Arasvara.ID - Sebagian dari kalian pasti dulu termasuk orang yang mengira investasi emas itu sederhana, beli, simpan, lalu tunggu harga naik. Ternyata bagian “tunggu harga naik” itu justru yang sering bikin orang salah paham.
Maslahnya bukan cuma harga emas. Ada spread, biaya pembelian, harga buyback, ukuran gramasi, jenis emas, sampai tempat kita membeli dan menjualnya. Kalau semua itu tidak dihitung, emas yang terlihat naik ternyata belum tentu membuat kita untung.
Jadi, kalau pertanyaannya adalah cara investasi emas agar untung, jawabannya bukan sekadar membeli ketika harga murah. Kita perlu tahu emas seperti apa yang dibeli, berapa lama disimpan, berapa spread-nya, dan kepada siapa emas tersebut nantinya dijual.
Apakah Investasi Emas Bisa Menguntungkan?
Bisa, tetapi tidak berarti emas selalu untung.
Ini bagian yang paling penting untuk dipahami dalam investasi emas untuk pemula. Harga emas memang memiliki sejarah kenaikan dalam jangka panjang, tetapi dalam periode tertentu harganya tetap bisa turun.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam materi edukasinya menjelaskan bahwa emas memiliki karakter sebagai investasi jangka panjang, tetapi juga memiliki kekurangan, antara lain kurang cocok untuk investasi jangka pendek dan memiliki spread harga.
Jadi, banyak yang kurang setuju kalau ada yang mengatakan, “Beli emas pasti untung.”
Tidak sesederhana itu.
“Untuk investasi jangka panjang, saran saya kembali ke basic yaitu emas dalam bentuk fisik.”
Pernyataan tersebut disampaikan Eko Endarto, perencana keuangan, dalam Majalah Edukasi Konsumen OJK. Dalam konteks yang sama, Eko juga mengingatkan pentingnya memastikan ada fisik yang mendasari transaksi dan memperhatikan legalitas produk.
Poinnya jelas, jangan membeli emas hanya karena sedang ramai. Pahami dulu produk yang dibeli.
Tentukan Tujuan Investasi
Sebelum mencari cara investasi emas, sebagian pihak biasanya akan bertanya dulu emas ini mau dipakai untuk apa?
Kalau tujuannya dana pendidikan 10 tahun lagi, strateginya tentu berbeda dengan orang yang membutuhkan aset yang mudah dicairkan untuk kebutuhan beberapa bulan ke depan.
Untuk investasi emas jangka panjang, emas batangan bisa menjadi pilihan yang lebih sederhana untuk dipahami. Sementara emas perhiasan memiliki fungsi tambahan karena bisa digunakan, tetapi struktur harganya berbeda.
Kesalahan yang sering terjadi adalah mencampur fungsi tersebut.
Orang membeli perhiasan dengan ongkos pembuatan tertentu, lalu beberapa bulan kemudian menjualnya dan kaget karena uang yang diterima lebih rendah. Padahal sejak awal, perhiasan bukan sekadar soal harga emas per gram.
Karena itu, sebelum membeli, ada baiknya calon konsumen akan menentukan dulu tiga hal, tujuan, jangka waktu, dan dana yang memang siap diinvestasikan.
Pilih Emas Fisik atau Digital
Ini salah satu keputusan penting dalam strategi investasi emas. Kalau Anda masih membandingkan pilihan tersebut, baca juga panduan emas untuk investasi agar punya gambaran yang lebih lengkap sebelum membeli.
Emas Batangan
Emas batangan memiliki bentuk fisik yang jelas dan bisa disimpan sendiri. Untuk produk resmi seperti ANTAM LM, misalnya, investor juga dapat menggunakan layanan buyback yang disediakan produsennya.
Namun, ada konsekuensinya, emas fisik perlu disimpan dengan aman. Kalau jumlahnya mulai banyak, aspek keamanan tidak boleh dianggap remeh.
Pendapat Eko Endarto di majalah edukasi OJK menarik untuk diperhatikan. Ia menyarankan investor jangka panjang kembali ke dasar, yaitu memastikan investasi emas memiliki underlying fisik yang jelas dan memperhatikan legalitas pihak yang menyediakan produk.
Emas Digital
Emas digital lebih praktis untuk orang yang ingin investasi emas bulanan dengan nominal kecil.
Kita tidak harus menunggu uang terkumpul untuk membeli satu keping emas batangan. Pembelian dapat dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan, selama platform yang digunakan memiliki mekanisme dan legalitas yang jelas.
Menariknya, pendapat Eko juga menunjukkan bahwa pilihan fisik dan digital tidak harus dipertentangkan.
Dalam pemberitaan Kontan, Eko menilai emas digital menawarkan efisiensi dan risiko kehilangan atau kerusakan fisik yang lebih rendah bagi investor ritel, tetapi ia tetap mengingatkan pentingnya memeriksa legalitas platform dan keberadaan underlying emas fisik.
Jadi, kalau ada yang bertanya mana yang lebih bagus, jawabannya, tentu tergantung tujuan dan produknya.
Tentukan Gramasi
Ini sering dianggap sepele.
Padahal gramasi bisa memengaruhi harga efektif yang kita bayar untuk setiap gram emas. Pecahan kecil bisa memiliki harga per gram yang berbeda dibanding pecahan yang lebih besar.
Karena itu, jangan hanya bertanya, “Berapa harga emas 1 gram hari ini?”
Pertanyaan yang lebih berguna adalah, “Berapa harga efektif per gram yang saya bayar, dan berapa harga buyback-nya?”
Kalau dana belum besar, tidak perlu memaksakan membeli pecahan besar. Nabung emas secara rutin bisa menjadi alternatif, terutama jika tujuan investasinya memang jangka panjang.
Beli Secara Bertahap atau Sekaligus?
Ini pertanyaan klasik: kapan beli emas?
Kalau tidak bisa mengetahui titik harga terendah, ada baiknya lebih nyaman menggunakan strategi pembelian bertahap.
Misalnya memiliki anggaran Rp1 juta per bulan. Dana tersebut bisa digunakan untuk membeli emas secara rutin daripada menunggu berbulan-bulan hanya karena berharap harga turun.
Masalahnya, harga bisa saja tidak turun sesuai harapan.
Ada pola yang cukup umum, orang menunggu harga turun, harga malah naik. Karena takut ketinggalan, akhirnya membeli ketika harga sudah lebih tinggi.
Makanya, untuk pemula, disiplin sering lebih penting daripada mencoba menjadi peramal harga emas.
Perhatikan Spread
Nah, ini bagian yang paling penting dalam cara mendapatkan keuntungan dari emas.
Spread adalah selisih antara harga beli dan harga jual kembali. OJK juga memasukkan spread sebagai salah satu kekurangan investasi emas.
Contohnya sederhana.
Misalnya kita membeli emas seharga Rp10 juta. Saat ingin menjual, harga buyback yang tersedia baru Rp9,2 juta. Artinya harga emas harus naik terlebih dahulu melewati selisih tersebut sebelum investasi kita benar-benar menghasilkan keuntungan.
Jadi jangan sampai melihat berita “harga emas naik” lalu langsung merasa portofolio kita pasti cuan.
Belum tentu.
Hitung Harga Buyback
Sebelum membeli emas, banyak praktisi justru menyarankan melihat harga buyback terlebih dahulu.
Kenapa?
Karena buyback adalah salah satu gambaran paling nyata mengenai berapa nilai yang bisa kita terima ketika keluar dari investasi tersebut.
Misalnya:
- Harga beli: Rp10.000.000
- Harga buyback: Rp9.300.000
- Selisih: Rp700.000
Berarti harga emas harus mengalami kenaikan lebih dari Rp700.000, dengan memperhitungkan biaya lain, sebelum posisi investasi benar-benar menghasilkan keuntungan bersih.
Cara sederhana seperti ini jauh lebih berguna daripada hanya mengikuti grafik harga emas.
Jangan Hanya Melihat Harga Jual
Ketika mencari cara membeli emas, biasakan membuka halaman harga buyback juga.
Hal yang bisa dilakukan, catat dua angka tersebut sebelum transaksi.
Kalau spread terlalu besar untuk tujuan investasi, pertimbangkan produk atau ukuran lain.
Jangan Abaikan Biaya
Biaya kecil sering terlihat tidak penting.
Padahal kalau dikumpulkan, dampaknya bisa terasa.
Periksa biaya administrasi, biaya penyimpanan jika ada, biaya pencetakan emas fisik pada produk digital, pajak, hingga ketentuan transaksi buyback.
Eko Endarto juga menyinggung bahwa pencetakan emas digital menjadi fisik dapat dikenai biaya, khususnya untuk gramasi kecil.
Artinya, jangan hanya bertanya “harga emasnya berapa?”
Tanyakan juga, “setelah semua biaya, berapa sebenarnya biaya yang saya keluarkan?”
Kapan Sebaiknya Menjual Emas?
Ada baiknya kalian tidak percaya ada satu tanggal yang pasti menjadi waktu terbaik untuk menjual emas.
Sebab keputusan jual sebaiknya dikaitkan dengan tujuan investasi.
Misalnya target awal adalah mengumpulkan Rp50 juta untuk kebutuhan tertentu. Ketika target tersebut sudah tercapai, kita bisa mempertimbangkan merealisasikan keuntungan daripada terus menunggu harga naik tanpa batas.
Jangan lupa, harga tertinggi baru bisa diketahui setelah dilewati.
Itu yang sering bikin investor terjebak.
Kesalahan Investor Emas Pemula
Menganggap Emas Pasti Untung
Ini kesalahan paling umum.
Emas bisa menghasilkan keuntungan, tetapi tetap ada risiko penurunan harga dan spread antara harga beli dengan buyback.
OJK juga mencatat emas kurang cocok untuk mengejar keuntungan jangka pendek karena kenaikan nilainya cenderung lebih lambat dan spread dapat menjadi beban bagi investor.
Membeli Karena FOMO
Harga naik sedikit, langsung beli banyak.
Besok turun, panik.
Minggu berikutnya naik lagi, beli lagi.
Kalau pola ini terjadi terus, investasi berubah menjadi aktivitas mengejar harga. Lebih baik tentukan anggaran dan jadwal pembelian sejak awal.
Tidak Mengecek Legalitas
Ini tidak boleh dilewati.
Dalam wawancaranya yang dimuat OJK, Eko Endarto secara khusus menekankan pentingnya legalitas ketika memilih produk investasi emas.
Untuk emas digital, perhatian terhadap penyelenggara menjadi semakin penting karena kita bertransaksi melalui platform.
Eko kembali mengingatkan agar calon investor emas untuk memastikan platform emas digital memiliki legalitas yng sesuai dan emas digital yang dibeli memiliki underlying emas fisik yang jelas.
Jadi, kalo ada aplikasi menawarkan keuntungan yang terdengar terlalu indah, berhenti sebentar dan cek legalitasnya.
Mengira Perhiasan Sama dengan Logam Mulia
Perhiasan memang bisa memiliki nilai emas.
Tapi tujuan pembeliannya berbeda.
Kalau fokus utama kita adalah cara investasi emas agar untung, lebih baik berhati-hati terhadap ongkos pembuatan, kadar emas, kondisi barang, dan kebijakan toko ketika melakukan buyback.
Perhiasan boleh saja menjadi bagian dari aset, tetapi jangan otomatis menganggap semua perhiasan akan memberikan hasil investasi yang sama dengan emas batangan.
Jadi, Bagaimana Cara Investasi Emas Agar Untung?
Setelah memahami semua bagian tadi, terlihat bahwa cara investasi emas agar untung sebenarnya bukan soal menemukan trik rahasia.
Mulailah dengan menentukan tujuan. Setelah itu pilih produk, bandingkan harga per gram, cek spread, lihat harga buyback, hitung biaya, kemudian tentukan apakah pembelian lebih cocok dilakukan bertahap atau sekaligus.
Pendapat Eko Endarto juga memberi satu pelajaran penting untuk investasi jangka panjang, investor perlu memahami apa yang sebenarnya dimiliki dan memastikan aspek legalitasnya.
Lalu, jangan jadikan emas sebagai satu-satunya aset.
Emas punya fungsi yang menarik, tetapi investasi tetap perlu disesuaikan dengan tujuan, kemampuan finansial, dan toleransi risiko masing-masing.
Kalau mau memahami pilihan emas sebelum membeli, baca panduan emas untuk investasi agar keputusan yang dibuat tidak hanya berdasarkan harga yang sedang ramai.
Pada akhirnya, investasi emas bukan perlombaan untuk menebak harga besok.
Yang lebih penting adalah membeli dengan perhitungan, memahami biaya keluar, memilih tempat transaksi yang kredibel, lalu memberi waktu yang cukup kepada investasi tersebut.
Kadang strategi terbaik memang terasa membosankan.
Tapi dalam investasi, membosankan sering kali jauh lebih sehat daripada panik.