Doa I'tidal Muhammadiyah dan Artinya, Lengkap dengan Latin

Ilustrasi doa i tidal muhammadiyah.

Ilustrasi doa i tidal muhammadiyah.(Unsplash)

RS

By Rendra Saputra

Publish: 27 Agustus 2026 - 14:48 WIB
Updated: 12 Oktober 2026 - 14:58 WIB
Share:

Arasvara.ID - Doa i’tidal Muhammadiyah merupakan bacaan yang dibaca setelah bangkit dari rukuk dan berdiri tegak sebelum turun menuju sujud. Salah satu bacaan yang tercantum dalam tuntunan salat Muhammadiyah adalah “Rabbanaa wa lakal-hamdu hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiih.”

Bagi yang mencari doa i’tidal Muhammadiyah dan artinya, berikut bacaan lengkapnya. Anda juga akan menemukan versi latin. Artikel ini memuat arti, tata cara membacanya, dan penjelasan. Semua dijelaskan berdasarkan tuntunan Tarjih Muhammadiyah.

Doa I’tidal Muhammadiyah Latin

Bacaan i’tidal yang dimaksud adalah:

رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ

Rabbanaa wa lakal-hamdu hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiih.

Artinya:

“Wahai Tuhan kami, bagi-Mu segala puji, pujian yang banyak, baik, dan penuh keberkahan di dalamnya.”

Redaksi tersebut tercantum dalam tuntunan salat yang diterbitkan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Tuntunan tersebut juga mencantumkan beberapa redaksi doa i’tidal lainnya, sehingga bacaan i’tidal Muhammadiyah tidak hanya satu bentuk.

Kapan Doa I’tidal Dibaca?

I’tidal merupakan posisi setelah seseorang bangkit dari rukuk. Ketika bangkit, dibaca:

Sami’allahu liman hamidah

Setelah berdiri tegak, dilanjutkan dengan bacaan pujian kepada Allah. Dalam tuntunan Tarjih Muhammadiyah, salah satu redaksinya adalah:

Rabbanaa wa lakal-hamdu hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiih.

Jadi, bacaan tersebut bukan dibaca ketika masih dalam posisi rukuk, melainkan setelah bangkit dan berada dalam posisi i’tidal.

Doa I’tidal Muhammadiyah dan Artinya

Jika diuraikan berdasarkan kata-katanya, maknanya adalah:

  • Rabbanaa: wahai Tuhan kami.

  • Wa lakal-hamdu: dan bagi-Mu segala puji.

  • Hamdan: pujian.

  • Katsiiran: yang banyak.

  • Thayyiban: yang baik.

  • Mubaarakan fiih: yang penuh keberkahan di dalamnya.

Secara keseluruhan, bacaan ini merupakan ungkapan pujian kepada Allah dengan menegaskan bahwa pujian tersebut banyak, baik, dan mengandung keberkahan.

Apakah Bacaan I’tidal Muhammadiyah Harus Selalu Panjang?

Tidak harus menggunakan redaksi panjang tersebut dalam setiap keadaan. Tuntunan Tarjih Muhammadiyah menyebut beberapa pilihan bacaan i’tidal.

Antaranya ialah “Rabbana wa lakal-hamdu” dan “Allahumma rabbana lakal-hamdu”. Disebut juga bacaan dengan tambahan “hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiih”. Selain itu, ada juga redaksi pujian yang lain.

Hal ini juga menunjukkan bahwa istilah doa i’tidal Muhammadiyah sebaiknya tidak dipahami sebagai satu-satunya bacaan yang wajib digunakan oleh seluruh warga Muhammadiyah.

Apa Dalil Bacaan I’tidal Ini?

Bacaan tersebut memiliki dasar dari hadis. Dalam riwayat dalam Sunan an-Nasa’i, Rifa’ah bin Rafi menceritakan hal berikut.

Setelah Rasulullah SAW mengangkat kepala dari rukuk dan mengucapkan Sami’allahu liman hamidah, seseorang di belakang beliau membaca:

Rabbana wa lakal-hamd, hamdan kathiran tayyiban mubarakan fih.

Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW kemudian memuji bacaan itu dengan menyebut adanya banyak malaikat yang berlomba mencatatnya.

Karena itu, bacaan dengan tambahan hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiih memiliki landasan hadis dan tercantum pula dalam tuntunan salat Muhammadiyah.

Intinya

Doa i’tidal Muhammadiyah latin yang banyak dicari adalah:

Rabbanaa wa lakal-hamdu hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiih.

Artinya, “Wahai Tuhan kami, bagi-Mu segala puji, pujian yang banyak, baik, dan penuh keberkahan di dalamnya.”

Namun, penting diketahui bahwa tuntunan Tarjih Muhammadiyah mencantumkan beberapa redaksi bacaan i’tidal. Jadi, bacaan tersebut bukan berarti satu-satunya redaksi i’tidal yang digunakan dalam tuntunan Muhammadiyah.

Setelah memahami bacaan i'tidal, Anda juga dapat mempelajari bacaan dan tata cara ibadah sunnah lainnya, termasuk shalat tahajjud.

FAQ Doa I’tidal Muhammadiyah

1. Apa doa i’tidal Muhammadiyah?

Salah satu bacaan i’tidal yang tercantum dalam tuntunan Tarjih Muhammadiyah adalah:

Rabbanaa wa lakal-hamdu hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiih.

Artinya, “Wahai Tuhan kami, bagi-Mu segala puji, pujian yang banyak, baik, dan penuh keberkahan di dalamnya.”

2. Apa doa i’tidal Muhammadiyah latin?

Latin bacaan tersebut adalah:

Rabbanaa wa lakal-hamdu hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiih.

3. Kapan membaca Rabbanaa wa lakal-hamdu?

Bacaan tersebut dibaca setelah bangkit dari rukuk dan telah berada dalam posisi i’tidal atau berdiri tegak.

4. Apakah bacaan i’tidal Muhammadiyah hanya satu?

Tidak. Tuntunan Tarjih Muhammadiyah mencantumkan beberapa redaksi bacaan i’tidal. Salah satunya adalah bacaan dengan tambahan hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiih.

5. Apa arti hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiih?

Frasa tersebut bermakna pujian yang banyak, baik, dan penuh keberkahan di dalamnya.

6. Apa bacaan makmum ketika imam membaca Sami’allahu liman hamidah?

Dalam penjelasan Ensiklopedia Tarjih Muhammadiyah, ketika imam mengucapkan Sami’allahu liman hamidah, makmum mengucapkan Rabbana wa lakal-hamdu. Prinsipnya, makmum mengikuti gerakan imam dalam salat dan tidak mendahuluinya.

Referensi

  1. Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Tuntunan Shalat, memuat beberapa teks doa i’tidal. Ia termasuk bacaan “Rabbana wa lakal-hamdu hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiih.”

  2. Ensiklopedia Tarjih Muhammadiyah, “Beda Cara Shalat Subuh dan Shalat Jumat Antara Dua Kelompok” — menjelaskan bacaan makmum ketika imam membaca Sami’allahu liman hamidah.

  3. Sunan an-Nasa’i 1062 — riwayat tentang bacaan Rabbana wa lakal-hamd, hamdan kathiran tayyiban mubarakan fih setelah bangkit dari rukuk.

Berita Terkait

Berita Terpopuler

Memuat...

Berita Terupdate

Memuat berita terbaru…