ARASVARA.ID - Siang itu sekitar pukul 13:30 WIB, tepatnya Selasa (1/9/2026), di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, terasa panas menyengat dibandingkan dengan hari biasa.

Saat itu panas menyengat disertai dengan bertebarannya debu yang terbawa angin kecil, sungguh tidak nyaman.

Warga yang beraktivitas di kawasan itu, terutama mereka pengendara roda dua mengeluh. Macet, panas menyengat plus kualitas udara yang jelek sungguh menyiksa.

Ojek online (Ojol), Rohmat, saat pas berhenti karena lampu lalu lintas sedang merah tampak bolak-balik menyeka wajah yang kotor terbalur debu dan basah oleh keringat.

Hari itu kualitas udara Jakarta memang sedang tidak baik-baik saja. Selain panas menyengat, di lima wilayah kota ini juga sedang polusi udara.

Indeks kualitas udara di Jakarta pada Selasa (1/9/2026), terutama di Cilandak dan Pasar Minggu di atas 100. Angka itu menunjukkan kualitas udara Jakarta sedang tidak baik-baik saja alias tidak sehat.

Belakangan ini Jakarta sering diselimuti polusi udara. Malah pada Kamis (20/8/2026), kualitas udara Jakarta terburuk kedua di dunia. Kondisi ini terpantau dari situs AQI (Air Quality Index) yang mencapai angka 161.

Soal kualitas udara sifatnya memang fluktuatif. Tetapi sejak Juni, Juli dan Agustus 2026, polusi udara rajin menyelimuti wilayah Jakarta.

Jeleknya kualitas udara tentu menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan warga terutama yang sedang beraktivitas di jalanan.

Aneka penyakit akibat polusi udara diantaranya ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), asma, bronkitis, kanker paru-paru, dan lainnya.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat terdapat 15,6 juta kasus ISPA secara nasional dari Januari hingga Agustus 2026 terjadi di Indonesia dan Jakarta adalah salah satu wilayah yang paling tinggi kasus ISPA-nya akibat kualitas udara buruk.

Page Break

Tren ISPA di Jakarta pada pertengahan tahun 2026 melonjak tajam. Kondisi ini datang seiring dengan musim kemarau dan pekatnya polusi udara.

Dinas Kesehatan Pemprov DKI Jakarta mencatat akumulasi kasus ISPA bulanan selama musim kemarau berkisar antara 100 ribu sampai 200 ribu. Di setiap puskesmas, ISPA menjadi jenis penyakit dengan jumlah kunjungan tertinggi.

Menyikapi jeleknya kualitas udara Jakarta, Gubernur Pramono Anung Wibowo tentu tidak tinggal diam.

Mas Pram biasa gubernur dipanggil itu, berupaya mengatasinya. Salah satunya dengan cara modifikasi cuaca alias hujan buatan.

Menerapkan modifikasi cuaca diharapkan bisa menurunkan kadar polusi udara.

Sebagai upaya agar kadar polusi udara menurunkan memang tidak salah. Namun model modifikasi cuaca sifatnya sementara.

Selain bersifat sementara. Strategi itu juga tidak mudah dan menelan biaya yang lumayan gede.

Agar tidak bersifat sementara, Pemprov DKI Jakarta sudah saatnya menerapkan kendaraan yang ramah lingkungan alias gak berasap.

Mas Pram minimal memberlakukan kendaraan yang gak ngasap untuk kendaraan-kendaraan dinas di lingkungan Pemprov DKI Jakarta.

Syukur-syukur bisa berkoordinasi dengan pemerintah pusat agar seluruh kendaraan dinasnya yang keluyuran di Jakarta menggunakan kendaraan yang ramah lingkungan.

Mas Pram juga sebaiknya mengganti transportasi publik dengan armada yang ramah lingkungan.

Page Break

Selain itu, Pemprov DKI Jakarta harus menambah ruang terbuka hijau, mengendalikan industri-industri, melarang membakar sampah dan lainya.

Kenapa? Sebab, sumber polusi udara yakni dari transportasi baik umum maupupun pribadi, aktivitas industri, pembakaran sampah, dan lainnya.

Bagi warga untuk mendukung mengatasi polusi udara sering-seringlah menggunakan transportasi umum.

Menghindari dampak buruk terhadap kesehatan tidak ada salahnya bila bepergian atau beraktivitas di luar rumah memakai masker.