Oleh Pemimpin Redaksi Arasvara Sutiyono

ARASVARA.ID - HARI Sumpah Pemuda menggelora di jagat Indonesia. Di kota, desa, dan seantero nusantara menggelar peringatannya.

Sumpah Pemuda

1. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

2. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bangsa yang satu, bangsa Indonesia.

3. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Ikrar Sumpah Pemuda berkumandang di mana-mana di seantero Indonesia.

Demo Hari Sumpah Pemuda

Bertepatan tahun ke 98 Sumpah Pemuda bila dihitung sejak Kongres Pemuda 1928, ribuan mahasiswa dari perguruan tinggi di Indonesia, buruh, petani, dan elemen masyarakat sipil menggelar demo.

Massa berunjuk rasa mengkritisi kebijakan pemerintah yang dinilai belum sesuai dengan harapan rakyat.

Di Jakarta, mahasiswa, buruh, petani, dan elemen masyarakat sipil lainnya meneriakkan lima tuntutan yakni mencakup sektor lingkungan, ekonomi, pendidikan, reformasi hukum dan tata kelola pemerintahan, serta HAM dan demokrasi.

Unjuk rasa massa dari berbagai elemen anak bangsa ini selaras dengan keresahan yang dialami sebagian besar rakyat belakangan ini.

Menanggapi unjuk rasa yang berteparan Hari Sumpah Pemuda, Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto kepada wartawan menyatakan Polri menghargai segala penyampaian pendapat di muka umum.

Page Break

Meski demikian, Kapolri Suyudi berpesan agar tidak melakukan tindakan yang anarkis selama berlangsung unjuk rasa.

Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober menjadi pengingat arti pentingnya persatuan di tengah keberagaman bangsa Indonesia.

Ikrar pada tahun 1928 itu tidak lepas dari peran para pemuda pergerakan nasional seperti Soegondo Djojopoespito, Mohammad Yamin, WR Soeparman, Amir Sjarifudin, dan RM Djoko Marsaid.

Melalui Kongres Pemuda II, mereka meletakan fondasi persatuan yang menjadi tonggak penting dalam perjalanan bangsa menuju kemerdekaan.

Lantas siapa kaum pemuda saat ini? Berdasarkan Undang Undang Nomor 40 tahun 2009 tentang Kepemudaan, usia yang tergolong masuk kaum pemuda adalah mereka yang berumur antara 16 tahun sampai dengan 30 tahun.

Tidak jauh berbeda dengan kelompok Generasi Z yang populer disebut Gen Z. Mereka orang-orang yang lahir antara tahun 1997 sampai dengan tahun 2012. Usianya kisaran 14 tahun sampai dengan 29 tahun.

Hampir satu abad berlalu, Gen Z tumbuh di tengah tantangan yang berbeda, persoalan ekonomi, lapangan kerja, pendidikan, sosial, dan dinamika politik. Persoalan itu adalah realitas yang mereka hadapi.

Berbagai persoalan itu ikut membentuk cara bagaimana generasi muda memandang dan memaknai persatuan dan menempatkan diri dalam pergerakan bangsa.

Kaum pemuda atau Gen Z memahami dan mewujudkan semangat Sumpah Pemuda di era sekarang tentu tidak sama dengan saat masa pergerakan tahun 1928.

Lima tuntutan mahasiswa yang diusung dalam unjuk rasa yang mencakup sektor ekonomi, lingkungan, pendidikan, reformasi hukum dan tata kelola pemerintahan serta HAM dan demokrasi sepertinya paralel dengan kondisi bangsa saat ini.

Sebagian besar publik merasakan bila kondisi bangsa ini sedang tidak baik-baik saja. Memang begitulah potret kondisi bangsa ini.

Page Break

Publik pasti mengapresiasi terhadap gerakan mahasiswa dan kaum muda lainnya yang lantang menyuarakan keresahan rakyat.

Mata mahasiswa dan kaum muda sekarang tajam melihat kesusahan yang melilit kehidupan sebagian besar rakyat.

Telinga mereka juga mendengar keluhan rakyat. Hati mereka pun peka terhadap ekonomi rakyat yang dari hari ke hari makin terpuruk.

Semua tuntutan yang diperjuangkan mahasiswa, buruh dan petani sangat relevan dengan apa yang menjadi keresahan rakyat.

Melalui peringatan Sumpah Pemuda, mengajak kaum pemuda atau Gen Z terus kobarkan semangat demi membenahi bangsa ini.