Geger Aksi Peretasan Binance: Aset 114 Triliun Hilang, Aksi Pencurian Terbesar Dalam Sejarah Kripto

Binance diretas hacker yang diduga dari Kore Utara, aset sekitar 114 triliun hilang sekejap. / Ilustrasi

Binance diretas hacker yang diduga dari Kore Utara, aset sekitar 114 triliun hilang sekejap. / Ilustrasi(Pinterest/SlashGear)

FA

By Fadliansyah

Publish: 31 Oktober 2026 - 19:22 WIB
Share:

ARASVARA.ID - Dunia kripto dikejutkan oleh laporan investigasi mendalam mengenai insiden peretasan sistem keamanan yang menimpa platform perdagangan aset digital terbesar, Binance.

Adapun, kasus pembobolan ini langsung menyita perhatian publik global karena melibatkan nominal kerugian yang fantastis serta memicu kekhawatiran serius di kalangan investor aset terdesentralisasi.

Pihak otoritas penegak hukum internasional bersama tim keamanan internal bursa langsung bergerak cepat untuk mengusut tuntas aliran dana dan mengidentifikasi celah yang dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab.

Penyelidikan awal mengindikasikan adanya keterlibatan sindikat peretas luar negeri yang memanfaatkan teknik manipulasi protokol jaringan yang sangat canggih. Ulasan berikut mengupas tuntas kronologi peristiwa pembobolan, temuan investigasi penegak hukum, keterlibatan aktor asing, hingga langkah mitigasi darurat yang diambil untuk mengamankan aset pengguna.

Kronologi Awal Deteksi Anomali Keamanan Sistem Binance

Sistem pemantauan keamanan internal Binance pertama kali mendeteksi adanya aktivitas transaksi mencurigakan yang keluar dari jalur normal operasional harian. Aktivitas tidak wajar tersebut melibatkan transfer sekumpulan besar token digital secara simultan ke alamat dompet kripto eksternal yang tidak dikenal oleh sistem verifikasi.

Tim respons cepat darurat siber langsung diaktifkan dalam hitungan menit guna memutus akses jaringan eksternal dan membekukan sementara seluruh saluran transaksi yang terindikasi terdampak. Langkah pembekuan darurat ini diambil untuk meminimalisir perluasan area eksploitasi oleh pihak peretas sebelum kerugian melonjak lebih tinggi.

Pihak manajemen kemudian mengeluarkan pengumuman resmi kepada seluruh komunitas pengguna untuk menahan diri dan tidak melakukan deposit atau penarikan dana selama proses audit keamanan menyeluruh berlangsung. Transparansi informasi menjadi prioritas utama pihak bursa guna meredam kepanikan massal di pasar.

  • Deteksi dini sistem menangkap transfer dana anomali menuju dompet eksternal tak dikenal.

  • Tim darurat siber langsung memutus akses jaringan dan membekukan transaksi secara total.

  • Manajemen menerbitkan imbauan penundaan aktivitas perdagangan demi keperluan audit investigasi.

Keterlibatan Sindikat Peretas Asing dalam Penyelidikan Global

Selanjutnya, investigasi lanjutan yang melibatkan lembaga intelijen siber internasional mengungkapkan indikasi kuat adanya keterlibatan kelompok peretas bayaran asal Korea Utara dalam insiden ini. Pola serangan yang digunakan sangat mirip dengan karakteristik operasi siber terorganisir yang kerap menyasar infrastruktur keuangan digital global.

Para penyelidik menduga kelompok peretas tersebut memanfaatkan kerentanan pada jembatan lintas rantai (cross-chain bridge) untuk melarikan aset curian ke berbagai jaringan terdesentralisasi secara anonim. Teknik pencucian uang kripto berlapis ini dirancang untuk menyulitkan pelacakan aliran dana oleh aparat penegak hukum.

Pemerintah Amerika Serikat bersama sekutunya langsung membuka penyelidikan resmi guna melacak keberadaan pelaku dan membekukan aset yang tersebar di berbagai platform pertukaran terpusat maupun terdesentralisasi. Kerja sama lintas negara menjadi kunci utama dalam memburu para pelaku kejahatan siber tersebut.

Dampak Langsung Insiden Terhadap Stabilitas Pasar Kripto

Kabar mengenai pembobolan sistem Binance langsung memicu gelombang kepanikan di lantai bursa kripto global yang berujung pada aksi jual besar-besaran oleh investor ritel. Nilai kapitalisasi pasar sejumlah aset kripto utama mengalami koreksi tajam dalam waktu singkat akibat sentimen negatif yang meluas.

Page 1 of 2

Berita Terkait

Berita Terpopuler

Memuat...

Berita Terupdate

Memuat berita terbaru…