Arasvara.ID - Kebakaran di Kalimantan kembali menjadi sorotan nasional setelah data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Agustus 2026 mencatat sekitar 48.000 hektar lahan terbakar di enam provinsi prioritas. Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan dampak terparah dengan estimasi 28.000 hektar terbakar, disusul Riau dengan sekitar 15.000 hektar.
Fenomena karhutla Kalimantan yang berulang setiap tahun ini kembali memunculkan pertanyaan lama: Kalimantan kenapa selalu jadi langganan kebakaran besar setiap musim kemarau?
Dalam sebuah dialog di NTV Prime , disitat Sabtu 22 Agustus 2026, CEO Landscape Indonesia Agus Sari mengungkap sejumlah fakta yang jarang disampaikan secara terbuka soal penyebab kebakaran Kalimantan - termasuk dugaan adanya motif ekonomi di balik praktik pembakaran lahan.
Benarkah Ada "Bisnis" di Balik Pembakaran Hutan?
Menurut Agus Sari, membakar hutan sudah lama disinyalir menjadi bisnis tersendiri. Ada pihak yang bertindak sebagai pelaksana pembakaran, ada pula pihak lain yang membiayai modalnya.
"Ada bisnisnya loh bakar hutan ini," ujar Agus Sari dalam dialog tersebut.
Logika di baliknya cukup sederhana: lahan yang sudah rata terbakar memiliki nilai jual lebih tinggi ketika hendak disiapkan menjadi lahan perkebunan, dibandingkan hutan yang masih utuh. Api dipakai sebagai metode land clearing murah dan cepat, jauh lebih hemat biaya dibanding metode pembukaan lahan konvensional.
Data Satelit: Titik Api Indonesia Jauh Lebih Banyak dari Malaysia
Salah satu temuan yang disampaikan Agus Sari adalah perbandingan titik api di Pulau Borneo. Titik api di sisi Indonesia tercatat jauh lebih banyak dibanding sisi Malaysia - sebuah sinyal adanya kelemahan penanganan di dalam negeri.
Berdasarkan data yang dipaparkan, kabupaten dengan hotspot terbanyak adalah Ketapang, disusul Berau dengan jumlah kurang dari separuhnya, kemudian Kotawaringin Timur, Sanggau, Kapuas, hingga menyentuh wilayah Kota Palangkaraya.
Pemerintah vs WALHI: Berapa Sebenarnya Luas Kebakaran di Lahan Konsesi?
Isu ini menjadi salah satu titik paling panas dalam perdebatan publik. Menteri Lingkungan Hidup sempat menyatakan tidak ada laporan karhutla di lahan konsesi per 21 Agustus. Di sisi lain, WALHI mengklaim sekitar 70% kebakaran terjadi di lahan konsesi.
Berdasarkan data satelit dan peta konsesi yang dimiliki Agus Sari, angka riilnya berada di tengah — sekitar setengah dari total area terdampak, dengan estimasi mendekati 400.000 hektar. Sebagian besar area tersebut berada di konsesi kelapa sawit, dan sisanya di konsesi hutan.
Apakah Tren Kebakaran Besar Ini Sudah Mereda?
Data harian sempat mencapai puncaknya pada 18 Agustus, kemudian menurun bertahap — dari sekitar 122.000 ke 100.000, lalu ke 90.000 (satuan indeks titik api harian) pada hari-hari berikutnya.
