ARASVARA.ID - Merasa cemas dan kehilangan arah dalam menjalani hidup di usia 20 tahun bisa menjadi tanda seseorang sedang mengalami quarter life crisis.
Kondisi ini dapat muncul ketika seseorang mulai mempertanyakan pilihan hidup, karier, hubungan, hingga masa depan. Tidak jarang, berbagai pertanyaan tersebut membuat seseorang merasa tertinggal dari orang-orang seusianya.
Padahal, setiap orang memiliki perjalanan dan waktu yang berbeda dalam mencapai tujuan hidupnya. Artikel ini membahas tentang fase quarter life crisis, simak sampai akhir.
Apa Itu Quarter Life Crisis?
Quarter Life Crisis adalah fase kehidupan yang dipenuhi dengan perasaan cemas dan khawatir terhadap masa depan, sehingga sering merasa kehilangan arah dan meragukan kemampuan yang ada pada dirinya.
Menurut tulisan Zahwa Citra Wijaya dan teman-teman dalam jurnal Psikologi Terapan, vol.7, no, 1, tahun 2024, menyatakan bahwa quarter life crisis merupakan sebuah istilah psikologi perkembangan yang menggambarkan kondisi krisis yang dialami individu pada fase dewasa awal, yaitu sekitar usia 18 hingga 30 tahun.
Pada tahap ini, seseorang sedang dihadapkan dengan berbagai persoalan yang dapat menentukan keberlangsungan hidupnya di masa depan.
Di antaranya yaitu jenjang karier, kemandirian finansial, serta pencarian jati diri. Kondisi tersebut dapat membuat hati dan pikirannya dipenuhi dengan kecemasan, ketakutan, serta tekanan karena adanya ketidakpastian dalam menjalani kehidupan.
Kondisi ini bukan termasuk diagnosis medis atau gangguan mental, melainkan fase transisi yang mengharuskan setiap individu keluar dari zona nyaman mereka, seperti sekolah atau kuliah menuju dunia professional yaitu mencari pekerjaan.
Banyak orang yang kurang nyaman dengan fase ini karena setiap keputusan yang diambil memiliki risiko yang ditanggung oleh diri sendiri.
Apa Saja Gejala Quarter Life Crisis?
Melansir dari akun TikTok @VajraGandaria yang membagikan tanda-tanda seseorang mengalami QLC yaitu sebagai berikut:
1. Meragukan Diri Sendiri
Seseorang yang mengalami qlc dapat meragukan kemampuan diri sendiri. Bahkan, bisa merasa tidak cukup baik dan kompeten dalam menyelesaikan sesuatu.
Selain itu, cenderung mempertanyakan apakah pilihan yang diambil sudah sesuai dengan tujuan hidupnya.
2. Membandingkan Diri Sendiri dengan Orang Lain
Melihat teman atau orang sekitar yang kehidupannya tampak lebih menyenangkan membuat seseorang membandingkan dirinya, baik perihal karier, keuangan, hingga asmara.
3. Sulit Mengambil Keputusan
Keraguan serta ketakutan dalam menghadapi masa depan membuat seseorang sulit mengambil keputusan dalam hidupnya.
Takut merasakan penyesalan dan keluar dari zona nyaman bisa menyebabkan hidup orang tersebut stuck di tempat.
4. Kelelahan Emosional
Sering merasa lelah secara emosional karena banyak memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.
5. Menarik Diri dari Lingkungan Sosial
Seseorang bisa menarik diri dari lingkungan sosial ketika merasa tertekan, cemas, atau tidak nyaman dengan kondisi yang sedang dihadapi.
Apa Penyebab Fase Quarter Life Crisis?
Dalam buku Berdamai dengan Quarter Life Crisis karya Jewellius Kistom M, menjelaskan bahwa penyebab terjadinya fase QLC ada dua faktor, yaitu sebagai berikut:
Faktor Internal
Faktor internal yaitu penyebab yang muncul dari dalam diri sendiri terkait kehidupan, diantaranya:
1. Harapan dan Impian
Anak muda memiliki harapan dan impian dalam hidupnya, muali dari karier, finansial, hingga asmara. Hanya saja, realita terkadang yang terjadi tidak sama dengan keadaan yang sedang dijalani.
Hal tersebut memicu timbulnya kecemasan serta keraguan dalam dirinya. Kemudian, ia akan mempertanyakan kemampuan yang ada pada dirinya.
2. Spiritual
Memasuki usia dewasa, seseorang akan semakin kritis terhadap kondisi dalam hidupnya, termasuk ranah spiritualitas. Pemikiran yang belum stabil bisa memicu timbulnya pertanyaan terkait kewajiban dan hak yang diatur oleh agama.
Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah penyebab yang datang dari lingkungan sosial, diantaranya yaitu:
1. Keluarga, Pertemanan dan Percintaan
Adanya interaksi dengan keluarga, teman dan pasangan bisa mempengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Adanya tuntunan atau permasalahan dengan orang sekitar dapat menimbulkan keraguan dalam menilai kemampuan dirinya.
2. Tantangan Akademis
Kesulitan dalam menyelesaikan pendidikan akademis dapat memicu munculnya rasa cemas, rendah diri, dan kekhawatiran mengenai masa depan.
Kondisi tersebut juga dapat membuat seseorang merasa tertinggal dibandingkan teman-teman seusianya.
3. Kehidupan Pekerjaan
Seseorang mungkin merasa bingung dalam menentukan pekerjaan yang sesuai dengan minat, kemampuan, maupun tujuan hidupnya.
Kondisi tersebut dapat menimbulkan keraguan dan kecemasan mengenai arah karier di masa depan.
Bagaimana Cara Menghadapi Quarter Life Crisis?
Melansir dari akun TikTok @IdeaPsychologyCenter, membagikan beberapa cara mengatasi quarter life crisis yang bisa kamu lakukan, yaitu sebagai berikut:
1. Memahami Tujuan Hidup
Memahami tujuan hidup dapat membantu seseorang dalam menentukan arah yang ingin dituju. Kamu bisa memulainya dengan berusaha mencapai goals kecil yang bisa diraih dalam jangka waktu dekat.
2. Mengenal Kemampuan Diri
Berkenalan dengan diri sendiri secara mendalam dapat membantu seseorang mengetahui minat dan kemampuan dalam dirinya.
Selain itu, bisa juga mengetahui kelebihan dan kekurangannya sendiri, sehingga dapat memaksimal diri untuk mencapai sesuatu yang hendak diraih.
3. Membatasi Ekspektasi
Ekspektasi yang terlalu tinggi bisa menyebabkan kekecewaan hingga menimbulkan tekanan jika tidak sesuai dengan realitanya.
4. Memasang Boundaries
Perlu menetapkan batasan dalam hubungan dengan orang lain demi kenyamanan dan kesehatan diri sendiri.
5. Hidup di Masa Sekarang
Memikirkan masa depan dan menyesali masa lalu justru membuat pikiran terbebani. Dengan begitu, perlu menjalani kehidupan secara sadar dengan berfokus pada hal-hal yang sedang dilakukan saat ini.
Quarter life crisis merupakan fase yang dapat membuat seseorang merasa bingung, cemas, dan ragu dalam menentukan arah kehidupan.
Namun, kondisi tersebut dapat menjadi kesempatan untuk lebih mengenal diri sendiri dan memahami tujuan yang ingin dicapai. Dengan begitu, jangan terlalu keras pada diri sendiri dan nikmati setiap proses yang sedang dijalani.
