ARASVARA.ID - Shoegaze menjadi salah satu genre musik alternatif yang kembali menarik perhatian pendengar musik, khususnya Gen Z.

Genre shoegaze memiliki ciri khas berupa suara gitar berdistrosi, vokal yang terdengar samar, serta melodi yang menciptakan suasana dreamy dan sedikit melankolis.

Dipengaruhi oleh musik psikedelik era 1960-1970-an serta noise rock pada 1980-an, musik shoegaze berkembang pesat di Inggris pada awal 1990-an.

Meski popularitasnya sempat kalah dari grunge dan Britpop, pengaruh shoegaze masih terasa dalam perkembangan musik alternatif hingga saat ini.

Apa Itu Shoegaze?

Shoegaze adalah genre musik alternatif yang menggabungkan distrosi gitar, efek suara berlapis, dan melodi bernuansa dreamy.

Istilah shoegaze sendiri muncul setelah seorang jurnalis musik melihat band Moose tampil sambil menunduk ke arah pedal efek dan lirik di lantai.

Kebiasaan tersebutlah yang kemudian melekat sebagai salah satu ciri penampilan musisi dengan genre shoegaze.

Berbeda dari Britpop yang identik dengan penampilan ekspresif, musisi shoegaze lebih berfokus pada eksplorasi suara dan cenderung minim interaksi dengan penonton.

Beberapa band yang dikenal dalam perkembangan musik shoegaze antara lain My Bloody Valentine, Slowdive, Ride, dan Lush.

Sejarah Shoegaze dan Kebangkitannya

Awal mula genre musik ini ditemukan terdapat dalam karya sejumlah band yang bereksperimen dengan distrosi dan tekstur gitar.

Album Psychocandy (1985) dari The Jesus and Mary Chain menjadi salah satu karya yang dianggap memengaruhi perkembangan genre ini melalui perpaduan melodi pop dan suara gitar yang bising.

Tak hanya itu, Cocteau Twins juga turut memberi pengaruh lewat gitar bergema dan vokal yang mengawang.

Di sisi lain, Sonic Youth dan Dinosaur Jr. memperkenalkan pendekatan gitar yang lebih kasar dan eksperimental.

Sementara itu, pada awal 1990-an, shoegaze melahirkan sejumlah album penting, seperti Nowhere dari Ride, Loveless dari My Bloody Valentine, dan Souvlaki dari Slowdive.

Sejumlah musisi lain seperti Lush, Catherine Wheel, dan Swervedriver juga memperkaya genre ini dengan sentuhan dream pop dan rock alternatif.

Meski pada pertengahan tahun 1990-an genre ini mulai kehilangan sorotan karena Britpop semakin populer di Inggris dan grunge menawarkan karakter musik rock yang lebih ekspresif.

Di tengah perubahan tersebut, shogaze dianggap kurang mudah dijangkau karena lebih menonjolkan atmosfer dan eksperimen suara daripada penampilan panggung yang atraktif.

Kendati demikian, pengaruhnya tetap bertahan dan turut menginspirasi perkembangan dream pop serta post-rock, yang sama-sama mengeksplorasi suasana dan tekstur musik.

Pada akhir 2000-an, shoegaze mengalami perkembangan baru melalui gelombang yang dikenal sebagai nu-gaze.

Musisi seperti M83 dan Deerhunter menggabungkan elemen shoegaze dengan sentuhan elektronik dan indie rock.

Kembalinya My Bloody Valentine dan Slowdive ke panggung musik pun turut memperkenalkan karya-karya klasik shoegaze kepada para pendengar baru.

Belakangan ini, genre tersebut akhirnya kembali menarik perhatian pendengar muda, khususnya para Gen Z.

Platform streaming dan media sosial menjadi wadah alternatif yang memudahkan mereka menemukan lagu-lagu lawas sekaligus mengenal musisi baru dengan kategori shoegaze.

Ciri-Ciri Musik Shoegaze

Adapun beberapa karakter yang membuat genre ini cukup mudah dikenali oleh para penikmat musik adalah sebagai berikut.

1. Gitar Berdistorsi

Suara gitar menjadi salah satu elemen utama dalam shoegaze. Efek distorsi dan fuzz menghasilkan suara tebal yang berlapis, sehingga musiknya terasa penuh dan khas.

2. Vokal yang Samar

Berbeda dari lagu pop yang biasanya menonjolkan suara penyanyi, vokal dalam shoegaze sering terdengar menyatu dengan instrumen.

Lirik-lirik yang disampaikan melalui genre ini terkadang sulit ditangkap karena tertutup lapisan suara gitar.

3. Nuansa Dreamy dan Melankolis

Shoegaze identik dengan suasana mengawang, sendu, dan nostalgis. Meski begitu, tidak semua lagunya terdengar sedih. Ada pula karya dengan melodi yang lebih cerah dan ritme yang energik.

4. Efek Suara yang Berlapis

Efek seperti reverb dan delay sering digunakan untuk menciptakan suara gitar yang bergema atau terasa panjang. Hasilnya, musik shoegaze punya atmosfer yang khas dan berbeda dari rock konvensional.

Rekomendasi Band Shoegaze untuk Pemula

Kalau baru ingin mendengarkan shoegaze, kamu bisa mulai dari empat band berikut.

  1. My Bloody Valentine — Cocok untuk mengenal shoegaze dengan distorsi gitar yang tebal dan eksperimental.

  2. Slowdive — Pilihan untuk kamu yang menyukai melodi lembut dan suasana dreamy.

  3. Ride — Menggabungkan karakter shoegaze dengan energi rock yang lebih kuat.

  4. Lush — Memadukan shoegaze dengan sentuhan dream pop dan melodi yang mudah diikuti.

Keempat band tersebut bisa menjadi pintu masuk untuk memahami shoegaze klasik sebelum menjelajahi musisi generasi baru.

Bagi kamu yang bosan dengan musik yang itu-itu saja, shoegaze bisa menjadi pilihan untuk memperluas selera musik.

Demikian perjalanan shoegaze dari skena musik alternatif Inggris hingga kembali menarik perhatian pendengar muda saat ini.