Gelembung AI China Pecah: Rp8.640 Triliun Lenyap Seketika dari Bursa Saham

Bubble AI China pecah karena valuasi saham terlalu tinggi, sekitar 480 miliar US dolar atau sekitar Rp8.640 triliun hilang seketika dari kapitalisasi pasar. / Ilustrasi

Bubble AI China pecah karena valuasi saham terlalu tinggi, sekitar 480 miliar US dolar atau sekitar Rp8.640 triliun hilang seketika dari kapitalisasi pasar. / Ilustrasi(X/Ash Crypto)

FA

By Fadliansyah

Publish: 28 Oktober 2026 - 21:27 WIB
Updated: 28 Oktober 2026 - 21:30 WIB
Share:

ARASVARA.ID -Kondisi bursa saham kawasan Asia tenggelam dalam tekanan berat menyusul pecahnya gelembung spekulasi sektor kecerdasan buatan di Tiongkok.

Fenomena kejatuhan harga saham teknologi ini menghapus kapitalisasi pasar dalam jumlah masif setelah periode lonjakan harga yang terlampau tinggi.

Adapun, penurunan tajam tersebut dipicu oleh kombinasi penilaian valuasi yang tidak realistis, kekhawatiran melandainya lonjakan permintaan ekosistem teknologi, hingga ancaman pembatasan ekspor dari pihak luar.

Langkah pelepasan portofolio saham teknologi ini dengan cepat merembet dan menyeret indeks saham unggulan ke zona merah. Rangkaian analisis berikut menyajikan rincian penurunan harga saham sektor semikonduktor, anjloknya rasio valuasi bursa, hingga potensi dampaknya terhadap instrumen investasi digital global.

Rincian Kerugian Kapitalisasi Pasar dan Penurunan Indeks Utama

Gelembung sektor kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) di Tiongkok secara resmi pecah setelah indeks teknikal STAR 50 mencatatkan penurunan drastis hingga 40 persen dalam kurun waktu kurang dari empat bulan. Koreksi dalam tersebut melenyapkan kapitalisasi pasar hingga mencapai nilai 480 miliar US Dolar atau setara Rp8.640 triliun.

Dampak dari gelombang pelemahan sektor teknologi ini turut merembet ke bursa saham secara lebih luas. Indeks saham unggulan Tiongkok, CSI 300, tercatat merosot sekitar 20 persen dari posisi titik puncaknya yang sempat dicapai pada bulan Juni 2026 lalu.

Koreksi tajam pada kedua indeks bursa tersebut mengakhiri masa reli panjang selama dua tahun yang sebelumnya didukung oleh ekspektasi lonjakan stimulus ekonomi pemerintah. Aksi pelepasan aset oleh para pemodal berlangsung sangat agresif di seluruh papan perdagangan.

  • Indeks STAR 50 anjlok 40 persen dalam waktu kurang dari 4 bulan dan menghapus kapitalisasi pasar sebesar 480 miliar US Dolar (Rp8.640 triliun).

  • Indeks unggulan CSI 300 terseret turun sekitar 20 persen dari posisi puncak perdagangan pada Juni 2026.

  • Tekanan jual yang kuat mengakhiri tren kenaikan bursa saham yang telah berlangsung selama dua tahun terakhir.

Anjloknya Kinerja Saham Emiten Teknologi dan Semikonduktor Tiongkok

Selanjutnya, gelombang penurunan harga menghantam keras emiten-emiten teknologi papan atas. Produsen robotik Unitree mencatatkan penurunan harga saham sebesar 50 persen sejak melantai di bursa pada Agustus 2026, padahal saat penawaran perdana (IPO) penawaran sahamnya sempat mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 8.000 kali.

Di sisi lain, saham pemasok perangkat optik Zhongji Innolight dan Eoptolink Technology tersungkur sekitar 60 persen dari titik puncaknya pada Juni dan Juli. Penurunan ini dipicu oleh rencana Amerika Serikat membatasi pasokan komponen produksi mereka ke fasilitas pusat data.

Sektor manufaktur semikonduktor juga tidak luput dari gejolak, di mana saham CXMT merosot lebih dari 25 persen dalam kurun sebulan terakhir. Sementara saham MetaX Integrated Circuits dan Moore Threads Technology kehilangan sekitar separuh nilainya sejak Juli 2026, setelah sempat melesat masing-masing 700 persen dan 400 persen saat debut pada 2025.

  • Saham Unitree anjlok 50 persen dari harga debut IPO (yang sebelumnya oversubscribed 8.000 kali).

  • Saham Zhongji Innolight dan Eoptolink Technology terperosok 60 persen dari titik puncak perdagangan pertengahan tahun.

  • Saham MetaX dan Moore Threads kehilangan 50 persen nilai pasar setelah sebelumnya sempat meroket 700 persen dan 400 persen.

Evaluasi Tingkat Valuasi Rasio P/E Saham Sektor Teknologi

Sebelum gelombang koreksi melanda, harga saham teknologi Tiongkok melambung sangat tinggi hingga tidak sebanding dengan realisasi tingkat keuntungan bersih perusahaan. Pada puncak masa reli, indeks STAR 50 ditransaksikan dengan rasio harga terhadap laba (Price-to-Earnings Ratio / P/E) menembus hampir 250 kali.

Page 1 of 3

Berita Terkait

Berita Terpopuler

Memuat...

Berita Terupdate

Memuat berita terbaru…