ARASVARA.ID - Perrgerakan harga Bitcoin (BTC) mencatatkan aksi pemulihan impresif dengan kembali menembus level psikologis 81.000 US Dolar.
Penguatan ini terjadi setelah aset kripto utama tersebut sempat mengalami tekanan jual yang cukup dalam hingga menyentuh kisaran 79.000 US Dolar pada sesi perdagangan sebelumnya.
Lompatan harga ini berlangsung tepat di tengah fase penantian krusial para pelaku pasar terhadap keputusan kebijakan moneter terbaru dari bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed). Konsensus mayoritas investor memproyeksikan otoritas moneter AS akan memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran target 3,75 sampai 4,00 persen.
Ulasan berikut menyajikan analisis mendalam terkait faktor pemicu rebound harga Bitcoin, proyeksi statistik suku bunga FOMC, hingga gambaran teknikal peluang harga melaju ke level puncak baru.
Lonjakan Harga Bitcoin dari Area Support 79.000 US Dolar
Aset digital Bitcoin sukses merangkak naik setelah secara konsisten menguji zona daya tahan (support) kuat di rentang 79.000 hingga 80.000 US Dolar selama beberapa sesi perdagangan terakhir. Harga BTC sempat melesat hingga menyentuh puncaknya di posisi 81.350 US Dolar sebelum akhirnya terkonsolidasi dan bergerak stabil di kisaran 80.500 US Dolar.
Menariknya, aksi pemulihan harga tersebut berjalan seiring dengan penurunan tingkat open interest, yaitu total jumlah kontrak derivatif yang masih aktif terbuka di pasar. Fenomena melandainya open interest di tengah lonjakan harga ini dinilai oleh para analis sebagai indikasi meredanya tekanan dari kelompok pelaku pasar yang melakukan aksi spekulasi penurunan (bearish).
Kombinasi pola kenaikan harga dan penutupan posisi derivatif jenis short kerap memicu terbentuknya pola grafis candlestick doji pada zona batas bawah. Kehadiran volume perdagangan yang meningkat di area support memperkuat sinyal awal adanya perubahan momentum arah pergerakan aset.
Proyeksi Keputusan Suku Bunga FOMC dan Sinyal Kebijakan Kevin Warsh
Selanjutnya, sorotan utama seluruh investor global saat ini tertuju pada pengumuman resmi rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan pada hari Rabu, 28 Oktober 2026, pukul 14.00 waktu AS bagian timur (atau Kamis, 29 Oktober 2026, pukul 01.00 WIB). Berdasarkan rilis data CME FedWatch per 26 Oktober 2026, pasar memperkirakan peluang sebesar 90,6 persen bagi The Fed untuk menahan suku bunga di kisaran 3,75 sampai 4,00 persen.
Sementara itu, probabilitas skenario kenaikan suku bunga menuju 4,00 sampai 4,25 persen tercatat hanya berada di angka 9,4 persen. Data dari pasar prediksi Kalshi bahkan menunjukkan estimasi yang lebih optimistis dengan mencatatkan peluang penahanan suku bunga acuan hingga menyentuh tingkat 95 persen.
Meskipun skenario penahanan suku bunga sudah banyak diantisipasi, arah pergerakan aset berisiko akan sangat ditentukan oleh narasi pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh. Apabila pernyataan resmi mengindikasikan sinyal pelonggaran kebijakan (dovish), pasar kripto berpeluang mendapatkan dorongan likuiditas baru.
Dampak Laporan Keuangan Raksasa Teknologi Terhadap Sentimen Risiko
Selain fokus pada kebijakan moneter, selera risiko para pemodal juga dipengaruhi oleh rilis kinerja laporan keuangan kuartalan dari korporasi teknologi raksasa Amerika Serikat. Publikasi data keuangan dari Alphabet (induk usaha Google) dan Microsoft menjadi indikator krusial bagi pergerakan industri saham teknologi.
