu maksimal memiliki dana Rp77.000 per orang dengan rincian Rp53.000 untuk makan berat dan Rp24.000 snack.
Perlu digarisbawahi, angka tersebut merupakan batas tertinggi yang boleh dibelanjakan dan bukan besaran wajib dalam setiap kegiatan.
Hal tersebut tentunya tidak selaras dengan program MBG yang hanya memiliki anggaran Rp8.000 hingga Rp10.000 per orang menyitat informasi dari bgn.go.id.
Melihat dari data yang ada, tentunya jika konsumsi rapat DPR menggunakan MBG, pastinya dana yang dikeluarkan akan jauh lebih murah.
Perlu diingat, dimasa yang ada saat ini, efisiensi anggaran sangatlah wajib digunakan dalam hal apa pun.
Dari data yang ada, pagu anggaran konsumsi rapat DPR bisa saja diefisienkan dengan menggunakan menu MBG dari dapur SPPG terdekat.
Lantas, bagaimana jika siswa diberikan pagu dana MBG yang sama dengan konsumsi rapat DPR?
Mengapa Anggaran MBG Tidak Sama dengan Rapat DPR?
Melihat hal tersebut, tentunya jika dilakukan akan membuat anggaran dari Kemenkeu semakin berat.
Namun bisa saja anak sekolah mendapat makanan yang lebih layak dikonsumsi.
Dengan begitu, semua murid bisa menikmati makanan MBG setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan gizi.
Pasalnya, melihat isu yang ada saat ini. Banyak sekali murid sekolah yang mengalami keracunan.
Jika diidentifikasi dari makanan yang ada, dokter Ferry menemukan bakteri berbahaya yang ada pada makanan MBG di Karo, Sumatera Utara.
Melansir dari Threads @drferrykslg, terdapat sampel berbahaya dari beberapa makanan yang tersedia.
Nasi dari sekolah: Bacillus cereus
Ikan + saus dari sekolah: Staphylococcus aureus
Melon dari sekolah: E.coli
Sampel muntah siswa: Staphylococcus aureus
Melihat dari kasus yang ada, terdapat anak sekolah di Karo, Sumatera Utara dengan nama Febiola BR Purba (16).
Dirinya mengalami kehilangan ingatan hingga 70 persen usai menyantap menu ikan tongkol dari program MBG di sekolahnya.
Jika konsumsi rapat DPR menggunakan MBG, tentunya makanan bisa divariasikan sesuai hari yang ada.
Dengan begitu, anggaran yang dikeluarkan dari Kemenkeu akan terpangkas lumayan besar.