Oleh Pemimpin Redaksi Arasvara Sutiyono

PENYAKIT infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus influenza kini mulai mewabah di Indonesia. Penyakit yang populer dengan sebutan super flu ini, sudah ditemukan di 20 provinsi.

Khusus di Jakarta, sejak tahun 2025 hingga pertengahan 2026 setidaknya sudah ada 41 kasus super flu.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat periode September 2026, super flu banyak ditemukan di Jakarta , Jateng, dan Papua.

Penyebab utama super flu di antaranya adanya mutasi genetik virus, penularan cepat melalui droplet, dan kontak terkontaminasi.

Mutasi genetik virus yaitu perubahan pada struktur genetik strain virus flu membuat lebih efektif menginfeksi sel saluran pernapasan.

Penularan cepat melalui droplet, bahwa virus menyebar dengan sangat mudah dari satu orang ke orang lain via percikan air liur.

Kontak terkontaminasi yakni menyentuh benda yang terpapar virus lalu memegang area wajah tanpa terlebih dahulu mencuci tangan.

Adapun kelompok yang rentan terhadap super flu yakni anak-anak (balita), lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis (komorbid).

Super flu secara medis memang tidak seganas Covid-19. Tetapi bila menganggap remeh penyakit ini akibatnya juga bisa fatal.

Super flu muncul mendadak dan jauh lebih intens. Dampak terhadap kesehatan, bahwa super flu mengakibatkan demam tinggi ekstrem, kelelahan ekstrem, gangguan pernapasan berat, nyeri otot dan sendi hebat, serta lainnya.

Page Break

Mulai mewabahnya super flu patut diwaspadai semua pihak Publik maupun pemangku jabatan wajib mengantisipasi.

Publik janganlah panik, tetapi tidak boleh lengah. Imbauan klasik, terapkan pola hidup bersih dan sehat.

Langkah sederhana seperti mencuci tangan menggunakan sabun, menerapkan etika bila batuk, menjaga asupan makan, memakai masker, dan antisipasi lainnya tentu sangat penting untuk mencegah penularan super flu.

Bagi pemerintah baik pusat atau pemerintah daerah sebaiknya lebih gencar melakuian sosialiasi seputar super flu. Pastikan pelayanan kesehatan lebih optimal.

Chico Hakim, staf khusus Gubernur Pramono Anung Wibowo, dalam beberapa kesempatan tidak menampik super flu telah ditemukan di Jakarta.

Merujuk rilis Kemenkes RI, super flu bukanlah virus baru, tetapi bagian dari influenza musiman yang bermutasi.

Mengantisipasi penyebaran super flu, kata Chico, Pemprov DKI Jakarta telah melakukan pemantauan tingkat tinggi di puskesmas-puskesmas dan menyiapkan rumah sakit rujukan.

Selain itu, seluruh fasilitas pelayanan kesehatan di Jakarta meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala influenza. Penanganan ISPA dan pneumonia juga diperketat.

Boleh saja Pemprov DKI Jakarta menerapkan penanganan standar tinggi terhadap super flu. Publik pun mengapresiasi sikap sigap itu.

Hanya saja terhadap vaksin influenza yang belum termasuk ke dalam daftar program imunisasi pemerintah pusat, ini menjadi masalah. Artinya masyarakat bila membutuhkan vaksin influenza harus membayar mandiri.

Vaksin influenza tidak gratis. Sebab, sejauh ini , belum termasuk ke dalam daftar imunisasi program nasional yang disubsidi atau digratiskan oleh pemerintah.

Page Break

Super flu sudah mulai mewabah. Meningkatkan kewaspadaan dan memantau tingkat tinggi adalah sebuah keharusan bagi siapapun.

Fakta super flu mulai mewabah, tak ada salahnya kini saatnnya vaksin influenza dimasukkan ke dalam daftar imunisasi program nasional, sehingga warga yang membutuhkan bisa gratis.

Halo vaksin influenza. Janganlah menjauh ketika warga berkantong tipis membutuhkan. (Sutiyono)