Oleh: Pemimpin Redaksi Arasvara/ Sutiyono

ARASVARA.ID - MELIHAT Kampung Pelangi, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (16/10/2026), sungguh memprihatinkan. Sambil mengelus dada, hati ini langsung bergumam, "Duh kehidupan di Jakarta sangat jomplang."

Bagaimana tidak? Kampung Pelangi boleh dibilang kondisinya morat-marit, padahal berlokasi di tengah-tengah kawasan elite Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Sungguh kontras bila membandingkan kehidupan warga di Kampung Pelangi dengan denyut kehidupan kota yang ada di sekitarnya.

Kehidupan di sekitarnya sangat wow, karena Kebayoran Baru merupakan kawasan komersial kelas atas yang fasilitasnya serba modern.

Di Kampung Pelangi, rumah atau hunian warga berdempetan. Kecil dan didirikan dengan bahan bangunan ala kadarnya. Pendek kata, sangat tidak layak untuk dihuni oleh keluarga.

Sebagian besar warga Kampung Pelangi itu, tingkat ekonominya kelas bawah. Satu rumah kecil bisa dihuni tiga hingga empat keluarga.

Potret yang bikin terenyuh hati juga sama bila menengok permukiman warga di Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat. Hunian warga di sana juga banyak yang tak layak.

Permukiman kumuh sampai saat ini memang menjadi potret yang menggambarkan adanya ketimpangan sosial di Jakarta.

Di tengah-tengah gedung pencakar langit yang lokasinya dekat dengan Istana Negara, tetapi masih banyak ditemukan permukiman kumuh. Berbanding lurus dengan itu, tempat tinggal warga pun tidak layak huni.

Data dari Pemprov DKI Jakarta mencatat ada 211 titik permukiman kumuh. Permukiman ini menyebar di lima wilayah kota dan Kepulauan Seribu.

Page Break

Kenyataan ini membulatkan tekad Pemprov DKI Jakarta untuk menuntaskan permukiman kumuh. Permukiman kumuh itu akan disulap menjadi kawasan yang layak huni.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo berjanji mulai tahun 2027 akan menata dan memperbaiki kawasan permukiman kumuh di Jakarta secara bertahap. Strateginya, dalam menata permukiman kumuh tanpa harus memindahkan warganya ke lokasi lain.

Respon Gubernur Pramono tentu melegakan publik. Saat berkesempatan wawancara dengan warga Kampung Pelangi, mereka berharap Pemprov DKI Jakarta segera manata dan memperbaiki permukimannya.

Menata permukiman kumuh bagi sebuah kota megapolitan sekelas Jakarta itu adalah keharusan. Apalagi, Jakarta sedang memburu ranking 20 Kota Global dunia.

Jakarta memiliki luas 662,33 kilometer. Kota dengan luas cuma segitu dihuni 10,72 juta penduduk.

Melalui UU Nomor 2 tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta (DKJ), Jakarta ditetapkan menjadi Kota Global karena posisinya sebagai kota jangkar utama perekonomian Indonesia, pusat jaringan ekonomi transnasional, dan memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang berstandar internasional.

Berdasarkan Global Cities Index, Jakarta menempati peringkat ke 71 dari 156 kota di dunia. Sementara merujuk pemeringkatan World's Best Cities tahun 2026, Jakarta melesat maju ke ranking 53 kota di dunia.

Gubernur Pramono menargetkan pada tahun 2045, Jakarta bisa masuk 20 besar Kota Global.

Menjadi Kota Global yang ideal harus memiliki langkah strategis seperti penguatan ekonomi, finansial yang oke, integrasi transportasi publik, pembenahan dan peningkatan tata ruang, memperbanyak ruang terbuka hijau dan digitalisasi tata kelola kota.

Publik pun mengapresiasi tekad bulat Pemprov DKI Jakarta yang mulai menyentuh permukiman kumuh di wilayahnya, termasuk membenahi Kampung Pelangi.

Menata permukiman kumuh merupakan bagian integral dari pembenahan tata ruang kota, khususnya dalam aspek peningkatan kualitas permukiman.

Page Break

Apa pun caranya yang jelas salah satu syarat utama menjadikan Jakarta 20 besar Kota Global adalah pembenahan permukiman kumuh (Slums). Program ini dipastikan bisa meningkatkan kualitas hidup.

Sependapat dengan strategi Gubernur Pramono yang akan membenahi permukiman kumuh tanpa memindahkan penghuninya. Sebab, hal ini menyangkut pekerjaan sebagai sumber nafkah keluarga.

Berdasarkan pengalaman, bila tempat tinggal dijauhkan dari tempat kerja maka mereka akan kabur dan kembali ke hunian yang lama. Warga bukan sekadar butuh tempat tinggal saja, melainkan memerlukan pekerjaan demi keberlangsungan hidup keluarga.

Dengan menyulap permukiman kumuh, Jakarta menatap 20 besar Kota Global. Sekaligus sebagai kado indah untuk warga, di saat Jakarta tepat berusia 500 tahun.