ARASVARA.ID - Istilah guilt tripping mungkin sudah tidak asing bagi para pengguna media sosial, terutama ketika membahas tentang hubungan keluarga hingga asmara.

Kata guilt tripping sendiri merujuk pada perilaku manipulasi emosional yang membuat seseorang kerap merasa bersalah agar bersedia untuk melakukan sesuatu yang bukan keinginannya.

Lantas, apa itu istilah guilt tripping yang tak jarang ada pada topik pembahasan anak muda di media sosial? Simak ulasannya berikut ini.

Apa Itu Guilt Tripping?

Dalam konteks percintaan, persahabatan, atau keluarga, terkadang seseorang memanfaatkan rasa bersalah untuk memengaruhi pilihan orang lain.

Tindakan ini dikenal sebagai guilt tripping, sebuah bentuk manipulasi emosi yang sebaiknya dihindari.

Istilah ini menggambarkan tindakan yang membuat orang merasa bersalah atau bertanggung jawab supaya mau memenuhi keinginan orang lain.

Pelaku dapat menggunakan kesalahan di masa lalu, sindiran, atau ekspresi tertentu untuk memberikan tekanan emosi.

Menurut Cleveland Clinic, guilt tripping berfungsi dengan memanfaatkan rasa tanggung jawab dan kewajiban seseorang.

Akibatnya, orang tersebut bisa merasa tidak enak hati saat menolak permintaan, meskipun sebenarnya memiliki alasan yang kuat.

Ciri-Ciri Guilt Tripping

1. Sering Mengungkit Kesalahan di Masa Lalu

Salah satu tanda dari sikap manipulasi ini adalah memanfaatkan kesalahan yang telah terjadi sebelumnya untuk menyalahkan orang lain dalam keadaan yang berbeda.

Contohnya, seseorang bisa berkata, "Dulu kamu juga pernah mengecewakan aku. Kenapa sekarang kamu tidak mau melakukan ini untukku? "

Perilaku mengingat kembali kejadian lama dapat membuat orang merasa terus-menerus bersalah dan sulit untuk mempertahankan diri.

Daripada menangani masalah yang sedang berlangsung, kesalahan masa lalu justru dipakai untuk membebani orang lain.

2. Komunikasi yang Pasif-Agresif

Tak hanya kerap mengungkit masa lalu, pelaku yang kerap melakukan guilt tripping juga bisa menyampaikan komunikasi yang pasif-agresif.

Seseorang mungkin tidak menyatakan kekecewaannya dengan terang, tetapi malah memilih untuk menyindir atau bersikap dingin agar orang lain merasa bersalah.

Contohnya, "Tidak masalah, saya memang tidak pernah menjadi yang utama bagimu. "

Menurut psikolog Kelly Deragon, PsyD, dalam penjelasan dari Cleveland Clinic, perilaku pasif-agresif adalah cara untuk menyampaikan perasaan negatif secara tidak langsung, baik melalui ucapan maupun gerakan tubuh.

Jika cara ini dipakai terus menerus untuk memengaruhi keputusan orang lain, metode komunikasi ini dapat membuat hubungan menjadi tidak nyaman.

3. Kerap Melontarkan Komentar Sarkas

Komentar yang bernada sarkastis atau sinis juga bisa menjadi cara untuk membuat seseorang merasa bersalah.

Umumnya, pernyataan tersebut digunakan untuk mengecilkan atau meragukan kemampuan orang lain. Contohnya, "Bagus sekali, bahkan hal yang sederhana ini saja kamu tidak mampu dilakukan. "

Pernyataan semacam ini bisa membuat seseorang merasa tidak dihargai dan takut membuat kesalahan.

Jika diulang terus-menerus, rasa percaya diri dalam berkomunikasi maupun mengambil keputusan bisa terganggu.

Cleveland Clinic mengungkapkan bahwa sarkasme dan komentar yang merendahkan merupakan bentuk komunikasi yang bersifat pasif-agresif dan bisa menyebabkan konflik dalam hubungan.

4. Menggunakan Bahasa Tubuh untuk Memberikan Tekanan

Seseorang yang melakukan manipulasi emosional terhadap orang lain tidak selalu disampaikan melalui kata-kata saja.

Bahasa tubuh seperti mendesah keras, memutar mata, menggelengkan kepala, atau menunjukkan sikap dingin juga dapat digunakan untuk memperlihatkan ketidakpuasan.

Misalnya, seseorang sengaja menunjukkan ekspresi kecewa ketika permintaannya ditolak. Sikap tersebut bisa membuat orang lain merasa tidak nyaman hingga akhirnya mengubah keputusan demi menghindari konflik.

Itu dia penjelasan mengenai arti dari guilt tripping beserta empat ciri umum yang bisa muncul dalam hubungan keluarga hingga asmara.