Oleh Pemimpin Redaksi Arasvara Sutiyono

SETELAH menjadi "raja" transportasi di darat, Transjakarta mulai tahun 2027 hadir di perairan Kepulauan Seribu. Kehadiran kapal-kapal Transjakarta, diklaim Gubernur Pramono Anung untuk menciptakan sistem transportasi antara daratan dan kepulauan yang lebih profesional.

Kepastian hadirnya Transjakarta di air terpotret dari keseriusan para stakeholder (pemangku jabatan). Mereka berkeliling ke pulau-pulau yang ada di Kepulauan Seribu, Sabtu (22/8/2026).

Mengevaluasi sarana dan prasarana teknis serta mengunjungi dari satu dermaga ke dermaga yang lain, mereka juga lakukan secara teliti.

Direksi PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) dan jajaran Dinas Perhubungan Pemprov DKI Jakarta memeriksa satu persatu fasilitas pelabuhan yang ada di Kepulauan Seribu.

Berkelilingnya para stakeholder itu, tidak lain bagian menyusun rencana revitalisasi dan integrasi termasuk mengevaluasi armada kapal-kapal milik Dinas Pemprov DKI Jakarta. Tujuannya demi meningkatkan standar keselamatan.

Kehadiran Transjakarta Air menyedot perhatian publik. Mereka baik warga Kepulauan Seribu yang sering disebut "Orang Pulo" maupun pelancong (wisatawan), berharap pelayanan transportasi air lebih baik.

Jumlah penduduk Kepulauan Seribu tercatat di Dinas Kependudukan Pemprov DKI Jakarta sebanyak 30.334 jiwa. Aktivitas warga tentu saja sering di air.

Penduduk-penduduk Kepulauan Seribu tinggal dan menyebar di 11 pulau dari total 113 pulau yang ada.

Sebaran warga itu seperti di Pulau Pramuka, Pulau Tidung, Pulau Panggang, Pulau Kelapa, Pulau Harapan, Pulau Pari, Pulau Untung Jawa.

Warga Kepulauan Seribu beraktivitas dari air ke darat menggunakan kapal. Mereka dilayani kapal-kapal milik Dinas Perhubungan Pemprov DKI Jakarta, kapal tradisional milik masyarakat dan kapal milik swasta (perusahaan swasta lokal).

Page Break

Jam operasional kapal umumnya pagi pukul 07:30 hingga pukul 08:30. Ini untuk jam keberangkatan dari Jakarta ke Kepulauan Seribu.

Sementara itu, untuk kapal arus balik jam operasional mulai pukul 13:00 hingga pukul 14: 00.

Kapal-kapal itu berangkat dari Pelabuhan Kali Adem/Muara Angke bagi yang naik kapal tradisional atau Marina Ancol bagi yang menggunakan speedboat.

Selain "Orang Pulo", kapal-kapal yang beroperasi di Kepulauan Seribu juga melayani wisatawan. Baik wisatawan lokal maupun turis mancanegara.

Sesuai dengan data Pemprov DKI Jakarta, jumlah kunjungan wisatawan ke Kepulauan Seribu pada tahun 2025 saja mencapai 398.519 orang.

Mencermati geliat aktivitas "Orang Pulo" dan tingginya kunjungan wisatawan, kehadiran Transjakarta Air bisa menjadi kado bagi Kepulauan Seribu di tahun 2027 dan Jakarta yang pada tahun 2027 tepat berusia lima abad alias 500 tahun.

Kehadiran Transjakarta Air diharapkan bisa melayani warga secara profesional.

Apalagi seluruh transportasi laut dan kapal penyeberangan ke Kepulauan Seribu diintegrasikan oleh Transjakarta. Kapal penyeberangan dikelola secara profesional, terintegrasi dengan moda darat dan memberikan kepastian jadwal.

Bukan itu saja, warga dan wisatawan juga tentunya berharap ongkos Transjakarta Air terjangkau kantong atau murah. Jangan sampai tarif Transjakarta Air malah lebih mahal.

Transjakarta menyentuh Kepulauan Seribu sudah seharusnya dilakukan Pemprov DKI Jakarta. Kebijakan ini bisa disebut upaya menyatukan pelayanan transportasi bagi warga yang ada di darat dan di Kepulauan Seribu.

Bila Transjakarta di darat disubsidi Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) sudah seharusnya Transjakarta Air juga mendapat subsidi, sehingga ongkos bisa murah. Ini juga bentuk kebijakan yang berkeadilan.

Page Break

Memuluskan menghadirkan Transjakarta Air, Gubernur Pramono Anung harus rajin sosialisasi baik kepada warga Kepulauan Seribu maupun dengan pemilik kapal tradisional perorangan (masyarakat) atau swasta (perusahaan swasta).

Transjakarta sejauh ini punya pengalaman di darat. Pengalaman itu tentunya bisa diterapkan di laut dengan merangkul semua pihak sehingga tidak bergejolak.

Andai Transjakarta Air beroperasi, selain membantu "Orang Pulo" mendapatkan transportasi murah, juga bisa mendongkrak jumlah wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkunjung ke Kepulauan Seribu.